| |

Psikopatologi dalam Islam dapat dibagi dalam
dua kategori; Pertama, bersifat duniawi. Macam-macam
psikopatologi dalam kategori ini berupa gejala-gejala atau penyakit
kejiwaan yang telah dirumuskan dalam wacana psikologi kontemporer;
kedua, bersifat ukhrawi, berupa penyakit akibat
penyimpangan terhadap normanorma atau nilai-nilai moral, spiritual,
dan agama.
Model
psikopatologi yang pertama memiliki banyak kategori. Hal itu
disebabkan oleh perspektif masingmasing psikolog yang berbeda-beda.
Dalam waktu tiga kurun ini, setidak-tidaknya ditemukan empat
perspektif dalam memperhatikan psikopatologi. Pertama, dari
perspektif biologi, idenya adalah bahwa gangguan fisik seperti
gangguan otak dan gangguan sistem syaraf otonom menyebabkan gangguan
mental seseorang; kedua,
dari perspektif psikoanalitik, idenya adalah
bahwa gangguan disebabkan oleh konflik bawah sadar yang biasanya
berawal dari masa kanak-kanak awal dan pemakaian mekanisme
pertahanan untuk mengatasi kecemasan yang ditimbulkan oleh impuls
dan emosi yang direpresi; ketiga, dari perspektif perilaku.
Perspektif ini memAndang gangguan mental dari titik pandang teori
belajar dan berpendapat perilaku abnormal adalah cara yang
dipelajari untuk melawan stres. Pendekatan ini mempelajari bagaimana
ketakutan akan situasi tertentu menjadi terkondisi dan peran yang
dimiliki oleh penguatan dalam kemunculan dan terpeliharanya perilaku
yang tidak tepat; keempat, dari perspektif kognitif, idenya
adalah bahwa gangguan mental berakar dari gangguan proses kognitif
dan dapat dihilangkan dengan mengubah kondisi yang salah tersebut.
Dari
hasil American Psychiatric Association tahun 1994 menyebutkan
15 jenis gangguan mental, yaitu :
-
Gangguan yang biasanya didiagnosis pertama kali pada masa bayi,
masa anak-anak, dan masa remaja. Gangguan dalam kategori ini
seperti hambatan (retardation) mental, gangguan belajar,
gangguan keterampilan motorik, gangguan komunikasi, gangguan
perkembangan, gangguan pervasive, gangguan kurang perhatian dan
perilaku mengacau, gangguan makan, dan penyimpangan lain dari
perilaku normal.
-
Delirium34,
Demensia35,
gangguan amnestik36,
dan gangguan kognitif lain. Gangguan yang disebabkan fungsi otak
terganggu, baik secara permanen atau pun sementara. Gangguan ini
disebabkan penuaan,
trauma kepala37,
penyakit menurunnya (degeneration) pada system Syaraf (seperti
karena HIV [Human Immunodeviciency], sifilis, atau penyakit
alzheimer38
-
Gangguan yang berhubungan dengan zat. Gangguan ini disebabkan
pemakaian alkohol yang berlebihan, cocaine, dan racun yang
mengubah perilaku. Termasuk dalam kelompok ini adalah marijuana
dan tembakau, walaupun masih diperselisihkan efek psikologisnya
-
Skizofrenia39
dan gangguan psikotik lainnya. Gangguan ini ditandai oleh
hilangnya kontak dengan realita, gangguan jelas proses berpikir
dan persepsi, dan perilaku yang aneh. Pada suatu fase, waham,
halusinasi, dan delusi hampir selalu terjadi
-
Gangguan Mood40.
Misalnya (1) terjadinya gembira secara abnormal; (2) gangguan
bipolar, yaitu individu merasa berganti-ganti antara periode
depresi dan elasi, atau mania; (3) depresi, yaitu respon normal
terhadap banyak stres kehidupan, seperti adanya kesedihan dan
kekesalan, penurunan motivasi dan gairah hidup, dan berpikir
negatif. Terhadap orang yang normal, depresi merupakan keadaan
kemurungan yang ditandai perasaan tidak pas, menurunnya kegiatan,
dan pesimisme menghadapi masa depan. Sedang pada kasus patologis,
depresi merupakan ketidakmampuan ekstrim untuk mereaksi terhadap
perangsang, disertai menurunnya nilai-diri, delusi ketidakpasan,
tidak mampu dan putus asa. Situasi yang sering menimbulkan depresi
adalah kegagalan sekolah dan bekerja dan kehilangan orang yang
dicintai.
-
Gangguan kecemasan : mencakup (1) gangguan yang mana kecemasan
merupakan gejala utama, seperti merasa takut tanpa alasan yang
jelas41,
merasa jengkel terhadap masalah kecil, sulit memutuskan masalah,
merasa tegang terus menerus; (2) Fobia (phobia) yaitu
ketakutan yang kuat dan irrasional, yang ditimbulkan oleh suatu
perangsang atau situasi khusus, seperti takut pada ketinggian
(acrophobia), takut pada tempat-tempat tertutup
(claustrophobia), takut pada darah
(hematophobia),
takut pada kegelapan (nyctophobia),
takut pada orang asing (enaphobia), dan takut pada binatang
(zoophobia); (3) gangguan obsesif-kompulsif42,
yaitu mencoba menahan diri dari melakukan ritual tertentu atau
memikirkan pikiran persisten; dan (4) gangguan stress
pascatraumatik.
-
Gangguan somatoform, yaitu gejala gangguan
pada fisik, tetapi tidak ditemukan penyebab organik dan faktor
psikis tampaknya berperan besar. Termasuk gangguan ini adalah
somatisasi, gangguan konversi (seperti wanita yang benci merawat
ibunya yang tua renta, sehingga tiba-tiba ia mengalami kelumpuhan
tangan), dan hipokondriasis (preokupasi berlebihan dengan
kesehatan dan merasa takut berlebihan akan penyakit walaupun tidak
ada alasan yang perlu ditakuti)
-
Gangguan disosiatif, yaitu perubahan
sementara fungsi kesadaran, ingatan, atau identitas karena masalah
emosional, seperti amnesia disosiatif (individu tidak dapat
mengingat segala sesuatu dari pengalaman hidupnya setelah terjadi
traumatik), dan gangguan kepribadian (dua atau lebih sistem
kepribadian yang terpisah terjadi pada individu yang sama)
-
Gangguan seksual dan identitas jenis.
Mencakup masalah gangguan gairah seksual, gangguan perangsang
seksual, gangguan orgasmik, gangguan nyeri ketika mengadakan
seksual, parafilia
yaitu penyimpangan seksual seperti tertarik
pada benda mati (fetishisme), mendapatkan kepuasan seksual
dengan memamerkan genitalnya kepada orang lain yang tidak menduga
(ekshibisionisme),
kepuasan seksual melalui kontak dengan anak
di bawah umur (pedofilia), dan keinginan menimbulkan nyeri
pada diri sendiri atau menderita nyeri disebabkan orang lain
(masokisme)
-
Gangguan makan, baik yang berkaitan dengan anoreksia nervosa
(suatu gangguan makan yangterutama menyerang wanita muda dan
ditAndai dengan penurunan berat badan yang ekstrim dan disengaja
oleh diri sendiri) dan bulimia nervosa (suatu gangguan
makan yang terutama menyerang wanita muda dan ditandai oleh
episode pesta makan, diikuti oleh upaya mencahar dan laksatif)
-
Gangguan tidur, baik berkaitan dengan insomnia kronis (tidak puas
dengan kuantitas dan kualitas tidur), hipersomnia (satu dorongan
yang tidak dapat dikontrol untuk tidur atau keinginan tidur yang
berlebihan), apnea tidur (gangguan tidur yang ditandai oleh
berhentinya pernapasan di saat tidur), tidur berjalan, narkolepsi
(gangguan tidur yang ditAndai oleh kecenderungan tidak terkendali
untuk tertidur singkat dalam waktu yang tidak tepat)
-
Gangguan pengendalian impuls. Mencakup gangguan eksplosif
intermitten, kleptomania (mencuri kompulsif benda-benda yang tidak
dibutuhkan untuk pemakaian pribadi atau nilai ekonomisnya),
berjudi patologis dan piromania (menimbulkan kebakaran untuk
kesenangan semata atau menghilangkan ketegangan)
-
Gangguan kepribadian43.
Pola prilaku maladaptive yang berlangsung lama, yang merupakan
cara yang tidak dewasa dan tidak tepat untuk menghadapi stres atau
pemecahan masalah, seperti perilaku antisosial (tidak adanya
empati atau kepedulian kepada orang lain dan tidak memiliki rasa
malu, menyesal atau berdosa jika melakukan kesalahan) dan gangguan
perilaku narsistik (cinta diri dan perhatian yang ekstrim
terhadap diri sendiri, sehingga tidak memiliki perhatian pada
orang lain)
-
Gangguan buatan, yaitu gejala fisik atau psikis yang ditimbulkan
secara buatan. Berbeda dari
malingering (berpura-pura) yang
mana tidak ada tujuan yang jelas, seperti ketidakmampuan membayar
tagihan atau menghindari wajib militer. Bentuk yang paling banyak
diteliti dinamakan sindroma munchausen, yaitu kesenangan
individu akan presentasi gejala fisik buatan menyebabkan individu
itu sering dirawat di rumah sakit.
-
Kondisi lain yang mungkin menjadi pusat perhatian klinis. Kategori
ini mencakup banyak masalah yang menyebabkan orang mecari bantuan,
seperti gangguan pergerakan akibat medikasi, masalah relasional (perkawinan,
hubungan anak-orang tua, tetangga) penelantaran, atau masalah
pekerjaan.
note
|
34. Delirium
adalah keadaan kebingungan atau kekacauan mental, dibarengi
dengan delusi, ilusi, dan halusinasi. Ia dapat disebabkan oleh
panas tinggi, obat bius, atau goncangan batin.
35. Demensia
adalah memburuk atau merosotnya proses intelektual, daya
pertimbangan dan proses emosional, ditAndai dengan
bentukbentuk tertentu dari senilitas dan psikosa.
36. Amnestik
adalah hilangnya ingatan, baik sebagian ataupun total,
disebabkan oleh kejadian apa pun juga. Atau, ketidakmampuan
fungsional untuk mengingat kembali masa lalu pribadi,
disebabkan konflik hebat atau trauma psikologis berat,
sehingga individu tersebut berusaha melupakan kejadian yang
dialami. Amnesia juga dapat disebabkan oleh kejutan otak,
seperti karena luka-luka pada bagian kepala
37. Trauma
adalah satu luka, baik yang bersifat fisik maupun psikis.
Trauma dibagi menjadi dua, yaitu: (1) neurosa traumatis (traumatic
neurosis); satu neurosa yang
disebabkan oleh satu pengalaman yang luar biasa menyakitkan
hati; (2) psikosa traumatik (traumatic
psychosis); satu keadaan
psikotik yang ditimbulkan luka di otak.
38. Alzheimer
adalah suatu bentuk senilitas premature (keadaan udzur
yang terlalu dini) yang aneh dan jarang sekali terjadi,
disebabkan oleh kemunduran fungsi otak.
39.
Skizofrenia (schiziphrenia) adalah sekelompok gangguan
yang ditandai oleh disorganisasi kepribadian yang parah,
distorsi realita, dan ketidakmampuan untuk berfungsi dalam
kehidupan sehari-hari. Skizofrenia ditandai dengan gangguan
pikiran dan atensi, baik dalam proses berpikir maupun isi
pikiran, gangguan persepsi, yaitu dunia tampak berbeda
baginya, gangguan pada kehidupan emosional dan afektif, gejala
motorik dan penarikan diri dari realitas yang sesungguhnya,
dan penurunan kemampuan untuk bekerja.
40. Gangguan
mood (mood disorder) adalah suatu gangguan mental yang
ditandai oleh perubahan suasana jiwa, seperti depresi, mania (luapan
yang berlebihan), dan gangguan bipolar di mana individu
mengalami dua ekstrim dua suasana jiwa
41. Drs.
Saifuddin Azwar, MA. Menulis dalam bukunya yang berjudul
SIKAP MANUSIA ‘Teori dan Pengukurannya’ : Prasangka seringkali
merupakan bentuk sikap negatif yang didasari oleh kelainan
kepribadian pada orang-orang yang sangat frustasi. Sikap
sangat anti Khadafi yang diperlihatkan oleh Reagen (sewaktu
dia masih menjadi presiden AS), sangat boleh jadi merupakan
prasangka yang didasari oleh ketakutan berlebihan dalam diri
bekas presiden Amerika itu, bahwa orang Libya akan selalu
berusaha membunuhnya disertai oleh perasaan ketidakberdayaan
terselubung dalam mempertahankan diri apabila orang-orang
Libya benar-benar datang untuk membunuhnya. Standar ganda yang
diterapkan oleh PBB dalam menghadapi tragedi Bosnia sehingga
NATO tampak begitu pengecut, menurut salahsatu analisis ahli,
antara lain disebabkan oleh ketakutan kalau-kalau kemenangan
di pihak Bosnia akan menciptakan negara muslim di Eropa yang
menurut prasangka Barat akan menjadi ancaman bagi Eropa.
Prasangka rasialis yang pernah terjadi di Indonesia dalam
bentuk demontrasi anti Cina dan pengrusakan terhadap toko-toko
milik Cina, sebagian besar lebih didasari oleh faktor
emosional yang berawal dari frustasi ketidakberdayaan melawan
atau menyamai dominasi orang Cina di bidang ekonomi.
Lepas dari prasangka yang didasari emosi itu, sebenarnya tidak
banyak alasan untuk bersikap negatif terhadap kelompok
minoritas Cina dikarenakan berbagai bentuk perbuatan
individual orang Cina, yang baik ataupun buruk, semuanya juga
dapat ditemui sehari-hari dalam perilaku orang pribumi. –tambahan
dari penyusun.
42. Obsesi
adalah intrusi persisten pikiran, bayangan, atau impuls yang
tidak diundang yang menimbulkan kecemasan. Atau, ide yang
tegar, menetap, dan seringkali tidak rasional, yang seringkali
dibarengi satu kompulsi untuk melakukan suatu perbuatan.
Kompulsi adalah dorongan yang tidak dapat ditahan untuk
melakukan tindakan atau ritual tertentu yang menurunkan
kecemasan. Neurosa obsesif-kompulsif
(Obsessive-Compulsive neurosa)
adalah satu psiko-neurosa dengan
ciri khas adanya ide yang tegar, tidak rasional, dan sering
tidak dikehendaki. Hal itu dilakukan untuk mengurangi atau
menghilangkan ketakutan dan perasaan bersalah.
43. Gangguan Kepribadian. Penderita
gangguan ini memiliki ciri-ciri berikut :
-
Hubungan pribadinya dengan orang lain
terganggu, dalam arti sikap dan perilakunya cenderung
merugikan orang lain.
-
Memandang bahwa semua kesulitannya
disebabkan oleh nasib buruk atau perbuatan jahat orang lain.
Dengan kata lain, penderita gangguan ini tidak pernah
memiliki rasa bersalah.
-
Tidak memiliki rasa tanggung jawab
terhadap orang lain : bersikap manifulatif atau senang
mengakali, mementingkan diri, tidak punya rasa bersalah, dan
tidak mengenal rasa sesal bila mencelakakan orang lain.
-
Celakanya, orang ini tidak pernah
dapat melepaskan diri dari pola tingkah lakunya yang
maladaptive itu.
-
Selalu menghindari tanggung jawab atas
masalah-masalah yang mereka timbulkan. (Mengenal prilaku
Abnormal, Dr. A. Sutiknya) – tambahan dari Penyusun.
|
|
|
|