countreg.com
ISLAMIC MEDIA
[ http://islamic.xtgem.com ]


32


 

Akibat dominasi pola kehidupan modern yang materialistik dan egoistik, mengakibatkan situasi psikologis umat manusia semakin tidak menentu. Tatanan dan tradisi yang telah mengakar dan teruji validitasnya selama berabad-abad berubah begitu saja, meskipun apa yang baru didapat belum tentu mampu menjawab berbagai problem kesehariannya. Karenanya tidak mengherankan apabila akhir-akhir ini ditemukan berbagai perilaku yang aneh-aneh dan nyeleneh yang dianggap sebagai gejala patologis bagi kehidupan modern33.

Disadari atau tidak, fenomena modern semacam itu telah merasuki kejiwaan umat Islam. Mereka seringkali merasakan kegelisahan dan kekhawatiran yang mendalam, tanpa diketahui sumbernya dari mana perasaan menggoda pikiran (obsessional neurosis) itu muncul. Bahkan dengan sengaja, mereka mencoba memahami perasaannya melalui bantuan Paranormal, psikiater, konselor atau melalui cara-cara baru yang diyakini keampuhannya, namun hal itu tidak membawa hasil yang cukup signifikan. Hal itu setidak-tidaknya disebabkan oleh : Pertama, mereka telah melupakan resep-resep agama yang mengatur perilaku psikologis, sehingga mereka tidak mengetahui bagaimana seharusnya yang diperbuat; dan kedua, mereka mencoba memahami psikopatologi dalam dirinya melalui teori-teori modern, namun dalam teori-teori modern itu tidak mampu menembus wilayah kejiwaan yang paling dalam dan misteri seperti wilayah spiritual dan keagamaan, sehingga mereka tidak menemukan apa yang dicari.



 

Patologi adalah cabang ilmu pengobatan yang berkaitan dengan sebab-sebab penyakit dan prosesnya serta pengaruhnya terhadap struktur dan fungsi tubuh manusia. Semua dokter terlibat secara luas dengan ilmu patologi, tetapi patologi secara khusus mengkaji proses penyakit dengan pengujian terhadap jaringan-jaringan dan cairan-cairan tubuh yang ditemukan selama pembedahan atau autopsy.

 

Dua cabang besar patologi adalah patologi jaringan atau patologi anatomis dan patologi klinis. Patologi anatomi didasarkan pada pengujian organ-organ dan jaringan-jaringan secara langsung untuk menentukan sifat, tingkat dan ramalan terhadap penyakit pasien, seperti dalam biopsy atau untuk menjelaskan sebab-sebab kematian pasien dalam suatu autopsy. Patologi klinis melibatkan prosedur-prosedur laboratorium untuk menentukan pemusatan berbagai zat biokimia di dalam cairan tubuh, kumpulan sel-sel dan bentuk-bentuknya di dalam darah, sumsum tulang, dan jaringan-jaringan lain, fungsi-fungsi organ seperti hati, ginjal, status sistem kekebalan, dan identifikasi organisma-organisma yang menular.

 

Psikopatologi, atau sakit mental, adalah sakit yang tampak dalam bentuk perilaku dan fungsi kejiwaan yang tidak stabil. Istilah psikopatologi ini mengacu pada sebuah sindrom yang luas, yang meliputi ketidaknormalan kondisi indera, kognisi, dan emosi. Asumsi yang berlaku pada bidang ini adalah bahwa sindrom psikopatologis atau sejumlah symptom tidak semata-mata berupa respons yang dapat diprediksi terhadap gejala tekanan jiwa yang khusus, seperti kematian orang yang dicintai, tetapi lebih berupa manifestasi psikologis atau disfungsi biologis seseorang.

 

Menurut Chaplin, Patologi (pathology) adalah pengetahuan tentang penyakit atau gangguan. Atau, satu kondisi penyakit atau gangguan. Sedang psikopatologi (psychopathology) adalah cabang psikologi yang berkepentingan untuk menyelidiki penyakit atau gangguan mental dan gejala-gejala abnormal lainnya.

 

Studi tentang psikopatologi paling tidak dapat bertolak dari tiga asumsi, yang masing-masing asumsi memiliki implikasi psikologis yang berbeda-beda. Pertama, pada dasarnya jiwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan sakit, kecuali dalam kondisi tertentu ia dinyatakan sehat; kedua, pada dasarnya jiwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan netral (tidak sakit dan tidak sehat). Sakit dan sehatnya tergantung pada proses perkembangan hidupnya; ketiga, pada dasarnya jiwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan sehat, kecuali dalam kondisi tertentu ia dinyatakan sakit.

 

Asumsi pertama dikembangkan aliran Psiko-analisa Sigmund Freud. Menurut Freud, jiwa manusia dilahirkan dalam kondisi jahat, buruk, bersifat negatif atau merusak. Agar ia berkembang dengan positif, diperlukan cara-cara pendamping yang bersifat impersonal dan direktif atau mengarahkan. Kesimpulan demikian itu didasarkan atas penyelidikan Freud terhadap beberapa pasien yang datang ke laboratoriumnya. Dari sini tampak bahwa teori Psiko-analisa Freud sebenarnya hanya cocok untuk orang yang sakit dan bukan dikonsumsikan untuk orang yang sehat. Asumsi ini selain bersifat pesimistik juga menafikan eksistensi manusia sebenarnya, sehingga pada gilirannya mengakibatkan dehumanisasi dalam psikologi.

 

Sedangkan asumsi kedua dikembangkan aliran Psiko-behavioristik radikal B.F Skinner. Menurutnya, jiwa manusia dilahirkan dalam kondisi netral, seperti tabula rasa (kertas putih), hanya lingkungan yang menentukan arah perkembangan jiwa tersebut. Lingkungan yang baik akan membentuk suasana psikologis yang baik dan harmonis, sebaliknya lingkungan yang buruk akan berimplikasi pada gejala psikologis yang buruk pula. Asumsi ini selain bersifat deterministik dan mekanistik, juga memperlakukan manusia seperti makhluk yang tidak memiliki jiwa yang unik. Jiwa manusia dianggap seperti jiwa hewan yang tidak memiliki kecenderungan apa-apa dan dapat diatur seperti mesin atau robot.

 

Sementara asumsi ketiga dikembangkan aliran Psiko-humanistik Abraham Maslow dan Carl Rogers. Menurutnya, jiwa manusia dilahirkan dalam kondisi sadar, bebas, bertanggung jawab yang dibimbing oleh dayadaya positif yang berasal dari dalam dirinya sendiri ke arah pemekaran seluruh potensi manusiawi secara penuh. Agar berkembang ke arah positif, manusia tidak memerlukan pengarahan melainkan membutuhkan suasana dan pendamping personal serba penuh penerimaan penghargaan demi mekarnya potensi positif yang melekat dalam dirinya.

 

Asumsi ketiga di atas menekankan kodrat “normalitas” manusia, bukan abnormalitasnya. Normalitas manusia merupakan nature yang alami, fitri, dan dari semula dimiliki manusia, sedang abnormalitas merupakan nature yang baru datang setelah terjadi anomaly (inkhiraf) pada diri manusia.

 

Menurut Atkinson, terdapat enam kriteria untuk menentukan kesehatan mental seseorang, yaitu : pertama, adanya persepsi yang realistik dan efisien dalam mereaksi atau mengevaluasi apa yang terjadi di dunia sekitarnya; kedua, mengenali diri sendiri, baik berkaitan dengan kesadaran atau motifnya; ketiga, kemampuan untuk mengendalikan perilaku secara sadar, seperti menahan perilaku impulsive dan agresif; keempat, memiliki harga diri dan dirinya dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya; kelima, kemampuan untuk membentuk ikatan cinta kasih, seperti tidak menuntut berkelebihan pada orang lain dan dapat memuaskan orang lain bukan hanya memuaskan diri sendiri; keenam, dan jiwa yang antusias yang mendorong seseorang untuk mencapai produktivitas.

 

Meskipun asumsi ini dikenal sebagai asumsi yang optimistik dan mengakui kekuatan jiwa manusia, namun sifatnya antroposentris yang hanya menggantungkan kekuatan manusia, tanpa mengaitkan teorinya pada kehendak mutlak Tuhan. Dalam Islam, meskipun menggunakan kerangka asumsi yang ketiga dalam membangun teori-teori psikopatologinya, namun ia tidak melepaskan diri dari paradigma teosentris. Sebagai Zat yang Baik dan Suci, Tuhan tidak memberikan jiwa manusia kecuali jiwa yang memiliki kecenderungan sehat, baik, dan suci. Kesehatan jiwa manusia tidak sekedar alami dan fitri, melainkan telah diatur sedemikian rupa oleh Sang Khalik. Dari kerangka ini, kriteria neurosis dan psychosis dalam psikopatologi Islam bukan hanya disebabkan oleh gangguan syaraf atau kejiwaan alamiah, melainkan juga penyelewengan terhadap aturan aturan Tuhan. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila teori psikopatologi Islam lebih banyak memfokuskan diri pada perilaku spiritual dan religius.

 

 

 

 note

 

32. NUANSA-NUANSA PSIKOLOGI ISLAM, Abdul Mujib, M.Ag & Jusuf Mudzakir, M.Si. diterbitkan oleh Rajawali Pers Divisi Buku Perguruan Tinggi PT RajaGrafindo Persada

33. Daniel Goleman, Ph.D menulis dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional) : ”Tahun-tahun terakhir millennium ini memperkenalkan Zaman Kemurungan, seperti halnya abad kedua puluh satu menjadi Zaman Kecemasan. Data internasional memperlihatkan apa yang tampaknya merupakan wabah depresi modern, wabah yang meluas seiring dengan diterimanya gaya hidup modern di seluruh dunia. Masing-masing generasi penerus sejak awal abad ini telah hidup dengan risiko lebih tinggi daripada orang tua mereka untuk menderita depresi berat-bukan sekadar kemurungan, melainkan kelesuan yang melumpuhkan, rasa ditolak, serta rasa kasihan pada diri sendiri dan keputusasaan yang hebat-sepanjang perjalanan hidupnya. Dan serangan-serangan tersebut dimulai pada usia yang makin lama makin dini. Depresi masa kanak-kanak, yang dahulu praktis tidak dikenal (atau sekurang-kurangnya tidak diakui) sedang muncul sebagai barang biasa dalam panggung dunia modern”.

 

Sementara itu Dr. A. Supratiknya menulis dalam bukunya yang berjudul Mengenal Perilaku Abnormal : ”Para penderita gangguan kepribadian antisosial (Psikopatik) memiliki ciri-ciri berikut : perkembangan moral mereka terhambat; mereka tidak mampu mencontoh perbuatan-perbuatan yang diterima masyarakat (Socially desirable behaviours); kurang dapat bergaul dan kurang tersosialisasikan dalam arti tidak mampu mengembangkan kesetiaan pada orang, kelompok, maupun nilai-nilai sosial yang berlaku; maka, mereka sering bentrok dengan masyarakat. Gangguan ini sering disebut pula kepribadian sosiopatik, dan meliputi misalnya, orang-orang yang menjalankan bisnis dengan curang, pengacara, dokter, dan politikus yang curang, para penipu, pengedar dan / pengguna obat bius, pelacur, dan para pelaku tindak delinkuen atau kriminal. Selain itu, para psikopat atau sosiopat ini biasanya juga memiliki ciri-ciri tambahan berikut : biasanya cerdas, spontan, dan mengesankan pada pandangan pertama; penuh tipu-daya, manipulatif, suka memanfaatkan orang lain; terkesan hanya hidup di masa kini (tidak peduli pada masa lalu dan masa depan mereka); suara hatinya lemah atau kabur dan tidak mempunyai rasa takut maupun rasa bersalah; tingkah lakunya tak bertanggung jawab dan kompulsif; toleransi frustasinya rendah; pandai menutup-nutupi dirinya atau memakai topeng untuk meyakinkan orang lain, sambil suka melemparkan kesalahan atau keburukan kepada orang lain; senang menentang autoritas, tidak mampu belajar dari pengalaman, dan tidak mampu menjalin hubungan baik dengan orang lain. Dari sudut sosiokultural, banyak penderita psikopat berasal dari kalangan keluarga menengah-bawah. Namun juga dapat melanda siapa saja, sebagai ekses dari suasana materialistik, hedonistik, dan kompetitif dari masyarakat modern”.

 

Masih menurut Dr. A. Supratiknya, ”Menurut para eksistensialis, manusia modern terjebak dalam situasi hidup yang tidak menyenangkan yang merupakan buah pahit dari proses modernisasi berupa antara lain melemahnya nilai-nilai tradisional, krisis iman, hilangnya pengakuan atas diri individu sebagai pribadi akibat berubahnya masyarakat ke arah masyarakat birokratik yang bersifat massal, dan menghilangnya banyak hal yang dapat menjadi sumber makna hidup seperti persahabatan, kesetiakawanan, dan sebagainya. Dengan kata lain, orang modern mengalami alienasi atau keterasingan. Ia tidak lagi mengenal Tuhan, tidak lagi mengenal sesamanya, bahkan tidak lagi mengenal dirinya sendiri. Segalanya telah berubah menjadi fungsi-fungsi belaka. Situasi ini membuat banyak orang merasa kosong hidupnya, merasa serba cemas, dan akhirnya terperosok ke dalam psikopatologi. –tambahan dari penyusun

 



 
 

konversi html, navigasi & kompilasi chm oleh:
 
www.pakdenono.com

Free wapsite
Free wapsite