Petugas penangkapan baru mengetahui masalah
itu setelah penangkapan terhadap beberapa pelanggan sang ayah.
Setelah mengetahui cara kerja sang ayah, polisi mendobrak pintu dan
menangkap sang ayah setelah melalui perjuangan yang kasar. Selama
kejadian itu, sang anak menyaksikannya dengan mata yang terbuka
lebar dan penuh rasa takut. Sekali lagi, ayah maupun anak harus
dibawa ke kantor polisi.
Masalah menjadi lebih buruk. Bukan hanya sang
ayah tidak merasa bersalah, dia malah berusaha untuk memindahkan
kesalahan kepada anaknya! Dia mengaku tidak mengetahui apa yang
anaknya lakukan selama ini. Secara kasar sang ayah menuduh anaknya
berusaha menjerumuskan dia. Sang anak hanya mampu menggelengkan
kepalanya dengan mata yang penuh dengan air. Tetapi kenyataannya
adalah para pelanggan ayahnya telah menunjuk dia sebagai pengedar
mereka.
Saya belumlah menjadi seorang ayah, tapi saya
sudah melihat banyak masa kanak-kanak yang tidak bersalah berada
dalam penganiayaan di dalam keluarga yang berlatar belakang Narkoba.
Pemikiran / konsep perlindungan orang tua terhadap anak-anaknya
menjadi tidak berguna saat kita berhadapan dengan para pengedar dan
pecandu Narkoba yang memiliki anak. Mereka tidak menyadari bahwa
kewajiban mereka bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidup
anak-anaknya.
Para pecandu sering tidak berusaha
menyembunyikan kenyataan bahwa mereka menggunakan Narkoba dari
anak-anak mereka. tidaklah aneh jika menemukan bungkusan ataupun
suntikan heroin bekas pakai di laci maupun lemari pada saat
anak-anak mereka berada di sana.
Kisah menyedihkan lainnya yang pernah saya
alami adalah pada saat melakukan penggerebekan di sebuah rumah susun
di Bedok. Kami menggeledah rumah pengedar narkotik dan menangkap dia
setelah menemukan heroin yang disembunyikan di berbagai tempat. Kami
mengetahui bahwa para pecandu secara teratur akan datang ke sana
untuk membeli narkotik, sehingga kami menunggu di sana untuk
menangkap basah si pecandu yang datang karena tidak dapat menghindar
untuk membeli narkotik.
Kemudian datanglah seorang wanita dengan bayi
dalam gendongannya tiba di pintu itu. Dia terkejut ketika saya
membukakan pintu. Merasa ada yang tidak beres, dia mengembalikan
ketenangannya dan berbalik seperti hendak pergi. Saya segera
menangkap dia dengan tuduhan penggunaan Narkoba. Dia memprotes keras
bahwa dia tidak bersalah dan meminta penjelasan mengapa CNB
menangkap seorang ibu yang tidak berbahaya dan bayinya. Dia mengaku
hendak mengunjungi temannya. Ketika saya bertanya berapa nomor
telepon temannya, dia tidak dapat memberikan saya sebuah nomor pun.
Dia lupa, katanya.
Saya melihat dia membawa uang yang dikepal
erat dalam tangan kirinya dan bertanya apa yang akan dia lakukan
dengan uang itu. Itu adalah uang kertas $ 10 - jumlah yang tepat
untuk membeli selinting heroin. Dia mengaku hendak mengembalikan
uang yang dia pinjam dari temannya. Dari kartu identitasnya
diketahui bahwa dia tinggal di daerah Jurong.
Cerita dia tidaklah mengada-ada.
“maksudmu kamu datang dari Jurong ke Bedok
hanya untuk mengembalikan uang $ 10 kepada temanmu? Dan kamu tidak
mempunyai nomor telepon rumahnya untuk mengecek apakah dia ada di
rumah atau tidak?
Merasa kebohongannya terbongkar, dia berubah
menjadi diam seribu bahasa. Kami menempatkan dia dan bayinya di sofa
menunggu pecandu lainnya datang. Selama dalam penantian, para
petugas berdiam diri untuk menyembunyikan keberadaan mereka.
Itu dapat berarti menangkap basah tersangka
atau kehilangan mereka. tes urin yang positif dapat berarti enam
bulan hingga tujuh tahun di balik jeruji. Bahkan akan lebih lama
lagi bagi para pemakai yang pernah berada dalam pusat rehabilitasi.
Oleh karena itu kami berusaha untuk
benar-benar tidak bersuara. komunikasi dilakukan dengan berbisik dan
gerakan tangan. Tiba-tiba bayi itu menangis dengan sangat keras.
Kami tertegun karena merasa tidak mungkin penyebab tangisan bayi itu
adalah tekanan dari keberadaan kami mendadak di sana ataupun
penangkapan secara keras yang dilakukan terhadap ibunya. Siapa yang
tahu mengapa bayi itu menangis? Mungkin karena dia merasa tidak enak
perut? Atau karena dia merasa capai? Apa pun alasannya, kami
khawatir tangisan bayi yang demikian keras itu akan menimbulkan
kecurigaan para pecandu yang akan mengunjungi rumah itu.
Apa yang saya lihat kemudian benar-benar
mengejutkan saya. Saya memperhatikan si ibu dengan seksama dan
melihat bahwa dia sengaja mencubiti bayinya agar menangis. Kami
segera mengambil bayi itu dan menjauhkannya dari dia dan memborgol
tangannya di depan. Dia memprotes perlakuan ‘kasar’ saya, dan
berkata, “bagaimana kamu memperlakukan seorang ibu seperti ini?”
Ketika saya katakan apa yang saya lihat, dia
terdiam. Sangat sukar untuk dipercaya perbuatan licik yang dilakukan
perempuan itu. Tetapi kemudian hal ini tidaklah mengejutkan. Dia
menggunakan bayinya untuk menghindari kecurigaan orang. Dan
rencananya mungkin pernah berhasil. Sebelum kejadian ini, petugas
penangkapan belum mencurigai ibu dengan bayi dalam gendongan.
Bagaimana mungkin seorang ibu dapat melakukan
hal itu? Pemikiran yang mengganggu ini menimbulkan pertanyaan lain
yang lebih membuat stres: apakah sang ibu mengkonsumsi heroin selama
mengandung? Jika ya, dia dapat membahayakan jiwa bayi itu. Anaknya
dapat lahir sebagai bayi yang ‘cacat’; kecanduan heroin pada saat
kelahiran dan kerusakan permanen pada otak.
Ini adalah pikiran-pikiran saya selama kami
menanti dalam hening sambil menunggu kedatangan pecandu lainnya.
Kami menangkap 8 tersangka dalam waktu tiga
jam sebelum akhirnya kembali ke kantor polisi. Kami mengijinkan si
ibu menggendong bayinya setelah dia mengaku sebagai pemakai heroin.
Dia menginginkan menggendong bayinya untuk yang terakhir kali
sebelum dikirim ke tempat penahanan. Di kantor polisi, dia meminta
saya untuk menggendong bayinya pada saat menjalani tes urin. Pada
saat itu saya berada di ruangan tempat tes urin yang biasanya
berisikan berbagai macam pecandu heroin, yang biasanya adalah juga
mereka yang mempunyai catatan kriminal atas perampokan dan berbagai
pelanggaran lainnya, melihat dengan pasrah dan menggendong bayinya
itu dalam tangan saya. Itu adalah saat yang akan selalu terpatri
dalam ingatan saya.
Ironi yang sangat mengejutkan. Sang ibu
meminta saya menggendong bayinya. Dia mempercayakan bayinya kepada
saya selama dia menjalani tes urin. Hal ini benar-benar memukul saya.
Jika hasil tesnya positif, maka saya adalah orang yang bertanggung
jawab atas pengiriman ibu bayi ini ke tempat penahanan.
Sangatlah menyedihkan, ibu itu benar-benar
dinyatakan positif dan dikirim ke tempat penahanan. Malam itu,
suaminya datang ke kantor polisi dan dengan menangis dia berjanji
pada istrinya bahwa dia akan merawat bayi mereka dengan
sebaik-baiknya.
Perasaan sedih yang mendalam menghantui diriku.
Itu adalah suatu kesia-siaan yang tragis melihat bagaimana orang
merusak dirinya sendiri dengan narkotik, bagaimana mereka
menyia-nyiakan hidup ini dan pada saat mereka tertangkap, itu adalah
nilai terakhir yang harus mereka bayar atas hal-hal yang seharusnya
tidak boleh mereka lakukan.