countreg.com
ISLAMIC MEDIA
[ http://islamic.xtgem.com ]



 

Psikopatologi dalam Islam dapat dibagi dalam dua kategori; Pertama, bersifat duniawi. Macam-macam psikopatologi dalam kategori ini berupa gejala-gejala atau penyakit kejiwaan yang telah dirumuskan dalam wacana psikologi kontemporer; kedua, bersifat ukhrawi, berupa penyakit akibat penyimpangan terhadap normanorma atau nilai-nilai moral, spiritual, dan agama.

Model psikopatologi yang pertama memiliki banyak kategori. Hal itu disebabkan oleh perspektif masingmasing psikolog yang berbeda-beda. Dalam waktu tiga kurun ini, setidak-tidaknya ditemukan empat perspektif dalam memperhatikan psikopatologi. Pertama, dari perspektif biologi, idenya adalah bahwa gangguan fisik seperti gangguan otak dan gangguan sistem syaraf otonom menyebabkan gangguan mental seseorang; kedua, dari perspektif psikoanalitik, idenya adalah bahwa gangguan disebabkan oleh konflik bawah sadar yang biasanya berawal dari masa kanak-kanak awal dan pemakaian mekanisme pertahanan untuk mengatasi kecemasan yang ditimbulkan oleh impuls dan emosi yang direpresi; ketiga, dari perspektif perilaku. Perspektif ini memAndang gangguan mental dari titik pandang teori belajar dan berpendapat perilaku abnormal adalah cara yang dipelajari untuk melawan stres. Pendekatan ini mempelajari bagaimana ketakutan akan situasi tertentu menjadi terkondisi dan peran yang dimiliki oleh penguatan dalam kemunculan dan terpeliharanya perilaku yang tidak tepat; keempat, dari perspektif kognitif, idenya adalah bahwa gangguan mental berakar dari gangguan proses kognitif dan dapat dihilangkan dengan mengubah kondisi yang salah tersebut.

 

Dari hasil American Psychiatric Association tahun 1994 menyebutkan 15 jenis gangguan mental, yaitu :

  1. Gangguan yang biasanya didiagnosis pertama kali pada masa bayi, masa anak-anak, dan masa remaja. Gangguan dalam kategori ini seperti hambatan (retardation) mental, gangguan belajar, gangguan keterampilan motorik, gangguan komunikasi, gangguan perkembangan, gangguan pervasive, gangguan kurang perhatian dan perilaku mengacau, gangguan makan, dan penyimpangan lain dari perilaku normal.
     

  2. Delirium34, Demensia35, gangguan amnestik36, dan gangguan kognitif lain. Gangguan yang disebabkan fungsi otak terganggu, baik secara permanen atau pun sementara. Gangguan ini disebabkan penuaan, trauma kepala37, penyakit menurunnya (degeneration) pada system Syaraf (seperti karena HIV [Human Immunodeviciency], sifilis, atau penyakit alzheimer38

  1. Gangguan yang berhubungan dengan zat. Gangguan ini disebabkan pemakaian alkohol yang berlebihan, cocaine, dan racun yang mengubah perilaku. Termasuk dalam kelompok ini adalah marijuana dan tembakau, walaupun masih diperselisihkan efek psikologisnya
     

  2. Skizofrenia39 dan gangguan psikotik lainnya. Gangguan ini ditandai oleh hilangnya kontak dengan realita, gangguan jelas proses berpikir dan persepsi, dan perilaku yang aneh. Pada suatu fase, waham, halusinasi, dan delusi hampir selalu terjadi
     

  3. Gangguan Mood40. Misalnya (1) terjadinya gembira secara abnormal; (2) gangguan bipolar, yaitu individu merasa berganti-ganti antara periode depresi dan elasi, atau mania; (3) depresi, yaitu respon normal terhadap banyak stres kehidupan, seperti adanya kesedihan dan kekesalan, penurunan motivasi dan gairah hidup, dan berpikir negatif. Terhadap orang yang normal, depresi merupakan keadaan kemurungan yang ditandai perasaan tidak pas, menurunnya kegiatan, dan pesimisme menghadapi masa depan. Sedang pada kasus patologis, depresi merupakan ketidakmampuan ekstrim untuk mereaksi terhadap perangsang, disertai menurunnya nilai-diri, delusi ketidakpasan, tidak mampu dan putus asa. Situasi yang sering menimbulkan depresi adalah kegagalan sekolah dan bekerja dan kehilangan orang yang dicintai.
     

  4. Gangguan kecemasan : mencakup (1) gangguan yang mana kecemasan merupakan gejala utama, seperti merasa takut tanpa alasan yang jelas41, merasa jengkel terhadap masalah kecil, sulit memutuskan masalah, merasa tegang terus menerus; (2) Fobia (phobia) yaitu ketakutan yang kuat dan irrasional, yang ditimbulkan oleh suatu perangsang atau situasi khusus, seperti takut pada ketinggian (acrophobia), takut pada tempat-tempat tertutup (claustrophobia), takut pada darah (hematophobia), takut pada kegelapan (nyctophobia), takut pada orang asing (enaphobia), dan takut pada binatang (zoophobia); (3) gangguan obsesif-kompulsif42, yaitu mencoba menahan diri dari melakukan ritual tertentu atau memikirkan pikiran persisten; dan (4) gangguan stress pascatraumatik.
     

  5. Gangguan somatoform, yaitu gejala gangguan pada fisik, tetapi tidak ditemukan penyebab organik dan faktor psikis tampaknya berperan besar. Termasuk gangguan ini adalah somatisasi, gangguan konversi (seperti wanita yang benci merawat ibunya yang tua renta, sehingga tiba-tiba ia mengalami kelumpuhan tangan), dan hipokondriasis (preokupasi berlebihan dengan kesehatan dan merasa takut berlebihan akan penyakit walaupun tidak ada alasan yang perlu ditakuti)
     

  6. Gangguan disosiatif, yaitu perubahan sementara fungsi kesadaran, ingatan, atau identitas karena masalah emosional, seperti amnesia disosiatif (individu tidak dapat mengingat segala sesuatu dari pengalaman hidupnya setelah terjadi traumatik), dan gangguan kepribadian (dua atau lebih sistem kepribadian yang terpisah terjadi pada individu yang sama)
     

  7. Gangguan seksual dan identitas jenis. Mencakup masalah gangguan gairah seksual, gangguan perangsang seksual, gangguan orgasmik, gangguan nyeri ketika mengadakan seksual, parafilia yaitu penyimpangan seksual seperti tertarik pada benda mati (fetishisme), mendapatkan kepuasan seksual dengan memamerkan genitalnya kepada orang lain yang tidak menduga (ekshibisionisme), kepuasan seksual melalui kontak dengan anak di bawah umur (pedofilia), dan keinginan menimbulkan nyeri pada diri sendiri atau menderita nyeri disebabkan orang lain (masokisme)
     

  8. Gangguan makan, baik yang berkaitan dengan anoreksia nervosa (suatu gangguan makan yangterutama menyerang wanita muda dan ditAndai dengan penurunan berat badan yang ekstrim dan disengaja oleh diri sendiri) dan bulimia nervosa (suatu gangguan makan yang terutama menyerang wanita muda dan ditandai oleh episode pesta makan, diikuti oleh upaya mencahar dan laksatif)
     

  9. Gangguan tidur, baik berkaitan dengan insomnia kronis (tidak puas dengan kuantitas dan kualitas tidur), hipersomnia (satu dorongan yang tidak dapat dikontrol untuk tidur atau keinginan tidur yang berlebihan), apnea tidur (gangguan tidur yang ditandai oleh berhentinya pernapasan di saat tidur), tidur berjalan, narkolepsi (gangguan tidur yang ditAndai oleh kecenderungan tidak terkendali untuk tertidur singkat dalam waktu yang tidak tepat)
     

  10. Gangguan pengendalian impuls. Mencakup gangguan eksplosif intermitten, kleptomania (mencuri kompulsif benda-benda yang tidak dibutuhkan untuk pemakaian pribadi atau nilai ekonomisnya), berjudi patologis dan piromania (menimbulkan kebakaran untuk kesenangan semata atau menghilangkan ketegangan)
     

  11. Gangguan kepribadian43. Pola prilaku maladaptive yang berlangsung lama, yang merupakan cara yang tidak dewasa dan tidak tepat untuk menghadapi stres atau pemecahan masalah, seperti perilaku antisosial (tidak adanya empati atau kepedulian kepada orang lain dan tidak memiliki rasa malu, menyesal atau berdosa jika melakukan kesalahan) dan gangguan perilaku narsistik (cinta diri dan perhatian yang ekstrim terhadap diri sendiri, sehingga tidak memiliki perhatian pada orang lain)
     

  12. Gangguan buatan, yaitu gejala fisik atau psikis yang ditimbulkan secara buatan. Berbeda dari malingering (berpura-pura) yang mana tidak ada tujuan yang jelas, seperti ketidakmampuan membayar tagihan atau menghindari wajib militer. Bentuk yang paling banyak diteliti dinamakan sindroma munchausen, yaitu kesenangan individu akan presentasi gejala fisik buatan menyebabkan individu itu sering dirawat di rumah sakit.
     

  13. Kondisi lain yang mungkin menjadi pusat perhatian klinis. Kategori ini mencakup banyak masalah yang menyebabkan orang mecari bantuan, seperti gangguan pergerakan akibat medikasi, masalah relasional (perkawinan, hubungan anak-orang tua, tetangga) penelantaran, atau masalah pekerjaan.

 

 note

 

34. Delirium adalah keadaan kebingungan atau kekacauan mental, dibarengi dengan delusi, ilusi, dan halusinasi. Ia dapat disebabkan oleh panas tinggi, obat bius, atau goncangan batin.
 

35. Demensia adalah memburuk atau merosotnya proses intelektual, daya pertimbangan dan proses emosional, ditAndai dengan bentukbentuk tertentu dari senilitas dan psikosa.
 

36. Amnestik adalah hilangnya ingatan, baik sebagian ataupun total, disebabkan oleh kejadian apa pun juga. Atau, ketidakmampuan fungsional untuk mengingat kembali masa lalu pribadi, disebabkan konflik hebat atau trauma psikologis berat, sehingga individu tersebut berusaha melupakan kejadian yang dialami. Amnesia juga dapat disebabkan oleh kejutan otak, seperti karena luka-luka pada bagian kepala
 

37. Trauma adalah satu luka, baik yang bersifat fisik maupun psikis. Trauma dibagi menjadi dua, yaitu: (1) neurosa traumatis (traumatic neurosis); satu neurosa yang disebabkan oleh satu pengalaman yang luar biasa menyakitkan hati; (2) psikosa traumatik (traumatic psychosis); satu keadaan psikotik yang ditimbulkan luka di otak.
 

38. Alzheimer adalah suatu bentuk senilitas premature (keadaan udzur yang terlalu dini) yang aneh dan jarang sekali terjadi, disebabkan oleh kemunduran fungsi otak.
 

39. Skizofrenia (schiziphrenia) adalah sekelompok gangguan yang ditandai oleh disorganisasi kepribadian yang parah, distorsi realita, dan ketidakmampuan untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Skizofrenia ditandai dengan gangguan pikiran dan atensi, baik dalam proses berpikir maupun isi pikiran, gangguan persepsi, yaitu dunia tampak berbeda baginya, gangguan pada kehidupan emosional dan afektif, gejala motorik dan penarikan diri dari realitas yang sesungguhnya, dan penurunan kemampuan untuk bekerja.
 

40. Gangguan mood (mood disorder) adalah suatu gangguan mental yang ditandai oleh perubahan suasana jiwa, seperti depresi, mania (luapan yang berlebihan), dan gangguan bipolar di mana individu mengalami dua ekstrim dua suasana jiwa
 

41. Drs. Saifuddin Azwar, MA. Menulis dalam bukunya yang berjudul SIKAP MANUSIA ‘Teori dan Pengukurannya’ : Prasangka seringkali merupakan bentuk sikap negatif yang didasari oleh kelainan kepribadian pada orang-orang yang sangat frustasi. Sikap sangat anti Khadafi yang diperlihatkan oleh Reagen (sewaktu dia masih menjadi presiden AS), sangat boleh jadi merupakan prasangka yang didasari oleh ketakutan berlebihan dalam diri bekas presiden Amerika itu, bahwa orang Libya akan selalu berusaha membunuhnya disertai oleh perasaan ketidakberdayaan terselubung dalam mempertahankan diri apabila orang-orang Libya benar-benar datang untuk membunuhnya. Standar ganda yang diterapkan oleh PBB dalam menghadapi tragedi Bosnia sehingga NATO tampak begitu pengecut, menurut salahsatu analisis ahli, antara lain disebabkan oleh ketakutan kalau-kalau kemenangan di pihak Bosnia akan menciptakan negara muslim di Eropa yang menurut prasangka Barat akan menjadi ancaman bagi Eropa. Prasangka rasialis yang pernah terjadi di Indonesia dalam bentuk demontrasi anti Cina dan pengrusakan terhadap toko-toko milik Cina, sebagian besar lebih didasari oleh faktor emosional yang berawal dari frustasi ketidakberdayaan melawan atau menyamai dominasi orang  Cina di bidang ekonomi. Lepas dari prasangka yang didasari emosi itu, sebenarnya tidak banyak alasan untuk bersikap negatif terhadap kelompok minoritas Cina dikarenakan berbagai bentuk perbuatan individual orang Cina, yang baik ataupun buruk, semuanya juga dapat ditemui sehari-hari dalam perilaku orang pribumi. –tambahan dari penyusun.

 

42. Obsesi adalah intrusi persisten pikiran, bayangan, atau impuls yang tidak diundang yang menimbulkan kecemasan. Atau, ide yang tegar, menetap, dan seringkali tidak rasional, yang seringkali dibarengi satu kompulsi untuk melakukan suatu perbuatan. Kompulsi adalah dorongan yang tidak dapat ditahan untuk melakukan tindakan atau ritual tertentu yang menurunkan kecemasan. Neurosa obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive neurosa) adalah satu psiko-neurosa dengan ciri khas adanya ide yang tegar, tidak rasional, dan sering tidak dikehendaki. Hal itu dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan ketakutan dan perasaan bersalah.

 

43. Gangguan Kepribadian. Penderita gangguan ini memiliki ciri-ciri berikut :

  1. Hubungan pribadinya dengan orang lain terganggu, dalam arti sikap dan perilakunya cenderung merugikan orang lain.

  2. Memandang bahwa semua kesulitannya disebabkan oleh nasib buruk atau perbuatan jahat orang lain. Dengan kata lain, penderita gangguan ini tidak pernah memiliki rasa bersalah.

  3. Tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap orang lain : bersikap manifulatif atau senang mengakali, mementingkan diri, tidak punya rasa bersalah, dan tidak mengenal rasa sesal bila mencelakakan orang lain.

  4. Celakanya, orang ini tidak pernah dapat melepaskan diri dari pola tingkah lakunya yang maladaptive itu.

  5. Selalu menghindari tanggung jawab atas masalah-masalah yang mereka timbulkan. (Mengenal prilaku Abnormal, Dr. A. Sutiknya) –  tambahan dari Penyusun.



 
 

konversi html, navigasi & kompilasi chm oleh:
 
www.pakdenono.com

Best site builder
Create wapsite