countreg.com
ISLAMIC MEDIA
[ http://islamic.xtgem.com ]




PENDAHULUAN

 

Dr. Abdul Ghani Abud, Guru Besar Pendidikan Universitas Ain Syams Mesir, menulis dalam Syarah sebuah buku karya Al-Ghazali berjudul “Wahai Ananda” :

 

Jika alam semesta terbagi menjadi dua bagian, yakni alam fisik (materi) dan alam metafisik (alam Spiritual), maka ilmu modern juga memperkuat dan menegaskan fakta tersebut, terutama setelah ia mengalami kemajuan sarana-dan peralatan, serta mampu mengungkapkan misteri alam metafisika.

 

Penemuan komunikasi wireless (tanpa kabel) merupakan faktor penting dalam menguak berbagai kontroversi teoritis di masa lalu seputar wujud alam ruh, karena melalui penemuan baru ini, komunikasi melalui gelombang panjang dapat dimengerti; dapat pula dipahami bagaimana segala sesuatu memiliki tingkat goncangan dan arus bolak-balik, dan selanjutnya panjang gelombang. Dapat pula dimengerti pembicaraan diseputar “akal semesta” yang berfungsi sebagai perangkat pengirim (ke bagian-bagian semesta lainnya), seperti halnya pembicaraan tentang akal manusia yang berfungsi sebagai perangkat mini untuk menerima pesan - tentunya sesuai dengan kemampuan akal masing-masing orang.

 

Kita melihat apa yang kita lihat dan mendengar apa yang kita dengar dari alam sekitar melalui arus bolakbalik yang dapat ditangkap mata dan telinga kita. Tetapi, apa yang tidak dapat kita lihat dan dengar tidak selalu berarti tidak ada, karena ada juga gelombang yang tidak dapat ditangkap mata ataupun telinga manusia.

 

Alam ruh dengan wujud hakikinya tidak dapat dilihat, didengar dan disentuh, karena merupakan gelombang atau arus bolak-balik yang bergerak sangat cepat melebihi gerak cahaya. Gelombang merupakan perantara metafisika yang merasuk ke semua benda. Ia sangat keras dan sekaligus sangat elastis. Ia berlangsung di zona goncangan yang melampaui zona goncangan sinar laser. Karena itu, ia memasuki dan melingkupi alam kita dari semua penjuru, tetapi kita tidak dapat merasakannya karena terjadi dalam zona goncangan yang sangat tinggi.

 

Sebelum teori modern ini muncul, ilmu Islam telah menetapkan fakta tersebut dengan bahasa yang sesuai kondisi waktu itu. Imam Al-Ghazali sendiri menyebutkan dalam kitab Ihya Ulumuddin, bahwa akal tidak berubah oleh kematian, tetapi yang berubah hanyalah badan dan anggota tubuh, sehingga orang yang mati, dipastikan tetap memiliki akal dan persepsi, serta merasakan penderitaan dan kenikmatan seperti sebelumnya. Dengan kata lain, menurut Al-Ghazali, ruh adalah subtansi ruhani yang berdiri sendiri, kekal dan abadi setelah terpisah dengan badan, sampai kemudian ia kembali lagi kepadanya pada hari kiamat.67

 

Buktinya, menurut Ibn Qayyim misalnya, ruh orang yang hidup saling bertemu dalam mimpi sebagaimana ruh orang yang hidup dan ruh orang yang mati bisa juga saling bertemu.

 

Nabi Muhammad SAW. Juga bersabda bahwa orang yang mati mendengar suara sandal para pengantar jenazah, ketika mereka bubar ke rumah masing-masing.

 

Dalam bidang metafisika ini, perbedaan antara ilmu modern dan ilmu Islam adalah bahwa ilmu modern masih menapaki ujung jalan dan hanya sampai pada sesuatu yang terbatas di dalam ruh. Ilmu modern tidak mampu dan tidak akan mampu mengetahui berbagai sisi alam ruh atau bidang metafisika. Sementara ilmu Islam bisa mengetahui semua sisi alam ruh, dan lebih dari itu, Islam meletakan semuanya dalam satu kerangka umum, yakni kerangka alam semesta yang mencakup arsy Allah di atas salah satu penjuru alam semesta. Di sekitar arsy kita dapat melihat para malaikat yang mulia, di alam semesta ini kita juga melihat jin, setan, manusia dan hewan. Semua makhluk, baik yang dapat dilihat mau pun yang tidak dapat dilihat memiliki peran yang harus mereka jalankan, sebagaimana yang dikehendaki Tuhan, dalam mengatur kehidupan di alam semesta ini, dan melanjutkan kehidupan sampai hari kiamat.

 

Dalam rangkaian kajian yang saya tulis dalam buku Al-Islam Wa Tahaddiyat Al-Ashr, saya memaparkan sejumlah perspektif berkaitan dengan manusia, mulai dari perspektif ilmu modern dan ragam cabangnya sampai perspektif agama-agama, baik agama samawi maupun agama buatan manusia. Dari paparan tersebut, saya menyimpulkan bahwa dalam kerangka penjelasan apa pun, perilaku manusia masih merupakan suatu misteri selama kita tidak memasukkan setan sebagai salah satu faktor aktif yang mengarahkan perilaku manusia. “Sebab, (bagi saya) setan merupakan satu-satunya penjelasan ilmiah dan rasional bagi kejahatan yang ada di alam, dan tanpa setan, psikologi modern masih akan meraba-raba dalam menafsirkan kejahatan yang terjadi dalam kehidupan manusia”68.
 

Karena itu, pada akhirnya saya mengajak semua orang untuk melakukan pemberontakan ilmiah yang mendasar dalam mengkaji manusia. “Hendaknya pemberontakan ini bersifat komprehensif, yakni meliputi pemberontakan ilmiah atas konsep jiwa dan pengaruhnya terhadap hati (miring); pemberontakan terhadap perang yang disulut kaum status quo, yang tak ingin melihat hal baru disebutkan dalam negeri kecuali jika mereka yang menyebutkannya; dan pemberontakan atas kebusukan ilmiah yang diimpor kaum yang lemah dan gagal, yang dinisbatkan pengimpor ataupun pengekspornya.”

 

Dalam hal ini, terlihat keunggulan pemikiran Al-Ghazali ketika ia mengatakan bahwa sumber penyimpangan perilaku dan kelemahan pribadi adalah pengumbaran hawa nafsu yang didorong oleh setan. keunggulan ini dapat dicapai Al-Ghazali berkat Al-Qur’an dan Hadist yang menjadi sumber pemikirannya, baik pemikiran pendidikan maupun pemikirannya secara umum.

 

 

note


 

67. Islam memandang bahwa persoalan metafisik merupakan persoalan manusia pada umumnya. Setiap manusia, kapan dan dimana pun, selalu berhubungan dengan persoalan-persoalan metafisik, karena ia tidak dapat memecahkan masalahnya secara rasional. Akal manusia terbatas pada apa yang bisa dipikirkan, dilihat, dan dirasakan. Di sisi lain, banyak hal dalam kehidupan manusia yang tidak terpikirkan akal semata. Islam memberikan solusi metafisik bagi setiap persoalan yang akal manusia tidak mampu memecahkannya. Joe H. Slate, Ph.D (psikolog berlisensi, profesor, dan pendiri Parapsychology Research Foundation), mengakui bahwa akal tidak berubah karena kematian. ”Kematian, bukan merupakan akhir keberadaan kita sebagai makhluk sadar. Kematian merupakan pintu gerbang menuju dimensi yang menakjubkan dari pertumbuhan yang berlangsung terus. Meskipun pada waktu kematian tubuh jasmani ”habis” sebagai bentuk kehidupan, tubuh nonfisik tetap bertenaga sewaktu tubuh tersebut naik ke dunia tak kasat mata. Dalam dunia itu, daya hidup permanen yang tercermin dalam aura tetap mentenagai daya hidup yang mendasari keadaan kita sebagai makhluk sadar”.

 

68. Tidak ada Agama-agama besar yang mengingkari keberadaan Setan; berjuta-juta Pemuja Setan bertebaran di muka bumi. bahkan ribuan diantaranya rela melakukan bunuh diri massal demi bakti mereka kepada Setan. tidak akan pernah ada Skizofrenik yang mau mengakui bahwa suara-suara yang didengarnya adalah halusinasi belaka. Lebih banyak orang yang percaya keberadaan setan daripada yang tidak.

 

Sayangnya banyak psikiater dan psikolog Muslim yang ikut-ikutan (Taqlid) tidak mengakui keberadaan setan karena pendidikan yang dijalaninya berdasarkan pada sains dan psikologi Barat yang tidak mengakui adanya setan dan cenderung materialisme. Jika ada yang percaya keberadaan setan pun tidak berani mengungkapkannya dengan alasan ”psikologi atau psikiatri tidak mengenal setan” atau takut melawan arus dan pendapat umum padahal para tokoh ilmu pengetahuan di berbagai bidang ilmu pengetahuan adalah mereka yang berani melawan arus dan pendapat orang banyak. Para nabi melawan arus dan pendapat umum. Joseph LeDoux menjungkirbalikan anggapan umum tentang jalur-jalur yang di tempuh emosi. Daniel Goleman Ph.D mendefinisikan ulang apa arti cerdas. Billy P.S lim berani gagal ketika orang-orang takut terhadap kegagalan. Kita tidak akan mengenal transportasi udara jika Wright bersaudara tidak berani melawan pendapat umum. Apa jadinya jika pelaut takut menentang arus?

 

Seharusnya sebagai seorang muslim, mereka mengetahui Tentang sains dalam pandangan umat Islam, yang penjelasannya saya cantumkan dalam ”Islam dan Ilmu Pengetahuan” pada bab 6. Mudah-mudahan di masa yang akan datang, IPTEK di Republik Indonesia berbasis IMTAK (Iman dan Takwa). perpaduan antara IQ dengan Kecerdasan Qalbiah. Satanology ini akan saling mendukung dengan Psikologi dan neurologi. Setan adalah pelaku utama timbulnya gangguan jiwa pada seseorang. Gangguan jiwa mengakibatkan gangguan fisik (biologis) sehingga tidak ada pertentangan antara satanology dengan ilmu kedokteran. Bukan hal yang tidak masuk akal apabila setan yang ukuran tubuhnya lebih kecil daripada virus jika sampai masuk ke dalam otak, mereka akan merusak sistem jaringan syaraf atau mengacaukan sistem komunikasi antar sel-sel otak. Setan pun tak lebih dari sinyal-sinyal elektris seperti halnya tubuh kita. Bentuk setan yang kita lihat, itu adalah bentuk yang ditampilkan oleh otak kita. Ini adalah hal yang mudah dipahami kecuali jika Anda seorang materialis.

 

Joe H. Slate, Ph.D (psikolog berlisensi, profesor, dan pendiri Parapsychology Research Foundation), dalam bukunya yang berjudul Energi Aura ”memanfaatkan energi aura untuk menjaga kesehatan dan meraih keberhasilan karier”, menulis : ”Melimpahnya temuan pemberdayaan oleh fenomena supernatural bukan saja menantang kebijaksanaan konvensional, peristiwa tersebut membuka suatu celah yang sekarang telah menjadi lubang besar. Kini kita telah tahu bahwa dimensi supernatural kesadaran itu merupakan fenomena universal yang penting. Setiap orang adalah cenayang yang memiliki kemampuan tak terbatas untuk pertumbuhan dan penemuan diri. Dalam upaya untuk mendapatkan arti dan makna, kita harus melampaui pengalaman fisik dunia materiil. Pengalaman supernatural meruntuhkan dinding-dinding penghalang konvensional sehingga suatu dataran baru yang menakjubkan dan penuh dengan kemungkinankemungkinan pemberdayaan yang tak terbatas bisa terungkap. Sekarang ini, jangkauan pengalaman supernatural telah diperluas hingga mencakup setiap peristiwa –mental, fisik, atau spiritual –baik yang melampaui keberadaan fisik kita atau yang tidak mampu dijelaskan secara fisiologis. Di antara contoh-contoh yang tak terbilang banyaknya adalah penyembuhan supernatural, interaksi kasat mata, perjalanan di luar tubuh, regresi pascahidup, dan perantaraan. Perlu dicatat bahwa sudut pandang menyeluruh gejala supernatural semacam itu, meskipun menekankan proses-proses supernatural, tidak mengecualikan pengaruh-pengaruh biologis atau efek-efek pengalaman supernatural tertentu terhadap fungsi-fungsi biologis, termasuk fungsi-fungsi yang berkaitan dengan kebugaran dan kesehatan yang lebih baik. Meskipun susunan biologis kita menyediakan kondisi yang penting bagi kelangsungan fisik kita dalam realitas sementara, biologi saja tidak mampu menjelaskan eksistensi kita sebagai makhluk sadar di alam semesta ini. Kita merupakan penghuni temporer di planet ini, namun merupakan warga tetap di semesta alam”

 

Kisdarto Atmosoeprapto dalam bukunya yang berjudul Menuju SDM Berdaya ‘Dengan kepemimpinan Efektif dan Manajemen Efisien’, menulis: Apa sebenarnya yang disebut logis, rasional, masuk akal? Penentang Galileo, Kopernikus, dan Columbus, pada zamannya menganggap mereka tidak logis, tidak rasional, tidak masuk akal. Demikian pula sekarang masih ada orang Eksimo yang menganggap orang Amerika tidak Logis, tidak rasional, aneh. Demikian juga orang di daerah terasing dan terpencil masih ada yang mengganggap masyarakat modern tidak rasional, aneh, tidak layak. Bukankah hal tersebut mengisyaratkan kepada kita, bahwa logika, rasio, akal sangat dipengaruhi oleh waktu dan ruang. Sesuatu yang pada suatu saat dianggap tidak logis, tidak rasional, tidak masuk akal, pada saat lain menjadi logis, rasional, dan masuk akal. Begitu pula yang di suatu tempat dianggap tidak logis, tidak rasional, dan tidak masuk akal, pada saat yang sama tetapi tempat yang berbeda menjadi logis, rasional, dan masuk akal. Sesuatu biasanya kita anggap logis, apabila bisa diterima oleh logika, rasio, akal yang telah kita miliki.

 

Mengenai logika, Edward de Bono dalam bukunya “Water Logic” (1993) membedakan Rock Logic dengan Water Logic. Sebuah karang bila kita jatuhkan ke lantai akan tetap bentuknya, paling-paling hanya mengalami patah bagian-bagiannya. Tetapi kalau kita menuangkan air, di mana pun kita tuangkan, air tersebut akan membentuk “dirinya” sesuai dengan tempat di mana air itu kita tuangkan. Air akan beradaptasi dengan tempatnya mengalir atau dituangkan. Air mempunyai bentuk yang luwes. Cara berpikir atau menggunkan logika yang kaku itu pola pikir seperti karang. Sedangkan cara berpikir dengan menggunakan logika fleksibel, mengembangkan alternatif atau kemungkinankemungkinan lain, baik yang belum atau sudah kita ketahui, adalah berpikir dengan logika air.
 

De Bono menganjurkan agar kita jangan terpancang pada kata “is” (adalah), tetapi sebaiknya mempertimbangkan kata “to” (untuk). Sebuah tudung kepala yang terbuat dari anyaman kulit bambu yang dalam bahasa Jawa disebut caping, bisa juga digunakan untuk minumoleh petani di sawah. Caping pun secara kreatif bisa digunakan untuk kap lampu duduk. Dalam hal ini kalau kita terpancang pada kataadalah (“is”), kita akan mengatakan: yang dipakai orang sebagai tudung adalah caping. Akan tetapi, bila kita mempertimbangkan kata untuk,kita akan mengatakan caping bisa untuk tudung kepala, bisa untuk tempat minum, bisa juga untuk kap lampu.

 

Jika terpaku pada kata “adalah”, orang akan cenderung berpikir secara Rock Logic. Berusaha menggunakan kata “to” (untuk) akanmembuat orang berupaya berpikir secara Water Logic. Kopernikus, Galileo Galilei, Columbus merupakan sosok yang berpikir secara WaterLogic. Begitu pula para ilmuwan perintis kemajuan seperti Newton, Archimedes, dan Albert Einstein bisa digolongkan orang yang berpikirsecara Water Logic. Cerita “savage of Innocent” dan “telepon genggam”, orang Eksimo dan orang pedalaman Arizona masih berpikir denganlogika Rock Logic.Orang yang menganggap debat argumen sebagai satu-satunya cara untuk menunjukkan kemampuannya bisadigolongkan sebagai Rock Logic Person.

 

Untuk menghindari agar kita tidak terjebak pada logika karang, dalam buku “Lateral Thinking”, Edwar de Bono menganjurkan kita agar mengembangkan cara berpikir “Lateral”, tidak “Vertikal” atau Conventional,” seperti yang masih banyak dilakukan orang. Cara berpikir Lateral, mengembangkan kemungkinan-kemungkinan lain yang belum terjangkau oleh logika, rasio dan akal kita pada saat ini. – tambahan dari penyusun. * orang-orang yang berpikir secara Rock Logic biasanya termasuk orang-orang yang hanya ikut-ikutan tanpa memiliki kemauan dan keberanian untuk memberikan kontribusi pada ilmu pengetahuan. Bahkan mungkin sebenarnya merekalah orang-orang yang menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan. Merekalah orang-orang yang selalu mengatakan tidak mungkin, tidak masuk akal, tidak ilmiah. Namun ketika hal baru atau penemuan baru tersebut ternyata di kemudian hari menjadi sesuatu yang spektakuler dan memberikan sumbangan yang besar bagi ilmu pengetahuan dan kemajuan, tanpa malu mereka terkagum-kagum.

 



 
 

konversi html, navigasi & kompilasi chm oleh:
 
www.pakdenono.com

Create wapsite
Create wapsite