countreg.com
ISLAMIC MEDIA
[ http://islamic.xtgem.com ]


23


 

Masalah kejiwaan pada penderita HIV positif berkisar pada ketidakpastian dan penyelesaian. Ketidakpastian tentang kehidupan, terutama kehidupan keluarga dan pekerjaan. Sebagai akibat ketidakpastian, penderita harus melakukan penyesuaian-penyesuaian. Berbagai masalah kejiwaan yang terjadi antara lain :

 

1. Ketakutan

 

Penderita HIV Positif dibayangi ketakutan : ketakutan mati dan terutama mati sendiri dalam keadaan kesakitan. Ketakutan dapat terjadi atas dasar pengalamannya melihat teman atau kekasihnya yang sakit atau meninggal karena AIDS. Ketakutan dapat pula terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang cara pengendalian masalah-masalah yang dihadapi. Ditinjau dari segi kejiwaan, ketakutan dapat ditanggulangi dengan pemberian penjelasan yang terbuka tentang cara-cara mengatasi kesulitan termasuk bantuan dari teman-teman, keluarga dan konselor.

 

2. Kehilangan

 

Penderita HIV Positif merasa kehilangan hidupnya, semangatnya, kegiatan fisiknya, hubungan seksual, kedudukan sosial, kemantapan keuangan dan keterbatasan. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan untuk perhatian, penderita juga mengalami perasaan kehilangan “privacy” dan pengaturan terhadap hidupnya yang paling sering hilang adalah penanaman kemandirian, merasa ketakutan akan masa depan, ketidakmampuan menyayangi, pada pandangan yang negatif atau “stigma” bagi yang lain. Pada sebagian besar penderita, kesadaran terinfeksi HIV merupakan bencana kematian.

 

3. Duka Cita

 

Penderita HIV positif sering merasa sedih kehilangan pengalaman dan harapannya. Mereka sering sedih atas kepribadian yang ditunjukkan oleh saudara, kekasih, atau teman-teman, yang merawat dan memperhatikan yang semakin menurun24.

4. Bersalah

 

Penderita HIV positif sering merasa bersalah tentang kemungkinannya menulari orang lain atau tentang perilakunya yang menyebabkannya terinfeksi. Juga merasa bersalah telah menyebabkan keluarganya sakit, khususnya anaknya. Bila rasa bersalah ini tidak dapat diatasi dapat mengakibatkan rasa bersalah yang makin mendalam25.

 

5. Depresi

 

Depresi dapat timbul karena berbagai penyebab. Belum adanya pengobatan dan sebagai akibat perasaan kehilangan tenaga, kehilangan dari kontrol pribadi yang terkait dengan seringnya pemeriksaan medis, dan pengetahuan bahwa virus dapat membunuh, merupakan faktor yang penting.

 

Demikian pula pengetahuan tentang orang-orang lain yang sakit atau meninggal akibat infeksi HIV dan pengalaman mereka yang kehilangan potensi untuk berprokreasi dan rencana jangka panjang dapat mengakibatkan depresi.26

 

6. Menolak

 

sebagai masyarakat dapat memberikan reaksi menolak terhadap pemberitahuan bahwa mereka menderita infeksi HIV untuk sebagian orang, penolakan tersebut dapat merupakan cara positif untuk menghindari shock terhadap diagnosis.
 

Bagaimanapun, apabila hal tersebut menetap, penolakan dapat merugikan, karena masyarakat umum masih belum dapat menerima tanggung jawab sosial kehidupan bersama penderita HIV positif.

 

7. Cemas

 

Kecemasan yang kemudian menjadi kesulitan dalam kehidupan seseorang dengan HIV, menggambarkan ketidakpastian yang berkaitan dengan infeksi.

 

Berbagai penyebab dari kecemasan meliputi hal-hal sebagai berikut :

  • Prognosa jangka pendek dan jangka panjang.

  • Resiko infeksi dengan penyakit lain.

  • Resiko menularkan HIV pada orang lain.

  • Penolakan kehidupan sosial, kehidupan seksual dan pekerjaan.

  • Dikucilkan, diisolir dan ketakutan secara fisik.

  • Ketakutan akan mati dalam kesakitan dan tidak dihargai.

  • Ketidakmampuan merubah lingkungan dan tanggung jawab terinfeksi.

  • Bagaimana memastikan pemeliharaan kesehatan terbaik dimasa yang akan datang.

  • Kemampuan keluarga dan orang-orang yang dicintai untuk menerima.

  • Kemampuan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan perawatan gigi.

  • Kehilangan hal-hal yang bersifat pribadi dan kemandirian.

  • Penolakan terhadap kehidupan sosial dan seksual dimasa mendatang.

  • Penurunan kemampuan dan kehilangan kemandirian dibidang keuangan.
     

8. Marah

 

Sebagai orang merasa sangat marah karena merasa “tidak beruntung” mendapatkan infeksi HIV. mereka merasa bahwa berita tentang mereka diberikan secara buruk. Kemarahan dapat merupakan akibat dari rasa menyalahkan diri sendiri mendapatkan infeksi HIV atau dapat pula merupakan perwujudan dari perilaku merusak diri sendiri / bunuh diri.

 

9. Tindakan atau pemikiran untuk bunuh diri
 

Mereka yang menderita HIV positif, mempunyai kecenderungan peningkatan pemikiran bunuh diri. Bunuh diri dianggap merupakan jalan keluar dari kesakitan, ketidakmampuan, dan perasaan malu terhadap orangorang yang dikasihi. Bunuh diri dapat dilakukan secara aktif (menyakiti diri sendiri sampai mati) atau pasif (merahasiakan komplikasi yang dapat berakibat fatal)
 

10. Kehilangan harga diri
 

Penolakan oleh teman, kekasih, kenalan, dapat mengakibatkan perasaan kehilangan kemandirian dan identitas sosial, sehingga menyebabkan perasaan kehilangan harga diri. Hal ini dapat pula diikutkan dengan pengaruh infeksi HIV seperti kerusakan wajah, penurunan kondisi fisik dan lain-lain.
 

11. Hypochondria dan Obsesi
 

Masalah kesehatan dan perubahan fisik atau perasaan dapat mengakibatkan hypochondria. Hal ini dapat terjadi langsung setelah didiagnose dan dapat menetap pada mereka yang memiliki kesulitan untuk menerima penyakitnya (HIV)
 

12. Aspek Spiritual
 

Perasaan tentang kematian, kesepian dan kehilangan kontrol dapat meningkatkan perhatian ke masalah spiritual dan agama. Perasaan berdosa, bersalah, pemberian maaf, damai, dan penerimaan dapat merupakan bagian dari diskusi keagamaan27.

 

 

note

 

23. Dikembangkan dari PEDOMAN KONSELING PENANGGULANGAN HIV/AIDS SEKTOR AGAMA ISLAM diterbitkan oleh DEPARTEMEN AGAMA RI

 

24. Dalam bukunya yang berjudul LA TAHZAN (JANGAN BERSEDIH!), DR. Aidh Al-Qarni, menulis : Kesedihan adalah teman akrab kecemasan. Adapun perbedaan antara keduanya adalah manakala suatu hal yang tidak disukai hati itu berkaitan dengan hal-hal yang belum terjadi, ia akan membuahkan kecemasan. Sedangkan bila berkaitan dengan persoalan masalalu, maka ia akan membuahkan kesedihan. Dan persamaannya, keduanya sama-sama dapat melemahkan semangat dan kehendak hati untuk berbuat suatu kebaikan. Kesedihan dapat membuat hidup menjadi keruh. Ia ibarat racun berbisa bagi jiwa yang dapat menyebabkannya lemah semangat, krisis gairah, dan galau dalam menghadapi hidup ini. Dan itu, akan berujung pada ketidakacuhan diri pada kebaikan, ketidakpedulian pada kebajikan, kehilangan semangat untuk meraih kebahagiaan, dan kemudian akan berakhir pada pesimisme dan kebinasaan diri yang tiada tara. – tambahan dari penyusun.

 

25. Prof. DR. H. Mohamad Surya menulis dalam bukunya yang berjudul Psikologi Konseling : Rasa bersalah adalah perasaan tidak nyaman / gundah atau malu pada saat seseorang melakukan kesalahan, keburukan atau amoral. Rasa bersalah dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan perbaikan perilaku pada saat menghadapi suatu permasalahan di masa yang akan datang. Rasa bersalah dapat terjadi ketika seseorang secara aturan (legitimately) mereduksi kepercayaan dirinya. Perkataan legitimately sangat penting dengan tiga alasan yaitu (1) Orang yang memiliki harapan positif yang tidak realistik terhadap dirinya dan merasakan kebencian terhadap diri sendiri apabila mengalami kegagalan, (2) rasa dapat dicintai seseorang yang tergantung evaluasi orang lain, (3) rasa harga diri seseorang dapat terkait dengan moral mutlak yang tidak beralasan.

 

Konselor harus dapat membantu klien apabila merasakan rasa bersalah dan membantu mereka apakah rasa bersalah itu benar atau salah, kemudian menemukan cara yang tepat untuk menghindari masalah yang timbul. Konselor juga harus memahami adanya tiga macam rasa bersalah yaitu (1) rasa bersalah psikologis, yang terjadi apabila individu berperilaku yang bertentangan dengan konsep dirinya, (2) rasa bersalah sosial yang terjadi karena berperilaku yang dirasakan bertentangan dengan aturan-aturan sosial, dan (3) rasa bersalah religi, yang timbul karena berperilaku yang bertentangan dengan kaidah-kaidah agama. Terkadang ketiga tipe tersebut secara ekslusif saling berhubungan dengan yang lainnya. Dengan kata lain seseorang merasa bersalah bukan hanya secara psikologi, akan tetapi juga secara sosial dan religi. Satu tindakan dapat menyebabkan semua dari ketiga rasa bersalah tersebut. Hal penting bagi konselor adalah mengetahui perbedaan dari ketiga tipe rasa bersalah itu untuk membantu klien memecahkan masalah rasa bersalah. Rasa bersalah dapat terjadi secara sadar maupun tidak sadar.

 

Rasa bersalah yang tidak disadari mengakibatkan munculnya perilaku menghukum diri sendiri sebagai jalan untuk bertobat karena rasa bersalah tersebut. Sementara itu menghukum diri sendiri (tidak -dari penyusun) dapat meredakan kecemasan yang menyebabkan rasa bersalah, dengan alasan (1) karena menghukum diri sendiri merupakan motivasi dari kesalahan yang tidak disadari dan tidak ada kontrol setelahnya, (2) perilaku menghukum diri sendiri hampir seluruhnya selalu merusak rasa cinta karena rasa bersalah dapat merusak suatu proses, (3) karena seseorang tidak menyadari suatu perilaku yang menyebabkan rasa bersalah, maka pada akhirnya perilaku menghukum diri sendiri itu akan dilakukan terus menerus, dan (4) makin banyak tindakan menghukum diri sendiri, makin meningkat rasa bersalah dan membenci diri sendiri. –tambahan dari penyusun

 

26. William Styron menuturkan deskripsi yang luar biasa mengenai ”banyaknya manifestasi menyedihkan dari depresi”, antara lain kebencian pada diri sendiri, perasaan tak berharga, ”terkurung ketidakbahagiaan” sekaligus ”kegelisahan mengelilingiku, merasa takut terkucil, dan, yang terutama, kecemasan yang menyesakkan”. Kemudian, terdapat tanda-tanda intelektual: ”bingung, gagal memusatkan pikiran, dan mudah lupa”, dan pada tahap yang lebih lanjut, pikirannya ”dikuasai oleh gangguan-gangguan anarkis”, dan ”adanya perasaan bahwa proses berpikir saya dihantam gelombang asing beracun yang menghapuskan setiap respons yang menyenangkan dalam kehidupan duniawi”. Ada efek-efek fisik: sulit tidur, tak berminat apa-apa bagaikan mayat hidup, ”mati rasa, resah, tetapi lebih khusus adalah perasaan tak berdaya yang ganjil”, seiring dengan ”terus menerus gelisah”. Kemudian diikuti hilangnya gairah: ”Makanan, seperti juga semua yang harus dirasa, sama sekali tak berasa”. Akhirnya, lenyapnya harapan ketika ”kabut ketakutan yang samar-samar” menjelma menjadi keputusasaan yang begitu menyakitkan sehingga nyaris serasa nyeri fisik, suatu rasa sakit yang tak tertanggungkan sehingga bunuh diri tampaknya merupakan penyelesaian. Dalam depresi berat semacam itu, kehidupan menjadi lumpuh, tak ada energi baru yang muncul. Gejala-gejala depresi itu sendiri melukiskan hidup yang sedang berhenti. Sumber : Emotional intelligence (kecerdasan Emosional), Daniel Goleman, Ph.D, Gramedia Pustaka Utama. –tambahan dari penyusun

 

27. tentang bagaimana emosi mempengaruhi kesehatan, penyusun menemukan penjelasannya dalam buku berjudul Emotional Intelligence (kecerdasan emosional) karya Daniel Goleman, Ph.D : Pada tahun 1974, sebuah temuan di laboratorium School of Medicine and Dentistry, University of Rochester, menulis ulang peta biologis tubuh: Robert Ader, seorang ahli psikologi, menemukan bahwa sistem kekebalan tubuh, seperti halnya otak, mampu belajar. Hasilnya amat mengejutkan; pendapat yang umum berlaku dalam ilmu kedokteran adalah bahwa hanya otak dan sistem saraf yang mampu menanggapi pengalaman dengan mengubah perilaku mereka.

Temuan Ader menjurus pada penyelidikan tentang apa yang kemudian diketahui merupakan ribuan cara komunikasi antara sistem saraf pusat dan sistem kekebalan-jalur biologis yang membuat otak, emosi, dan tubuh tidak terpisah, melainkan terjalin dengan eratnya.

 

Dalam percobaannya, tikus-tikus putih diberi obat yang dapat menekan jumlah sel T yang berfungsi melawan penyakit yang beredar dalam darah. Setiap kali tikus-tikus itu diberi obat tersebut, obatnya diminumkan dengan air yang dicampuri sakarin. Tetapi, Ader menemukan bahwa dengan hanya memberi air yang dibubuhi sakarin kepada tikus-tikus itu, tanpa obat penekan daya tahan, jumlah sel T dalam tubuh tikus tetap menurun-hingga ke tahap beberapa tikus jatuh sakit dan sekarat. Sistem kekebalan mereka telah belajar untuk menekan jumlah sel T sebagai respons terhadap air yang diberi sakarin. Hal ini seharusnya tidak bisa terjadi, menurut pemahaman ilmiah terbaik pada saat itu. Sistem kekebalan adalah ”otak tubuh”, begitu istilah yang dikemukakan Fransisco Varela, seorang ahli ilmu saraf di Ecole Polytechnique di Paris, untuk mendefinisikan indra tubuh tentang tubuh itu sendiri-mengenai apa yang termasuk bagian darinya dan yang tidak. Sel-sel kekebalan tubuh beredar dalam dalam aliran darah ke seluruh tubuh, praktis bersentuhan dengan setiap sel lainnya. Sel-sel yang mereka kenali, mereka biarkan saja; sel-sel yang tidak mereka kenali, mereka serang. Serangan itu selain melindungi kita dari virus, bakteri, dan kanker, juga akan membentuk kekebalan automatis bagi penyakit semacam alergi atau lupus apabila sel-sel kekebalan itu keliru mengidentifikasi beberapa sel tubuh.

 

Hingga saat Ader mengumumkan penemuannya yang mengejutkan itu, setiap ahli anatomi, dokter, dan ahli biologi yakin bahwa otak (bersama dengan perpanjangannya di seluruh tubuh melalui sistem saraf pusat) dan sistem kekebalan adalah satuan yang terpisah, satu sama lainnya tidak saling mempengaruhi. Tak ada jalur yang menghubungkan pusat otak yang memantau apa yang dikecap oleh tikus itu dengan wilayah sumsum tulang yang menghasilkan sel T. Atau, begitulah yang disangka orang selama satu abad. Selama bertahun-tahun sejak itu, penemuan ”kecil” Ader itu telah memaksa munculnya pandangan baru terhadap hubungan antara sistem kekebalan dan sistem saraf pusat. Bidang yang mempelajarinya, psikoneuroimunologi, atau PNI, sekarang merupakan ilmu kedokteran yang amat penting.

 

Sebutannya itu mengakui adanya hubungan tersebut : psiko, atau ”pikiran”; neuro, untuk sistem neuroendokrin (yang termasuk di dalamnya  sistem saraf dan sistem hormon); dan imunologi, untuk sistem kekebalan.

 

Suatu kelompok peneliti menemukan bahwa pembawa-pembawa pesan kimiawi yang bekerja paling ekstensif, baik dalam otak maupun dalam sistem kekebalan, adalah mereka yang paling banyak mengisi wilayah-wilayah saraf yang mengatur emosi. Beberapa petunjuk paling kuat bagi jalur fisik langsung yang memungkinkan emosi mempengaruhi sistem kekebalan ditemukan oleh David Felten, seorang rekan Ader. Mula-mula, Felten mengamati bahwa emosi berpengaruh dahsyat terhadap sistem saraf autonom, yang mengatur segala macam, mulai dari jumlah insulin yang dikeluarkan tubuh sampai tingginya tingkat tekanan darah. Felten, yang bekerja dengan istrinya, Suzanne, dan kolega-kolega lainnya, kemudian mendeteksi titik temu di mana sistem saraf autonom langsung berhubungan dengan limfosit dan makrofagus, yaitu sel-sel sistem kekebalan. Dengan menggunakan mikroskop elektron, mereka menemukan hubungan mirip

sinaps di mana ujung-ujung terminal-terminal saraf autonom berhubungan langsung dengan sel-sel kekebalan ini. Titik temu fisik ini memungkinkan sel-sel saraf untuk melepaskan neurotransmiter-neurotransmiter untuk mengatur sel kekebalan: bahkan mereka memberi isyarat bolak-balik. Penemuan ini betul-betul revolusioner. Tak seorang pun menduga bahwa sel-sel kekebalan dapat menjadi sasaran pesan-pesan dari saraf. Untuk menguji betapa pentingnya ujung-ujung saraf ini dalam kerja sistem kekebalan, Felten menempuh tahap lebih lanjut. Dalam percobaannya yang menggunakan binatang, ia membuang beberapa saraf dari limpa dan simpul-simpul getah bening-tempat sel-sel kekebalan disimpan atau diproduksi-dan kemudian menggunakan virus untuk menguji sistem kekebalannya. Hasilnya: respons kekebalan terhadap virus merosot besar-besaran. Kesimpulannya adalah bahwa tanpa ujung-ujung saraf itu, sistem kekebalan tidak memberi respons sebagaimana mestinya terhadap serangan virus atau bakteri. Pendek kata, sistem saraf bukan saja berhubungan dengan sistem kekebalan, melainkan sangat penting agar fungsi kekebalan dapat berjalan sempurna.

 

Jalur penting lain yang menghubungkan emosi dengan sistem kekebalan adalah melalui pengaruh hormon yang dilepaskan apabila mengalami stres. Katekolamin (epinefrin dan norepinefrin-yang juga dikenal sebagai adrenalin dan noradrenalin), kortisol, dan prolaktin, serta candu-candu alamiah yaitu beta-endorfin dan enkefalin semuanya dilepaskan selama terjadi rangsangan stres. Masing-masing mempunyai pengaruh kuat terhadap sel kekebalan. Meskipun hubungan itu rumit, pengaruh utamanya adalah ketika hormon-hormon ini menyebar ke seluruh tubuh, fungsi sel kekebalan dihambat: stres menekan perlawanan sistem kekebalan, sekurang-kurangnya untuk sementara, mungkin untuk menghemat energi yang diprioritaskan bagi keadaan darurat yang memerlukannya dengan segera, yang lebih mendesak untuk kelangsungan hidup. Tetapi, apabila berlangsung terus-menerus dan menghebat, penekanan itu dapat bersifat permanen.

 

Ahli-ahli mikrobiologi dan ilmuwan-ilmuwan lain menemukan semakin banyaknya hubungan semacam itu antara otak dan sistem kardiovaskular dan kekebalan-setelah pada akhirnya mau menerima pengertian yang tadinya dianggap radikal yang menyatakan adanya hubungan-hubungan itu”. Penjelasan lain yang penyusun temukan adalah dari buku berjudul Energi Aura ”memanfaatkan energi aura untuk menjaga kesehatan dan meraih keberhasilan karir” karya Joe H. Slate, Ph.D : ”Sekarang ini, sudah lazim diakui bahwa kekuatan mental yang tak terkendali seperti stres dan permusuhan yang membara dapat melemahkan tubuh, menggerogoti sistem pertahanan tubuh, menurunkan daya tahan terhadap penyakit, dan dalam keadan yang berlarut-larut menyebabkan penyakit atau bahkan menyebabkan kematian” – tambahan dari penyusun.

 



 
 

konversi html, navigasi & kompilasi chm oleh:
 
www.pakdenono.com

Build your site
Best site builder