| |

”Sebaiknya para pecandu narkoba segeralah berhenti, sekali lagi
berhenti mengkonsumsi narkoba. Tidak ada satupun seseorang yang
dapat meraih sukses dalam hidup ini apabila kehidupannya
dikendalikan oleh narkoba. Kontrol dan kendalikan hidupmu tanpa
narkoba. Jangan membuat kealalaian yang disengaja, karena
bagaimanapun kalau menjadi pecandu narkoba, maka dalam hidup ini
telah kehilangan segalanya dengan sia-sia”
[Dr. H.
Susilo Bambang Yudhoyono]
-
Di sekitar daerah Haadyai, Muangthai Selatan, pada awal 1979, para
penguasa memergoki satu cara yang sangat keji dalam menyelundupkan
heroin lewat perbatasan, Malaysia. Bayi-bayi diculik atau dibeli
dari orang tuanya – yang tidak menyadari apa maksud sebenarnya si
Pembeli. Bayi tersebut lalu dibunuh, isi perutnya dikeluarkan dan
diisi dengan kantong-kantong heroin. Mayat itu lalu dibawa
menyeberangi perbatasan, laksana bayi yang terlena di buaian
tangan ‘ibu’ tercinta.
Di Hamburg, Jerman, seorang
pemuda sempat menelan ekstasi sebelum terlibat keributan dengan
pacarnya sampai ia nekat menghujamkan samurai ke jantungnya dan
mati konyol
Di Thailand, biaya yang
dikeluarkan oleh pemerintah akibat kecelakaan lalu-lintas di bawah
pengaruh miras mencapai US$ 4 Billion per tahun, yang merupakan 16
% dari APBN atau 2,8 kali dari dana Departemen kesehatan
Masyarakat. Antara tahun 1989 dan 1994 kematian akibat kecelakaan
lalu-lintas (di bawah pengaruh miras) meningkat sampai 170 %; 30 %
tempat tidur di rumah sakit dihuni oleh pasien-pasien akibat
kecelakaan lalu-lintas tersebut di atas.
Di Amerika, penyalahgunaan
Narkotika sudah merupakan penyakit endemik dalam masyarakat
modern.
Dikemukakan bahwa 1 di antara 11 orang dewasa Amerika adalah
pecandu narkotika berat; sementara di kalangan remaja adalah 1 di
antara 6 orang. Cedera, cacat, hingga kematian akibat
penyalahgunaan narkotika adalah hal yang sia-sia yang disebabkan
karena over dosis, tindak kekerasan dan kecelakaan (terutama
kecelakaan lalu lintas)
Di Republik Indonesia,
Peredaran Gelap dan penyalahgunaan Narkoba semakin mengerikan.
Prevalensi Penyalahguna Narkoba saat ini sudah mencapai 3.256.000
jiwa dengan estimasi 1,5 % penduduk Indonesia
adalah penyalahguna Narkoba. Maraknya peredaran Narkoba di
Indonesia merugikan keuangan negara sebesar Rp 12 triliun setiap
tahunnya. Data yang diperoleh dari BNN (Badan Narkotika
Nasional) menyebutkan, setiap tahunnya 15.000 orang meninggal
akibat penyalahgunaan Narkoba. Dari jumlah tersebut, dapat diambil
kesimpulan bahwa 40 nyawa perhari harus melayang akibat Narkoba.
Operasi Nila
Rencong yang digelar khusus Oleh BNN di wilayah Aceh setahun
terakhir ini menorehkan hasil yang membelalakkan mata. Total berat
pohon dan bibit ganja yang ditemukan di areal hutan dan pegunungan
bermedan berat di ujung barat provinsi Indonesia tersebut tercatat
sebesar 373,245 ton. Berat total yang setara dengan berat 6 ribu
pria dewasa yang bila semuanya didudukkan dapat memenuhi 8
lapangan sepakbola!.
Menurut ketua BNN, Jenderal Polisi Drs.
Sutanto, tentang penggerebekan sebuah pabrik pembuatan ekstasi,
“Dengan berbagai alat, seperti cooling reactor, rotary
evaporator (penguap), penjernih air, mesin pencampur, mesin
penghancur, pressing machine, dan berbagai alat pencetak,
pil yang tercetak dalam satu menit mencapai 840 tablet (satu jam
50.400 butir). Jika dihitung dengan jam kerja sehari lima jam dan
seminggu lima hari serta sebulan tiga minggu, berarti satu hari
bisa mencetak 251.000 butir pil, seminggu 1.260.000 butir, sebulan
3.780.000 butir dan setahun 45.360.000 butir. “itu baru kemampuan
satu set mesin saja, sedangkan ada dua mesin. Berapa besar
peredaran ekstasi di tanah air”, ujar Sutanto. Baru-baru ini,
yakni pada bulan November 2007, aparat kepolisian berhasil
membongkar sebuah jaringan narkoba dengan barang bukti terbanyak
sepanjang sejarah di Republik indonesia; jutaan butir ekstasi!
Beberapa tahun yang lalu penyair kawakan,
Taufik Ismail, mengaku pernah dibuat tak bisa tidur dua hari
dua malam. Matanya terus melek, pikirannya kalut karena dihantui
kegetiran yang luar biasa. Seperti dikutip Kompas Cyber Media (KCM),
hal itu dialaminya setelah ia mewawancarai tiga puluh remaja
laki-laki dan perempuan di sebuah panti rehabilitasi Narkoba di
Jakarta. “Setelah ngobrol dan mendengar cerita mereka, saya tidak
bisa tidur dua hari berturut-turut. Saya benar-benar merinding
mendengarnya. Saya berpikir, sudah sangat luarbiasa kerusakan
bangsa ini. Kemana pun saya pergi, apakah itu di kota besar, kecil,
tepi pantai, saya melihat mayat-mayat berdiri. Mereka adalah
korban dari ekstasi, marijuana dan Shabu-shabu”
Janda Kholinah (bukan nama yang sebenarnya),
berusia 47 tahun, yang sehari-hari berprofesi sebagai seorang
pedagang nasi goreng. Menghadapi putranya, Adiansyah (bukan nama
yang sebenarnya) berusia 23 tahun, terjerat Narkoba sejak di
bangku SMP. Kholinah tidak mudah menyerah. Dirinya berupaya agar
anaknya dapat sembuh dan bebas dari barang haram meski berkorban
harta habishabisan. “Saya rela berbuat apa saja supaya anak saya
bisa sembuh”, ungkapnya. Derita Kholinah memang berkepanjangan.
Pada tahun 2000-an suaminya meninggal akibat Stroke yang makin
parah karena memikirkan Adian yang kecanduan Narkoba. Belum lagi,
karena perhatian total Kholinah diberikan kepada Adian, putra
sulungnya, Ardana (bukan nama yang sebenarnya) berusia 25 tahun,
tiba-tiba menjadi pemuda yang mengurung diri di kamar dan tidak
mau bekerja lagi. “dia Stres dan saya bawa berobat meski dengan
uang pas-pasan”, kata Kholinah. Perilaku pemakai Narkoba memang
selalu berusaha untuk memegang uang untuk sakau. “jika tak
diberi uang saya bisa dihajar habishabisan. Pernah saya diseret
dari rumah tetangga dimintai uang. Duh Gusti..”, ujarnya sedih.
Agustus tahun lalu, Adian menganiaya ibu kandungnya karena
dimintai uang sebesar Rp 25 ribu tidak mau memberi. “sejak bangun
tidur saya pasrah. Saya benar-benar tidak punya uang. Jadi mau
diapain saja pasrah”, uangkapnya. Namun tetangganya merasa tidak
tega terhadap Kholinah dan ingin membuat Adian jera. Akhirnya
Adian dilaporkan kepada pihak aparat keamanan dan diamankan.
KPP menyebutkan bahwa 3 % dari total pecandu di Indonesia
adalah perempuan. Jika merujuk pada hasil penelitian BNN yang
menyebutkan 1,5 % dari total penduduk Indonesia adalah
Penyalahguna Narkoba, berarti kurang lebih ada sekitar 120.000
perempuan di Indonesia yang menjadi Penyalahguna Narkoba.
Bayangkan apabila semua perempuan tersebut adalah ibu-ibu yang
memiliki rata-rata dua orang anak maka akan terdapat 240 ribu anak
yang terlantar karena ibunya tidak berdaya dan terjerat oleh setan
Narkoba. Atau kalaupun semua perempuan itu belum berkeluarga, maka
malapetaka sudah menunggu mereka dan anak-anak mereka kelak.
Apalagi bila perempuan tersebut adalah pengguna Narkoba jarum
suntik, maka HIV/AIDS, Hepatitis, dan berbagai penyakit berbahaya
lainnya sudah membayangi dan cenderung menular ke anak-anak mereka
Dari berbagai data dan informasi yang ada di BNP (Badan
Narkotika Propinsi) DKI, diketahui bahwa wilayah penyebaran,
penyalahgunaan, dan peredaran gelap Narkoba telah merambah ke
berbagai tempat pendidikan dari SD, SMP, SMU, hingga perguruan
tinggi. Maraknya aksi-aksi kekerasan seperti perusakan, pemerasan,
penganiayaan hingga tawuran yang dilakukan oleh pelajar, salah
satu penyebabnya adalah penyalahgunaan Narkoba. Untuk itu, menurut
Fauzi Bowo, para pelajar, orang tua serta guru perlu
mendapatkan pembekalan dan pengetahuan tentang bahaya Narkoba dan
akibat-akibat yang ditimbulkannya. Lebih jauh lagi, kita harus
meningkatkan kesadaran dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan,
serta pengetahuan yang memadai tentang pola hidup sehat.
“Dulu saya seorang pemakai narkoba berat” tutur Jefri Al-Buchary
atau sebutan akrabnya UJ. ”Mengulas kehidupan saya kalau
diceritakan sangat pahit dan memang ini sudah menjadi jalan saya”
ungkapnya. Kata UJ, narkoba itu seperti duri yang bernyawa, jika
sudah masuk ke dalam diri kita maka perlahan-lahan duri itu akan
menusuk-nusuk diri kita dari dalam, yah.. akhirnya hanya diri
sendiri yang merasakan bagaimana sakitnya, tersiksanya bahkan
sampai ajal mendekati kita”
Testimoni Bunda Iffet: ”hati saya trenyuh melihat efek
jahat narkoba pada anak saya” (Bimbim Slank). Slank, Band
besar yang telah mengukir banyak prestasi di kancah musik
Indonesia adalah salah satu ikon yang mempunyai fans fanatik
terbesar di negeri ini. Eksistensinya di dunia musik tak diragukan
lagi. Seiring perjalanan waktu, grup band yang telah dua kali
bongkar pasang personil, ternyata tak lepas dari lika-liku
problematika seputar narkoba. Namun berkat perjuangan serta tangan
dingin bunda Iffet, akhirnya band ini mampu lepas dari masalah
ketergantungan narkoba. Setelah benar-benar pulih dan bersih dari
narkoba, Band ini menguatkan tekadnya untuk berperang melawan
narkoba, serta mengajak orang dan fansnya agar tidak
menggantungkan hidupnya pada narkoba. Harus diakui, mereka adalah
legenda musik tanah air yang bisa memberi contoh positif dan dapat
menjadi inspirasi bagi banyak orang. ”Sekarang bukan jamannya lagi
slogan ”Say no to Drugs”, tapi ”Fight Against Drugs”, jangan hanya
bilang tidak tapi perangi narkoba. Kami hanya memberikan contoh
pada para slankers agar tidak make narkoba. Kita ingin sampaikan,
tanpa narkoba kita punya stamina yang kuat dan bisa berkarya.
Sejauh ini, memang kami tidak punya album khusus tentang narkoba,
namun kita punya banyak lagu yang bertemakan itu.” tegas Bimbim
ketika dimintai komentarnya pada Pentas Musik Akbar di Ancol
17 Juni 2007 dalam rangkaian HANI.
Dalam seminggu, Capt. H. Kaharuddin bisa menghabiskan Rp 16
juta untuk membeli shabu. Dalam kurun waktu tersebut Kahar tetap
melaksanakan tugasnya di kantor yakni di Barito sebagai kepala
pelayaran. Lama-kelamaan produktifitasnya menurun; Kahar bahkan
hanya mampu mengandalkan anak buahnya untuk bekerja. Pernah pada
saat rapat dengan bos perusahaannya dari Korea ia tertidur sampai
rapat berakhir. Efek jahat shabu pada tubuhnya sudah mulai parah.
Badannya seakan tidak punya tenaga untuk beraktifitas, ia bisa
menghabiskan sehari penuh untuk tidur sehingga kerjaannya pun
terbengkalai. Badannya kurus karena tidak ingat makan, otaknya
lemah. Bahkan karena saking seringnya tertidur ia sudah lupa akan
waktu dan hari. Akibatnya Kahar jadi bulan-bulanan penipuan oleh
teman dan anak buahnya. Barang-barang di rumahnya ia jual dengan
harga murah tanpa sadar. Mobil limosinnya hanya dijual dengan
harga 100 juta. ”hidup saya sudah pasrah, mau makan atau tidak kek
terserah,” kenang Kahar pada saat kecanduannya akan narkoba masih
merongrong walaupun harta ludes tak tersisa. Teman dan keluarga
menjauh. Saat ini ia sudah banyak menyadarkan orang di Ternate,
terutama kaum muda. ”dengan cerita saya ini, saya ingin pembaca (majalah)
SADAR jangan pernah coba-coba pakai narkoba. Untuk yang masih
make, sebenarnya harga diri mereka akan hilang karena menjadi
bodoh, lebih bodoh dari binatang. Sebodoh-bodohnya binatang lebih
bodoh lagi orang yang make shabu. Kedua, mereka tidak
menyadari akibatnya nanti. Syukur kalau dia mati, tapi kalau tidak?
Bisa Gila. Seperti saya ini yang sudah mengalami akibatnya. Saya
juga berharap mudahmudahan dengan membaca kisah saya ini ada lima
bandar saja yang sadar, sehingga beribu-ribu manusia bisa selamat
dari narkoba”
Seorang bapak, sebut saja Budi Ardjanto (bukan nama sebenarnya),
tiba-tiba menangis tersedu-sedu sambil bercerita. Putra keduanya
terpaksa meninggal dunia pada waktu kelas dua SMP karena narkoba.
Dirinya sempat tidak mengetahui pada awalnya karena puteranya
tinggal bersama sang nenek di daerah Jakarta Pusat sementara
dirinya tinggal di wilayah Tangerang. Dalam pengakuan sedihnya
Budi bercerita, dirinya telah habis-habisan harta bendanya mulai
dari mobil, rumah, dan isinya telah amblas semua dengan harapan
besar putranya dapat sembuh. Namun kenyataannya dia harus
meninggal dalam usia muda.
Irwanto Ph. D, pendiri kios Narkoba Atmajaya : ”Adik saya
pemakai narkoba sejak SMP. Padahal bukan di kota besar tapi di
kota kecil yang namanya Purwodadi, Grobogan. Kecil sekali, di
sebelah timur Semarang. Dia makai ganja, pil dan segala macam
sampai dia dikeluarkan dari sekolah. Saya dan keluarga sangat
menderita waktu itu. Karena adik saya ini adalah adik yang kita
sayangi. Pandai sekali tapi punya masalah. Bertahun-tahun seperti
itu terus-menerus. Sampai saya lulus kuliah pun, adik saya masih
terlunta-lunta. Sejak saat itulah saya mulai terjun ke Bersama,
mulai jadi relawan untuk mengurusi masalah ini. Kemudian adik saya
mulai sembuh, lalu saya tinggalkan dia ke Amerika karena saya
dapat beasiswa Full Bright, tapi saya tetap ambil bidang
narkoba. Master saya bidang narkotik, doktor saya juga bidang
narkotik. Balik ke Jakarta rupanya adik saya punya masalah lagi.
Di keluarganya ada masalah dan dia balik lagi ke narkoba. Adik
saya mulai minum lagi, ngobat lagi segala macam sampai akhirnya ia
meninggal dunia tahun 1993 karena over dosis. Tapi kelihatannya
dia mengoverdosiskan dirinya sendiri, dia bunuh diri. Begitu tahu
dia meninggal bunuh diri, saya sangat frustasi, kecewa dengan diri
sendiri, menyalahkan diri sendiri karena saya doktor yang
mempelajari hal itu tetapi tidak bisa membantu adik saya sendiri.
Saya dihantui perasaan bersalah, dunia narkotik sudah mau saya
tinggalin. Sampai sekitar tahun 96-97 orang mulai ramai
membicarakan itu, dan saya sudah mulai damai dengan diri saya
sendiri, akhirnya saya berkata dalam hati, ”Kalau adikku tidak
bisa aku tolong mungkin aku bisa menolong orang lain. Mulailah
saya jadi relawan lagi”.
Seorang korban Narkoba, Fandy (bukan nama yang sebenarnya), mantan
seorang Bandar besar Narkoba. “Saya dulu bergelimangan harta
dengan berjualan Narkoba secara gelap. Mau beli apa saja saya bisa
sehingga rasanya hidup tidak pernah susah dan banyak teman”,
ungkapnya berbagi cerita. Fandy juga pemakai jenis Narkoba yang
menggunakan suntikan dan sering bergantian dengan temantemannya di
kampus tanpa menyadari bahaya maut yang bisa mengancamnya. Bisnis
barang haram akhirnya menjadi pukulan berat bagi dirinya karena
setelah melakukan tes dirinya dinyatakan positif dan harus
menjalani perawatan medis. “Saya kaget dan tidak menyangka. Ini
akibat nyutik bergantian dengan teman-teman. Korban AIDS
kebanyakan dominan pecandu Narkoba. Sekarang ini, saya sudah tiga
tahun lamanya harus minum obat secara rutin pagi dan sore hari,
dan tidak boleh kelewat”, ungkapnya. Menurut pengakuan Fandy,
setiap bulan dirinya harus menyediakan uang sebesar 9 jutauntuk
membeli obat. Bukan berarti bisa sembuh. HIV/AIDS belum ada
obatnya. Dari 30 temannya dulu di kampus yang sering nyutik
tinggal tiga orang yang masih hidup termasuk dirinya. “teman-teman
yang lain sudah pada meninggal semua. Kini saya berjuang dalam
hidup bersama AIDS yang belum ada obat yang dapat menyembuhkannya”,
ungkapnya sedih. Penderita korban infeksi virus HIV/AIDS sebagian
akibat memakai Narkoba terutama menggunakan jarum suntik yang
tidak steril selain akibat seks bebas dan sebagainya.
Seorang ibu yang mengikuti persidangan anaknya karena terlibat
narkoba sempat mengungkapkankenyataan pahit yang tengah
diterimanya. Dirinya mengetahui putranya sebagai pemakai setelah
petugas polisi memberitahukan putranya ditangkap petugas anti
narkoba. Dirinya hampir tidak percaya. Namun fakta berbicara lain.
Sebab, si anak di rumah berlaku baik dan tidak macam-macam dan
bahkan setiap kali si ibu membersihkan kamar dan tas sekolahnya
tidak menunjukkan tanda-tanda sang anak termasuk pemakai.
Kepedihan mendalam itu membuahkan peringatan. ”Saat itu, saya
memohon kepada aparat penegak hukum supaya bertindak tegas
memberantas jaringan narkoba di tanah air. Para pengedar yang
masih leluasa berkeliaran di masyarakat juga di lingkungan sekolah
agar segera ditindak karena merekalah anak saya terpaksa masuk bui”
Dalam sebuah artikel berjudul “Narkoba Mempengaruhi kerja otak”,
dr. Lidya H Martono, SKM dan dr. Satya Joewana, SPKJ,
mengakhiri ulasannya dengan, ”Perasaan Nikmat, rasa nyaman, tenang
atau rasa gembira yang dicari mula-mula oleh pemakai Narkoba,
harus dibayar sangat mahal oleh dampak buruknya, seperti
ketergantungan, kerusakan berbagai organ tubuh, berbagai macam
penyakit, rusaknya hubungan dengan keluarga dan teman-teman,
rongrongan bahkan kebangkrutan keuangan, rusaknya kehidupan moral,
putus sekolah, pengangguran serta hancurnya masa depan dirinya”
Gara-gara hobi mabuknya itu, saat kelas 1 SMA, nilai rapor
Novri merah semua. Itu pun terus berlanjut, hingga kuliahnya
putus di tengah jalan. ”Yah, gimana mau kuliah, duitnya saya pakai
untuk mabuk,” ungkapnya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang
botak. Saat itu, Novri tidak dapat mengontrol diri dari kemarahan.
Emosinya juga sangat tidak terkendali hingga ia memutuskan
hengkang dari kampus. Cita-cita pun melayang. Ia terus berusaha,
bagaimana cara membeli barang haram, padahal tidak ada sama sekali
uang di tangannya. Novri juga berkisah mengenai kakak angkatnya,
yang tinggal serumah dan juga pernah menderita ketergantungan obat.
Namun kakaknya itu berhasil pulih, setelah mengikuti program di
sebuah pusat rehabilitasi. ”kakak saya itu sering banget nasihatin
dan cerita gimana rasa capeknya dan sering tersiksa gara-gara
narkoba, ”ujar Novri. Kedua orang tuanya pun tidak bosanbosannya
menasihati, namun saat diberitahu dengan nada tinggi, Novri justru
marah dan gusar. Tak satu pun nasihat didengarnya, yang ada di
kepalanya saat itu adalah bagaimana cara agar terus punya uang dan
kembali menikmati barang haram tersebut. ”nggak tahan kalau lagi
sakau. Sakitnya dari ujung kaki sampai kepala, badan pegal,
seperti terserang flu tulang dan tenggorokan kadang sakit,” tutur
Novri panjang lebar. Akhirnya, untuk dapat terus mengkonsumsi
narkoba, Novri ikut mengedarkan. Dia berharap pengalaman hidupnya
dapat menjadi pelajaran bagi generasi muda agar jangan sekali pun
terjerat narkoba, karena saat ingin terlepas akan mengalami
fase-fase teramat sulit. Bercermin dari masa lalunya yang kelam,
saat ini Novri mendampingi dan membantu korban-korban
ketergantungan narkoba di pusat rehabilitasi Rumah Sakinah.
Menurutnya, pekerjaan sebagai manajer program di pusat
rehabilitasi Rumah Sakinah adalah sebuah pengabdian untuk menebus
dosa-dosanya.
Sekjen Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait,
mengatakan, ”Sindikat Narkoba incar Anakanak. Fakta menunjukkan
saat ini banyak anak-anak yang terjerembab dalam lembah narkoba.
Keterlibatan anak-anak tidak hanya sebagai pemakai, banyak di
antaranya membantu bandar-bandar narkoba untuk mengedarkan narkoba.
Dibandingkan menjebak orang dewasa, yang terhitung sulit,
anak-anak kerap kali menjadi sasaran empuk para bandar narkoba.
Bandar-bandar narkoba memiliki seribu akal bulus untuk menggaet
anak-anak agar mau mencoba narkoba.
Dari sekian banyaknya penduduk dunia yang sudah menjadi korban,
tercatat tidak kurang dari 4 juta jiwa umat manusia di Republik
Indonesia tercinta ini terjerumus menjadi korban narkoba. Kita
memangtidak pernah berharap jumlah tersebut akan bertambah. Akan
tetapi, kenyataan terbukti lain. Jumlah korban bertambah banyak,
jumlah pengedar bertambah besar dan berkembang, yang sepertinya
sulit untuk dibendung. Yang mengkhawatirkan, menurut informasi
terakhir sebagaimana banyak diberitakan baik di media cetak maupun
media elektronik, Indonesia sekarang ini banyak diserbu oleh
sindikat narkoba internasional. Oleh karena itu tantangan yang
akan kita hadapi pada masa-masa mendatang, otomatis bertambah
berat. Hal ini pun akan meminta perhatian yang lebih serius lagi
bagi segenap warga Negara Kathulistiwa ini, dalam rangka
menyelamatkan kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagaimana telah
diamanatkan oleh para pejuang serta pendiri Republik ini. Kita
harus merapatkan barisan, kita harus satukan tekad sambil
mengevaluasi serta instropeksi diri terhadap langkah kita selama
ini : apa yan telah kita lakukan, apa yang harus kita lakukan,
apakah yang telah kita lakukan itu sudah maksimal atau belum,
apakah kata hati nurani kita sudah sesuai dengan perbuatan kita,
serta banyak lagi hal yang perlu kita renungi bersama. Tanpa
adanya penerapan nilai Agama mustahil rasanya masalah
penyalahgunaan narkoba dan sejenisnya dapat dibasmi. Kita
perlu manusiamanusia yang sehat jasmani dan rohani sebagai pejuang
yang akan membebaskan bangsa ini dari penyalahgunaan barang haram
tersebut, sekaligus diharapkan akan melahirkan manusia-manusia
sehat jasmani dan rohani lainnya. Usaha kita harus maksimal. Hati
dan pikiran harus benar-benar bersih. Kalau sudah demikian,
serahkan segala sesuatunya kepada Tuhan Sang Pencipta.
|
|
|