| |

PENDAHULUAN
Dr. Abdul Ghani Abud,
Guru Besar Pendidikan Universitas Ain Syams Mesir, menulis dalam
Syarah sebuah buku karya Al-Ghazali berjudul “Wahai Ananda” :
Jika alam semesta terbagi menjadi dua bagian,
yakni alam fisik (materi) dan alam metafisik (alam Spiritual), maka
ilmu modern juga memperkuat dan menegaskan fakta tersebut, terutama
setelah ia mengalami kemajuan sarana-dan peralatan, serta mampu
mengungkapkan misteri alam metafisika.
Penemuan komunikasi wireless (tanpa kabel)
merupakan faktor penting dalam menguak berbagai kontroversi teoritis
di masa lalu seputar wujud alam ruh, karena melalui penemuan baru
ini, komunikasi melalui gelombang panjang dapat dimengerti; dapat
pula dipahami bagaimana segala sesuatu memiliki tingkat goncangan
dan arus bolak-balik, dan selanjutnya panjang gelombang. Dapat pula
dimengerti pembicaraan diseputar “akal semesta” yang berfungsi
sebagai perangkat pengirim (ke bagian-bagian semesta lainnya),
seperti halnya pembicaraan tentang akal manusia yang berfungsi
sebagai perangkat mini untuk menerima pesan - tentunya sesuai dengan
kemampuan akal masing-masing orang.
Kita melihat apa yang kita lihat dan mendengar
apa yang kita dengar dari alam sekitar melalui arus bolakbalik yang
dapat ditangkap mata dan telinga kita. Tetapi, apa yang tidak dapat
kita lihat dan dengar tidak selalu berarti tidak ada, karena ada
juga gelombang yang tidak dapat ditangkap mata ataupun telinga
manusia.
Alam ruh dengan wujud hakikinya tidak dapat
dilihat, didengar dan disentuh, karena merupakan gelombang atau arus
bolak-balik yang bergerak sangat cepat melebihi gerak cahaya.
Gelombang merupakan perantara metafisika yang merasuk ke semua benda.
Ia sangat keras dan sekaligus sangat elastis. Ia berlangsung di zona
goncangan yang melampaui zona goncangan sinar laser. Karena itu, ia
memasuki dan melingkupi alam kita dari semua penjuru, tetapi kita
tidak dapat merasakannya karena terjadi dalam zona goncangan yang
sangat tinggi.
Sebelum teori modern ini muncul, ilmu Islam
telah menetapkan fakta tersebut dengan bahasa yang sesuai kondisi
waktu itu. Imam Al-Ghazali sendiri menyebutkan dalam kitab Ihya
Ulumuddin, bahwa akal tidak berubah oleh kematian, tetapi yang
berubah hanyalah badan dan anggota tubuh, sehingga orang yang mati,
dipastikan
tetap memiliki akal dan
persepsi, serta merasakan penderitaan dan kenikmatan seperti
sebelumnya. Dengan kata lain, menurut Al-Ghazali, ruh adalah
subtansi ruhani yang berdiri sendiri, kekal dan abadi setelah
terpisah dengan badan, sampai kemudian ia kembali lagi kepadanya
pada hari kiamat.67
Buktinya, menurut Ibn Qayyim misalnya, ruh
orang yang hidup saling bertemu dalam mimpi sebagaimana ruh orang
yang hidup dan ruh orang yang mati bisa juga saling bertemu.
Nabi Muhammad SAW. Juga bersabda bahwa orang
yang mati mendengar suara sandal para pengantar jenazah, ketika
mereka bubar ke rumah masing-masing.
Dalam bidang metafisika ini, perbedaan antara
ilmu modern dan ilmu Islam adalah bahwa ilmu modern masih menapaki
ujung jalan dan hanya sampai pada sesuatu yang terbatas di dalam ruh.
Ilmu modern tidak mampu dan tidak akan mampu mengetahui berbagai
sisi alam ruh atau bidang metafisika. Sementara ilmu Islam bisa
mengetahui semua sisi alam ruh, dan lebih dari itu, Islam meletakan
semuanya dalam satu kerangka umum, yakni kerangka alam semesta yang
mencakup arsy Allah di atas salah satu penjuru alam semesta. Di
sekitar arsy kita dapat melihat para malaikat yang mulia, di alam
semesta ini kita juga melihat jin, setan, manusia dan hewan. Semua
makhluk, baik yang dapat dilihat mau pun yang tidak dapat dilihat
memiliki peran yang harus mereka jalankan, sebagaimana yang
dikehendaki Tuhan, dalam mengatur kehidupan di alam semesta ini, dan
melanjutkan kehidupan sampai hari kiamat.
Dalam rangkaian kajian yang saya tulis dalam
buku Al-Islam Wa Tahaddiyat Al-Ashr, saya memaparkan sejumlah
perspektif berkaitan dengan manusia, mulai dari perspektif ilmu
modern dan ragam cabangnya sampai perspektif agama-agama, baik agama
samawi maupun agama buatan manusia. Dari paparan tersebut, saya
menyimpulkan bahwa dalam kerangka penjelasan apa pun, perilaku
manusia masih merupakan suatu misteri selama kita tidak memasukkan
setan sebagai salah satu faktor aktif yang mengarahkan perilaku
manusia. “Sebab, (bagi saya) setan merupakan satu-satunya penjelasan
ilmiah dan rasional bagi kejahatan yang ada di alam, dan tanpa setan,
psikologi modern masih akan meraba-raba dalam menafsirkan kejahatan
yang terjadi dalam kehidupan manusia”68.
Karena itu, pada akhirnya saya mengajak semua
orang untuk melakukan pemberontakan ilmiah yang mendasar dalam
mengkaji manusia. “Hendaknya pemberontakan ini bersifat komprehensif,
yakni meliputi pemberontakan ilmiah atas konsep jiwa dan pengaruhnya
terhadap hati (miring); pemberontakan terhadap perang yang disulut
kaum status quo, yang tak ingin melihat hal baru disebutkan dalam
negeri kecuali jika mereka yang menyebutkannya; dan pemberontakan
atas kebusukan ilmiah yang diimpor kaum yang lemah dan gagal, yang
dinisbatkan pengimpor ataupun pengekspornya.”
Dalam hal ini, terlihat keunggulan pemikiran
Al-Ghazali ketika ia mengatakan bahwa sumber penyimpangan perilaku
dan kelemahan pribadi adalah pengumbaran hawa nafsu yang didorong
oleh setan. keunggulan ini dapat dicapai Al-Ghazali berkat Al-Qur’an
dan Hadist yang menjadi sumber pemikirannya, baik pemikiran
pendidikan maupun pemikirannya secara umum.
note
|
67. Islam
memandang bahwa persoalan metafisik merupakan persoalan
manusia pada umumnya. Setiap manusia, kapan dan dimana pun,
selalu berhubungan dengan persoalan-persoalan metafisik,
karena ia tidak dapat memecahkan masalahnya secara rasional.
Akal manusia terbatas pada apa yang bisa dipikirkan, dilihat,
dan dirasakan. Di sisi lain, banyak hal dalam kehidupan
manusia yang tidak terpikirkan akal semata. Islam memberikan
solusi metafisik bagi setiap persoalan yang akal manusia tidak
mampu memecahkannya. Joe H.
Slate, Ph.D (psikolog berlisensi, profesor, dan pendiri
Parapsychology Research Foundation),
mengakui bahwa akal tidak berubah karena kematian. ”Kematian,
bukan merupakan akhir keberadaan kita sebagai makhluk sadar.
Kematian merupakan pintu gerbang menuju dimensi yang
menakjubkan dari pertumbuhan yang berlangsung terus. Meskipun
pada waktu kematian tubuh jasmani ”habis” sebagai bentuk
kehidupan, tubuh nonfisik tetap bertenaga sewaktu tubuh
tersebut naik ke dunia tak kasat mata. Dalam dunia itu, daya
hidup permanen yang tercermin dalam aura tetap mentenagai daya
hidup yang mendasari keadaan kita sebagai makhluk sadar”.
68. Tidak ada
Agama-agama besar yang mengingkari keberadaan Setan;
berjuta-juta Pemuja Setan bertebaran di muka bumi. bahkan
ribuan diantaranya rela melakukan bunuh diri massal demi bakti
mereka kepada Setan. tidak akan pernah ada Skizofrenik yang
mau mengakui bahwa suara-suara yang didengarnya adalah
halusinasi belaka. Lebih banyak orang yang percaya keberadaan
setan daripada yang tidak.
Sayangnya banyak psikiater dan psikolog
Muslim yang ikut-ikutan (Taqlid) tidak mengakui
keberadaan setan karena pendidikan yang dijalaninya
berdasarkan pada sains dan psikologi Barat yang tidak mengakui
adanya setan dan cenderung materialisme. Jika ada yang percaya
keberadaan setan pun tidak berani mengungkapkannya dengan
alasan ”psikologi atau psikiatri tidak mengenal setan” atau
takut melawan arus dan pendapat umum padahal para tokoh ilmu
pengetahuan di berbagai bidang ilmu pengetahuan adalah mereka
yang berani melawan arus dan pendapat orang banyak. Para nabi
melawan arus dan pendapat umum. Joseph LeDoux
menjungkirbalikan anggapan umum tentang jalur-jalur yang di
tempuh emosi. Daniel Goleman Ph.D mendefinisikan ulang
apa arti cerdas. Billy P.S lim berani gagal ketika
orang-orang takut terhadap kegagalan. Kita tidak akan mengenal
transportasi udara jika Wright bersaudara tidak berani
melawan pendapat umum. Apa jadinya jika pelaut takut menentang
arus?
Seharusnya sebagai seorang muslim,
mereka mengetahui Tentang sains dalam pandangan umat Islam,
yang penjelasannya saya cantumkan dalam ”Islam dan Ilmu
Pengetahuan” pada bab 6. Mudah-mudahan di masa yang akan
datang, IPTEK di Republik Indonesia berbasis IMTAK (Iman dan
Takwa). perpaduan antara IQ dengan Kecerdasan Qalbiah.
Satanology ini akan saling mendukung dengan Psikologi dan
neurologi. Setan adalah pelaku utama timbulnya gangguan jiwa
pada seseorang. Gangguan jiwa mengakibatkan gangguan fisik (biologis)
sehingga tidak ada pertentangan antara satanology dengan ilmu
kedokteran. Bukan hal yang tidak masuk akal apabila setan yang
ukuran tubuhnya lebih kecil daripada virus jika sampai masuk
ke dalam otak, mereka akan merusak sistem jaringan syaraf atau
mengacaukan sistem komunikasi antar sel-sel otak. Setan pun
tak lebih dari sinyal-sinyal elektris seperti halnya tubuh
kita. Bentuk setan yang kita lihat, itu adalah bentuk yang
ditampilkan oleh otak kita. Ini adalah hal yang mudah dipahami
kecuali jika Anda seorang materialis.
Joe H. Slate, Ph.D (psikolog berlisensi,
profesor, dan pendiri Parapsychology Research Foundation),
dalam bukunya yang berjudul Energi Aura ”memanfaatkan energi
aura untuk menjaga kesehatan dan meraih keberhasilan karier”,
menulis : ”Melimpahnya temuan pemberdayaan oleh fenomena
supernatural bukan saja menantang kebijaksanaan konvensional,
peristiwa tersebut membuka suatu celah yang sekarang telah
menjadi lubang besar. Kini kita telah tahu bahwa dimensi
supernatural kesadaran itu merupakan fenomena universal yang
penting. Setiap orang adalah cenayang yang memiliki kemampuan
tak terbatas untuk pertumbuhan dan penemuan diri. Dalam upaya
untuk mendapatkan arti dan makna, kita harus melampaui
pengalaman fisik dunia materiil. Pengalaman supernatural
meruntuhkan dinding-dinding penghalang konvensional sehingga
suatu dataran baru yang menakjubkan dan penuh dengan
kemungkinankemungkinan pemberdayaan yang tak terbatas bisa
terungkap. Sekarang ini, jangkauan pengalaman supernatural
telah diperluas hingga mencakup setiap peristiwa –mental,
fisik, atau spiritual –baik yang melampaui keberadaan fisik
kita atau yang tidak mampu dijelaskan secara fisiologis. Di
antara contoh-contoh yang tak terbilang banyaknya adalah
penyembuhan supernatural, interaksi kasat mata, perjalanan di
luar tubuh, regresi pascahidup, dan perantaraan. Perlu dicatat
bahwa sudut pandang menyeluruh gejala supernatural semacam itu,
meskipun menekankan proses-proses supernatural, tidak
mengecualikan pengaruh-pengaruh biologis atau efek-efek
pengalaman supernatural tertentu terhadap fungsi-fungsi
biologis, termasuk fungsi-fungsi yang berkaitan dengan
kebugaran dan kesehatan yang lebih baik. Meskipun susunan
biologis kita menyediakan kondisi yang penting bagi
kelangsungan fisik kita dalam realitas sementara, biologi saja
tidak mampu menjelaskan eksistensi kita sebagai makhluk sadar
di alam semesta ini. Kita merupakan penghuni temporer di
planet ini, namun merupakan warga tetap di semesta alam”
Kisdarto Atmosoeprapto
dalam bukunya yang berjudul Menuju SDM
Berdaya ‘Dengan kepemimpinan Efektif dan Manajemen Efisien’,
menulis: Apa sebenarnya yang disebut logis, rasional, masuk
akal? Penentang Galileo, Kopernikus, dan Columbus, pada
zamannya menganggap mereka tidak logis, tidak rasional,
tidak masuk akal. Demikian pula sekarang masih ada orang
Eksimo yang menganggap orang Amerika tidak Logis, tidak
rasional, aneh. Demikian juga orang di daerah terasing dan
terpencil masih ada yang mengganggap masyarakat modern
tidak rasional, aneh, tidak layak. Bukankah hal tersebut
mengisyaratkan kepada kita, bahwa logika, rasio, akal
sangat dipengaruhi oleh waktu dan ruang. Sesuatu
yang pada suatu saat dianggap tidak logis, tidak rasional,
tidak masuk akal, pada saat lain menjadi logis,
rasional, dan masuk akal. Begitu pula yang di suatu tempat
dianggap tidak logis, tidak rasional, dan tidak masuk akal,
pada saat yang sama
tetapi tempat yang berbeda
menjadi logis, rasional, dan masuk akal. Sesuatu
biasanya kita anggap logis, apabila bisa diterima oleh
logika, rasio, akal yang telah kita miliki.
Mengenai logika, Edward de Bono dalam
bukunya “Water Logic” (1993) membedakan Rock Logic
dengan Water Logic. Sebuah karang bila kita jatuhkan ke
lantai akan tetap bentuknya, paling-paling hanya mengalami
patah bagian-bagiannya. Tetapi kalau kita menuangkan air, di
mana pun kita tuangkan, air tersebut akan membentuk “dirinya”
sesuai dengan tempat di mana air itu kita tuangkan. Air akan
beradaptasi dengan tempatnya mengalir atau dituangkan. Air
mempunyai bentuk yang luwes. Cara berpikir atau menggunkan
logika yang kaku itu pola pikir seperti karang.
Sedangkan cara berpikir dengan menggunakan logika fleksibel,
mengembangkan alternatif atau kemungkinankemungkinan
lain, baik yang belum atau sudah kita ketahui, adalah berpikir
dengan logika air.
De Bono menganjurkan agar kita jangan
terpancang pada kata “is” (adalah), tetapi sebaiknya
mempertimbangkan kata “to” (untuk). Sebuah tudung kepala yang
terbuat dari anyaman kulit bambu yang dalam bahasa Jawa
disebut caping, bisa juga digunakan untuk minumoleh
petani di sawah. Caping pun secara kreatif bisa digunakan
untuk kap lampu duduk. Dalam hal ini kalau kita terpancang
pada kataadalah (“is”), kita akan mengatakan: yang dipakai
orang sebagai tudung adalah caping. Akan tetapi, bila kita
mempertimbangkan kata untuk,kita akan mengatakan caping bisa
untuk tudung kepala, bisa untuk tempat minum, bisa juga untuk
kap lampu.
Jika terpaku pada kata “adalah”, orang
akan cenderung berpikir secara Rock Logic. Berusaha
menggunakan kata “to” (untuk) akanmembuat orang berupaya
berpikir secara Water Logic. Kopernikus, Galileo Galilei,
Columbus merupakan sosok yang berpikir secara WaterLogic.
Begitu pula para ilmuwan perintis kemajuan seperti Newton,
Archimedes, dan Albert Einstein bisa digolongkan orang yang
berpikirsecara Water Logic. Cerita “savage of Innocent” dan
“telepon genggam”, orang Eksimo dan orang pedalaman Arizona
masih berpikir denganlogika Rock Logic.Orang yang menganggap
debat argumen sebagai satu-satunya cara untuk menunjukkan
kemampuannya bisadigolongkan sebagai Rock Logic Person.
Untuk menghindari agar kita tidak
terjebak pada logika karang, dalam buku “Lateral Thinking”,
Edwar de Bono menganjurkan kita agar mengembangkan cara
berpikir “Lateral”, tidak “Vertikal” atau
Conventional,” seperti yang masih banyak dilakukan orang.
Cara berpikir Lateral, mengembangkan kemungkinan-kemungkinan
lain yang belum terjangkau oleh logika, rasio dan
akal kita pada saat ini. – tambahan dari penyusun. *
orang-orang yang berpikir secara Rock Logic biasanya termasuk
orang-orang yang hanya ikut-ikutan tanpa memiliki kemauan dan
keberanian untuk memberikan kontribusi pada ilmu pengetahuan.
Bahkan mungkin sebenarnya merekalah orang-orang yang
menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan. Merekalah
orang-orang yang selalu mengatakan tidak mungkin, tidak masuk
akal, tidak ilmiah. Namun ketika hal baru atau penemuan baru
tersebut ternyata di kemudian hari menjadi sesuatu yang
spektakuler dan memberikan sumbangan yang besar bagi ilmu
pengetahuan dan kemajuan, tanpa malu mereka terkagum-kagum.
|
|
|
|