| |

1. Kurangnya pemahaman, pengkhayatan, dan pengamalan
Agama.
Agama mengajarkan pola hidup sehat, memberikan
solusi untuk seluruh masalah, menganjurkan untuk menjaga diri sendiri dan lingkungan hidup yang jika dipahami,
dikhayati, dan diamalkan secara sempurna, akan menuntun seseorang menuju hidup bebas Narkoba11.
2. Memiliki keyakinan
Adiktif
Keyakinan adalah hal-hal
yang diyakini seseorang dan dianggap benar, mengenai diri sendiri,
orang lain dan dunia sekitarnya, yang mempengaruhi perasaan dan
perilakunya sehari-hari. Keyakinan Adiktif adalah keyakinan yang
menjadikan orang itu rentan terhadap kecanduan Narkoba. Misalnya :
-
Saya harus sempurna dan tampil
sempurna
-
Saya harus menguasai dan
mengendalikan orang lain
-
Saya harus memperoleh apa yang
saya inginkan
-
Hidup harus bebas dari rasa
sakit atau penderitaan
-
Saya ingin segalanya terjadi
sesuai keinginan saya
-
Semua orang harus peduli dan
mengerti terhadap saya
-
Saya ingin hidup ini bebas
aturan
Dalam
kenyataan, hal itu tidak mungkin tercapai. Oleh karena itu orang
tersebut lalu mengembangkan keyakinan lain seperti :
-
Saya tidak pernah cukup puas (saya
tidak berharga)
-
Saya tidak mampu mempengaruhi
lingkungan saya
-
Narkoba atau sesuatu lainnya di
luar saya memberi saya kekuatan yang saya inginkan
-
Takut mengakui perasaannya
-
Citra diri dan penampilan
adalah segalanya
3. Kepribadian Adiktif
Kepribadian Adiktif adalah jati diri seseorang,
yaitu pikiran, perasaan dan kemauan yang ditampilkan dalam
perilakunya sehari-hari. Kepribadian yang menunjukkan bahwa orang
itu rentan terhadap kecanduan Narkoba.
Ciri
kepribadian Adiktif, antara lain :
|
Pola pikir Adiktif |
Perasaan Adiktif |
Perilaku Adiktif |
-
Selalu mencari persetujuan dan perhatian orang lain
-
Tidak mampu mengambil keputusan sendiri
-
Tidak mampu mengendalikan emosi
-
Kebutuhan akan ketergantungan pada sesuatu
-
Banyak berkhayal
|
-
Selalu mencari persetujuan dan perhatian orang lain
-
Tidak mampu mengambil keputusan sendiri
-
Tidak mampu mengendalikan emosi
-
Kebutuhan akan ketergantungan pada sesuatu
-
Banyak berkhayal
|
-
Kurang memiliki jati diri
-
Kesulitan berhubungan dengan figure / orang / tokoh yang
berkuasa atau berwenang
-
Cenderung menyalahkan orang lain
-
Kurang mampu mengatasi suatu masalah
-
Kebutuhan akan pemuasan yang bersifat segera
|
4.
Ketidakmampuan menghadapi masalah :
Orang yang
tidak berlatih menghadapi masalah dan menyelesaikannya dengan baik
dan benar cenderung mudah mengalami kebingungan dan frustasi. Ia
lebih suka mencari penyelesaian yang bersifat seketika dan langsung
memuaskannya.
5. Tak
terpenuhinya kebutuhan Emosional, Sosial, & Spiritual :
Setiap
orang membutuhkan perasan diterima oleh lingkungan terdekat terutama
keluarga12, di sekolah dan diantara teman-temannya,
rasa aman, rasa dihargai, dan dicintai.
6. Kurangnya dukungan Sosial
:
Dukungan sosial sangat dibutuhkan seseorang
dalam menghadapi masalah, terutama dukungan dari keluarga, teman
sebaya dan masyarakat.
7. Tidak dapat menghadapi
kenyataan :
Orang harus berlatih untuk dapat menerima
kenyataan akan dirinya sendiri, baik kelebihan maupun kekurangannya.
Juga harus belajar menerima kenyataan lingkungan sekitarnya dan
tidak selalu mencari kambing hitam untuk dipersalahkan sebagai
penyebab kegagalannya. Orang harus mengambil tanggung jawab atas
kehidupannya sendiri.
Lebih
lanjut, di bawah ini akan ditulis beberapa ciri-ciri kepribadian -
terutama pada remaja - yang rentan terhadap penyalahgunaan Narkoba.
-
Perasaan rendah diri (inferiority
complex)
-
Mudah kecewa.
-
Cenderung agresif dan destruktif.
-
Tidak mampu bersabar.
-
Suka
akan sensasi.
-
Mengidap perasaan tertekan, murung, dan tidak mampu menjalankan
fungsi sosial.
-
Cepat bosan.
-
Menderita gangguan psikoseksual, gagal mengembangkan identifikasi
seksual yang tepat. Pemalu, takut mendekati dan didekati oleh
lawan jenis.
-
Menderita keterbelakangan mental.
-
Kurang mempunyai motivasi untuk berprestasi.
-
Prestasi belajar cenderung menurun dan selalu rendah.
-
Kurang / tidak melibatkan diri dalam kegiatan ekstrakurikuler.
-
Cenderung mengidap gangguan jiwa : kecemasan, obsesi, apatis,
depresi, menarik diri dari pergaulan, tidak mampu mengatasi stres,
atau hiperaktif.
-
Cenderung tidak mematuhi peraturan.
-
Cenderung berperilaku menyimpang : melakukan hubungan seksual di
luar nikah, membolos, agresif, anti sosial, mencuri, berbohong,
berbuat kenakalan pada usia sangat dini.
-
Tidak senang berolahraga.
-
Cenderung makan berlebihan.
-
Mempunyai persepsi bahwa keluarganya tidak menyayanginya / tidak
harmonis.
-
Mempunyai kebiasaan merokok sejak usia dini.
-
Suka
bergaul dengan orang-orang yang menjadi pemabuk, penyalahguna
Narkoba, atau pengedar Narkoba.13
-
Suka
berkunjung ke tempat hiburan.
-
Berasal dari dan berada dalam lingkungan keluarga yang kurang
religius14.
note
|
11.
Prof. DR. Zakiah Daradjat dalam bukunya yang berjudul
‘ilmu jiwa Agama’, menulis : “Masalah pokok yang sangat
menonjol dewasa ini, adalah kaburnya nilai-nilai di mata
generasi muda. Mereka dihadapkan kepada berbagai kontradiksi
dan aneka ragam pengalaman moral, yang menyebabkan mereka
bingung untuk memilih mana yang baik untuk mereka. hal ini
nampak jelas pada mereka yang sedang berada pada usia remaja,
terutama pada mereka yang hidup di kota-kota besar Indonesia,
yang mencoba mengembangkan diri ke arah kehidupan yang
disangka maju dan modern, di mana berkecamuk aneka ragam
kebudayaan asing yang masuk seolah-olah tanpa saringan.
Sikap
orang dewasa yang mengejar kemajuan lahiriyah tanpa
mengindahkan nilai-nilai moral yang bersumber kepada agama
yang dianutnya, menyebabkan generasi muda kebingungan bergaul
karena apa yang dipelajarinya di sekolah bertentangan dengan
apa yang dialaminya dalam masyarakat, bahkan mungkin
bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh orang tuanya
sendiri di rumah. Kontradiksi yang terdapat dalam kehidupan
generasi muda itu, menghambat pembinaan moralnya. Karena
pembinaan moral itu terjalin dalam pembinaan pribadinya.
Apabila faktor-faktor dan unsur-unsur yang membina itu
bertentangan antara satu sama lain, maka akan goncanglah jiwa
yang dibina terutama mereka yang sedang mengalami pertumbuhan
dan perubahan cepat, yaitu pada usia remaja.
Kegoncangan jiwa, akibat kehilangan pegangan itu telah
menimbulkan berbagai ekses, misalnya kenakalan remaja,
penyalahgunaan narkotika, dan sebagainya. Dalam pengalaman
kami menghadapi remaja yang oleh orang tua dan gurunya
dianggap nakal (memang kelakuannya nakal, misalnya tidak mau
belajar, menentang orang tua, mengganggu keamanan, merusak,
dan sebagainya) dan mereka yang telah menjadi korban dari
penyalahgunaan narkotika, terasa sekali bahwa yang terjadi
sebenarnya adalah kegoncangan jiwa akibat tidak adanya
pegangan dalam hidupnya. Nilai-nilai moral yang akan
diambilnya menjadi pegangan, terasa kabur, terutama mereka
yanghidup di kota besar dari keluarga yang kurang mengindahkan
ajaran agama dan tidak memperhatikan pendidikan agama bagi
anakanaknya. Seandainya keadaan ini dibiarkan berjalan dan
berkembang , maka pembangunan bangsa kita akan terganggu,
bahkan mungkin akan gagal. Karena tujuan pembangunan kita
adalah untuk mencapai kesejahteraan hidup yang seimbang antara
kemakmuran lahiriyah dan kebahagiaan batin, atau dengan kata
lain, sifat pembangunan negara kita adalah pembangunan yang
seimbang antara jasmani dan rohani, antara materiil dan
spirituil, antara kehidupan dunia dan akhirat.
Secara nasional bahayanya adalah menghambat tercapainya tujuan
pembangunan dan secara pribadi atau masing-masing anggota
masyarakat, mereka akan kehilangan kebahagiaan. Coba bayangkan,
bagaimana perasaan orang tua, ketika melihat anaknya malas
belajar, suka melawan, menentang dan nakal atau terganggu jiwa,
tidakkah mereka akan sedih? Di samping itu remaja sendiri
merasa hari depannya kabur, yang biasa mereka sebut dengan
masa depan yang suram, karena mereka tahu bahwa apa yang yang
terjadi pada diri mereka itu adalah yang merugikan, tapi
mereka tidak mampu mencari jalan keluarnya, lalu mereka
mengatasi perasaan yang tidak menyenangkan itu dengan mencari
obat penenang yaitu mencari narkotika atau kelakuan nakal”.
Berikut ini merupakan kutipan dari buku berjudul Mengenal
penyalahgunaan narkoba yang diterbitkan oleh BNN (2007) :
Mendekatkan diri pada agama adalah tindakan awal yang paling
penting untuk dilakukan. Sebab semua agama melarang umatnya
memakai narkoba. Orang yang pakai narkoba berarti orang yang
anti Tuhan. Maka untuk keluar darinya harus kembali pula pada
ajaran agama. Orang yang terjerumus dalam pemakaian narkoba
pada dasarnya dia telah jauh dari ajaran Tuhan. Maka setan
dengan gampang menggoda. Kalau orang yang punya keimanan tebal,
niscaya setan akan sulit menggodanya. Karena pergaulan, banyak
remaja yang lupa pada ajaran agamanya. Asik bermain hingga
malas beribadah, apalagi berteman dengan orang-orang yang juga
tidak peduli soal agama. Maka, remaja dengan sifatnya yang
gampang terpengaruh, tentu akan mudah terikut kegiatan
temannya. Agama adalah filter segala kejahatan. Dengan terus
mengingat Tuhan, diri akan semakin bersih.
Dr.
Seto Mulyadi Psi, Msi, Ketua Komnas Perlindungan Anak,
mengatakan : Dalam undang-undang RI No. 23/2002 tentang
perlindungan anak dinyatakan dengan tegas bahwa anak adalah
amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya
melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Hak
anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin,
dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat,
pemerintah dan negara. Salah satu hak dasar anak adalah hak
untuk memperoleh perlindungan, yang diantaranya adalah
perlindungan dari berbagai pengaruh buruk narkoba yang
akibatnya akan merusak tumbuh kembang putra-putri terbaik
bangsa sejak masih anak-anak dan remaja. – tambahan dari
penyusun
1 2.
Dr. A. Supratiknya menulis dalam
bukunya yang berjudul ‘Mengenal Perilaku Abnormal’ : “yang
dimaksud dengan hubungan orang tua – Anak yang patogenik
adalah hubungan tidak serasi, dalam hal ini antara orang tua
dan anak, yang berakibat menimbulkan masalah atau gangguan
tertentu pada anak. Menurut Coleman, Butcher dan Carson
(1980), ada tujuh macam pola hubungan orang tua – anak yang
patogenik :
-
Penolakan. Bentuk-bentuknya
antara lain : menelantarkan secara fisik, tidak menunjukkan
cinta dan kasih sayang, tak menunjukkan perhatian pada minat
dan prestasi anak, menghukum secara kejam dan
sewenang-wenang, tak meluangkan waktu bersama anak, tak
menghargai hak dan perasaan anak; memperlakukan atau
menyiksa anak secara kejam.
-
Overproteksi dan sikap serba
mengekang. Bentuknya antara lain mengawasi anak secara
berlebihan, melindunginya dari segala risiko, menyediakan
berbagai kemudahan hidup secara berlebihan, mengambilkan
segala keputusan bagi anak, menerapkan aturan-aturan yang
ketat, sehingga membatasi otonomi dan kebebasan anak.
-
Menuntut secara tidak realistik.
Memaksa anak agar memenuhi standar yang sangat tinggi dalam
segala hal, sehingga menimbulkan rasa tak mampu anak.
-
Bersikap terlalu lunak pada anak
(over-permissive) dan memanjakan. Perlakuan ini dapat
menjadikan anak egois, serba menuntut, dan sebagainya.
-
Disiplin yang salah. Artinya,
penanaman disiplin yang terlalu keras atau terlalu longgar
oleh orang tua. Sesungguhnya, yang penting adalah memberikan
rambu-rambu dan bimbingan sehingga anak tahu apa yang
dianggap baik atau buruk serta apa yang diharapkan atau
tidak diharapkan darinya.
-
Komunikasi yang kurang atau
komunikasi yang irasional. Mungkin orang tua terlalu
sibuk sehingga kurang menyediakan kesempatan untuk
berkomunikasi dengan anak. Atau tersedia cukup kesempatan
untuk berkomunikasi, namun pesan-pesan saling
disalahtafsirkan karena disampaikan secara tidak jelas,
dengan cara pesan verbal dan pesan nonverbal saling
bertentangan, atau dari pihak orang tua dengan cara
melecehkan pendapat anak. Situasi komunikasi di mana terjadi
ketidakcocokan antara kata dan perbuatan dalam menyampaikan
suatu pesan oleh Bateson (1960) disebut ‘double bind’ atau
pesan ganda.
-
Teladan buruk dari pihak orang tua.
Orang tua memberikan teladan yang tidak baik kepada anak,
misalnya ayah pemabuk, berperangai buruk, pemarah dan kalau
marah suka mengeluarkan kata-kata kotor, bersifat kejam dan
senang memukul istri (‘wife batterer’) maupun anak;
sedangkan ibu kurang setia menjalankan peran sebagai ibu
rumah tangga, senang keluar rumah, dansebagainya. Semua itu
dapat menjadi persemaian bagus untuk melahirkan anak-anak
yang bermasalah. – tambahan dari Penyusun.
13
Johanes Lim, Ph.D, Menulis
dalam NO PAIN NO GAIN ‘Metode sukses pribadi dalam studi,
karier dan bisnis’ : “Seleksilah teman pergaulan Anda dengan
saksama. Jangan bergaul dengan orang yang tidak punya tujuan
hidup yang jelas, karena cenderung malas, hurahura, dan
pembolos. Lebih baik Anda tidak mempunyai teman daripada
mempunyai teman yang buruk, malas, bodoh, apalagi jahat. Jika
ada teman Anda yang membujuk, atau ‘memanas-manasi’ agar Anda
turut melakukan perbuatan tercela (dan merugikan), misalnya
dengan berkata, “Ayo cobalah merokok dan minum alkohol supaya
kamu nampak dewasa, elit, kosmo, dan tidak kampungan!”
janganlah Anda turuti! Bahkan sekalipun mereka mengata-ngatai
Anda dengan ucapan pedas, seperti “Masak merokok dan minum
saja tidak berani? Apakah kamu Banci?! Jangan Anda gubris
olok-olok mereka, dan segera menjauhlah dari teman-teman
seperti itu, karena berbahaya!
Pertama, jika Anda menuruti tantangan
mereka untuk merokok dan minum alkohol, maka tahap selanjutnya
mereka akan menantang Anda lagi untuk mengganja, lalu minum
pil koplo. Kemudian mungkin mereka akan menjerumuskan Anda
menjadi pecandu heroin. Dan jika Anda tidak punya uang untuk
membiayai rasa ketagihan Anda, maka Anda akan menjadi kriminal,
apakah mencuri, merampok atau menjadi pengedar obat terlarang!
Kedua, reputasi, prestasi, dan masa depan Anda akan hancur
berantakan! Pada waktu itu, menyesal pun sudah percuma, karena
ibaratnya, nasi sudah menjadi bubur! Ketiga, biasanya
teman-teman yang membujuk untuk melakukan perilaku yang buruk
seperti itu adalah orang-orang yang berperilaku negatif,
rendah diri, bodoh, malas, degil, dan jahat, jauhilah mereka!
mereka iri terhadap prestasi dan reputasi Anda. Dan karena
mereka tidak bisa mendapatkannya, mereka pun tidak ingin Anda
memilikinya, dan berupaya menghancurkan masa depan Anda, sama
seperti masa depan mereka yang telah hancur! Saya tegaskan,
hindari pergaulan yang buruk!” – tambahan dari Penyusun.
14.
Dalam bukunya yang berjudul
‘Mengenal Perilaku abnormal’, Dr. A. Sutiknya, menulis
: Struktur keluarga sangat menentukan corak komunikasi yang
berlangsung di antara para anggotanya. Struktur keluarga
tertentu melahirkan pola komunikasi yang kurang sehat, dan
selanjutnya berpengaruh terhadap munculnya gangguan perilaku
pada sebagian anggotanya. Ada setidaknya empat macam struktur
keluarga yang dapat melahirkan gangguan pada para anggotanya :
-
Keluarga tidak becus, yakni keluarga yang tidak
mampu mengatasi problem sehari-hari dalam kehidupan keluarga
karena berbagai macam sebab : tidak memiliki cukup sumber atau
karena orang tua tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan
secukupnya.
-
Keluarga yang antisosial. Yakni keluarga yang
menganut nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai yang
dianut oleh masyarakat luas. Misalnya, orang tua memiliki
kebiasaan berperilaku yang sesungguhnya melanggar hukum,
seperti mencuri aliran listrik dengan cara menggantol, suka
meminjam uang atau barang kepada orang lain dan tidak
mengembalikan, suka mengambil barang-barang yang merupakan
fasilitas umum, dan sebagainya.
-
Keluarga yang tidak akur dan keluarga yang bermasalah.
Dalam keluarga yang tidak akur, ayah dan ibu cekcok melulu.
Dalam keluarga yang bermasalah, salah satu dari kedua orang
tua atau anggota keluarga lainnya berperilaku abnormal. Misal,
ayah atau ibu atau salah seorang anak menderita gangguan
mental tertentu.
-
Keluarga yang tidak utuh, yakni keluarga di mana
ayah atau ibu tidak ada di rumah, entah karena sudah meninggal
atau karena sebab lain, seperti perceraian, ayah memiliki dua
istri, ayah bertugas di kota lain, dan sebagainya. –tambahan
dari penyusun
|
|
|
|