Allah SWT. Menciptakan manusia sebagai makhluk
yang sangat sempurna baik jasmani maupun rohaninya. Akan tetapi
kesempurnaan tersebut bisa berubah menjadi sebaliknya yaitu suatu
kondisi yang penuh dengan hina, tatkala Iman yang ada dalam dada
tidak terpelihara.
Informasi ini oleh Allah SWT. Diabadikan di
dalam kitab suci Al-Qur’an, yaitu sebuah kitab akhir zaman yang
diturunkan Tuhan, yang tak ada keraguan padanya sebagai petunjuk
bagi orang yang bertaqwa.
Artinya:
Demi pohon Tiin dan pohon Zaituun,
Demi bukit Tursina dan negeri Mekah yang aman sentosa,
Sesungguhnya manusia itu kami ciptakan dalam
keadaan sangat sempurna, setelah itu kami kembalikan ke tempat yang
serendah-rendahnya dalam keadaan hina, kecuali orang-orang yang
beriman, yang beramal Sholeh dan yang berbuat baik antar sesama,
bagi merekalah pahala yang tiada putus-putusnya.
Apakah sebabnya sehingga kamu dustakan hari
pembalasan itu?
Bukankan Allah itu hakim yang seadil-adilnya?
(QS At-Tiin: 1-8)
Peringatan Allah dalam surat At-Tiin tersebut
menyadarkan kepada kita semua, bahwa manusia itu sebenarnya dicipta
dengan sebaik-baik bentuk dan rupa, baik jasmani maupun ruhaninya.
Tetapi yang harus lebih disadari adalah bahwa keadan tersebut tidak
menjamin seterusnya baik, karena akan terjadi keadaan sebaliknya
yaitu manusia menjadi buruk, hina dan nestapa, karena ia tidak lagi
dapat memelihara amanat Allah untuk menjaga dirinya, lantaran ia
kalah berperang dengan musuh lamanya (setan yang terkutuk)
Benarkah setan itu musuh manusia yang beriman?
Firman Allah SWT :
Artinya :
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu,
maka dari itu perlakukanlah ia sebagai musuhmu, karena sesungguhnya
setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni
neraka yang menyala-nyala” (QS. Fathir : 6)
Mengapa setan70
harus kita perlakukan sebagai musuh yang nyata?
Sebab setan sudah berjanji kepada Allah SWT.
Semenjak pertama kali Allah menciptakan manusia. Mereka (setan dan
Iblis) serta semua anak keturunannya akan secara aktif mengganggu
dan menggoda manusia dari segala jurusan, agar manusia terpedaya
oleh bujukannya dan manusia akan menjadi pengikutnya untuk
menemaninya di dalam neraka dalam siksaan yang sangat pedih (na’udzubillah).
Perhatikan “sejarah” singkat berikut ini,
bagaimana mereka akan mengganggu manusia. Firman Allah SWT dalam
surat Al-Baqarah dan surat Al-A’raaf, yang artinya :
“Ingatlah ketika kami berfirman kepada para
Malaikat :
Tunduklah kamu kepada Adam, lalu tunduklah
mereka, kecuali Iblis. Ia menentang dan menyombongkan dirinya, dan
ia termasuk golongan yang kafir.
Kami berfirman : Hai Adam, diamlah kamu di
Syurga ini beserta istrimu, dan makanlah sepuas hati kalian, namun
jangan kalian dekati pohon ini, sebab nanti kalian akan tergolong
orang yang dzalim.
Lalu keduanya terpedaya oleh setan, dan
keduanya mengikuti perintah setan, sehingga keduanya tersingkir dari
tempat di mana mereka kini berada.
Kami berfirman : Turunlah kalian, sebagian
dari kalian akan menjadi musuh bagi yang yang lain, dan untuk kalian
tempatnya adalah di bumi itu, tempat kediaman dan kesenangan sampai
batas waktu yang ditentukan “ (Al-Baqarah : 34-36)
Artinya :
“Sesungguhnya kami telah menciptakan kamu
Adam, lalu kami bentuk tubuhmu, setelah mana kami perintahkan kepada
Malaikat, “Sujudlah ! kalian kepada Adam”, maka mereka pun sujudlah
kecuali Iblis, dia tidak termasuk dalam golongan mereka yang mau
bersujud.
Allah berfirman : “Apakah keberatanmu untuk
bersujud kepada Adam, ketika Aku menyuruhmu? Iblis menjawab : “saya
lebih baik dari padanya, Engkau menciptakan aku dari api, sedang dia
Engkau ciptakan dari tanah”
Allah berfirman : “Turunlah kamu dari syurga
ini, tidak sepatutnya kamu menyombongkan diri, sebab itu keluarlah
kamu, sesungguhnya kamu termasuk golongan yang hina.
Iblis menjawab : “beri tangguhlah aku, sampai
mereka dibangkitkan. Tuhan Berfirman : “kamu diberi tangguh!” Iblis
menjawab : “karena Engkau telah menetapkan aku menjadi makhluk sesat,
aku bersumpah untuk menghalang-halangi mereka dari jalan-MU yang
lurus, kemudian aku memperdayakan mereka, dengan mendatanginya dari
muka, belakang, dari kanan dan kiri. Dan Engkau tidak menemuinya
lagi, bahwa mereka sebagai golongan orang yang bersyukur.
Tuhan Berfirman : “Keluarlah kamu dari syurga
itu, sebagai orang yang hina dan terusir. Bagi mereka yang mengikuti
kamu, betul-betul akan aku isi neraka Jahanam dengan kalian semua”
(QS. Al-A’raf : 11-18)
Iblis adalah makhluk yang sombong dan
pembangkang, ia merasa lebih tinggi daripada manusia ciptaan Allah,
padahal malaikat yang terdiri atas cahaya pun mereka patuh pada
perintah Allah untuk menghormati manusia.
Satu hal yang perlu diperhatikan dari
informasi Al-Qur’an tersebut adalah bahwa iblis/setan akan bersikap
superaktif untuk menggoda dan menghalangi manusia dari jalan yang
lurus (kebenaran).
Kalau hal ini tidak disadari oleh manusia (orang
beriman), maka manusia sudah kalah satu langkah yang akhirnya akan
terperosok dalam kelompok mereka yang diancam Allah dengan adzab
yang sangat pedih.
Karena setan sudah bergerak untuk selalu
menghalangi jalan lurus manusia, bahkan dari arah muka, belakang,
kanan dan kiri, maka tidak ada kata lain bagi orang beriman, mereka
pun harus aktif untuk terus berupaya lebih mendekatkan diri kepada
Allah SWT.
Kalaulah pernyataan setan tersebut, bahwa ia
akan menggoda dari arah Horisontal (muka, belakang, kanan, kiri),
maka arah yang Insya Allah tak akan terbendung oleh setan adalah
arah Vertikal, karena pernyataan setan tersebut dari arah Horisontal
saja. Dengan demikian, barangsiapa yang arah vertikalnya baik, yaitu
: shalatnya terpelihara, puasanya karena Allah semata, do’anya
khusyu’, sujud dan rukuknya tawadhu, hatinya ikhlas, jiwanya tenang,
pendiriannya teguh, tak ada yang dia takuti kecuali Allah SWT., maka
niscaya setan tidak akan mampu menggoda orang semacam ini.
Pertanyaan berikutnya yang harus kita jawab
adalah :
Mengapa manusia sering kalah dalam berperang
dengan setan sebagai musuhnya yang sudah nyata itu?
Jawab : sebab, arah vertikal manusia tidak
terpelihara.
-
Kebanyakan manusia tidak dapat membedakan
mana yang baik dan mana yang buruk, mereka tidak lagi dapat
memisahkan mana yang haq dan mana yang bathil, karena hatinya
tertutup oleh nafsunya.
-
Kebanyakan manusia imannya tertanggal ketika
ia pergi, imannya turun ketika prestasinya naik, imannya berkurang
ketika rejekinya bertambah, dan imannya tidak ikut serta ketika ia
menghadapi setiap persoalan dalam hidupnya.
-
Kebanyakan manusia tidak yakin kalau
sebenarnya Tuhan itu sebagai Rabbun Naas, yang selalu menyertai
manusia ke mana saja ia pergi dan selalu mengawasi manusia di mana
saja ia berdiri. Kebanyakan manusia tidak yakin bahwa sebenarnya
Allah itu dekat. Sebenarnya yang membuat seseorang jauh dari Allah
itu, karena perbuatan manusia itu sendiri. Semakin sering
seseorang berbuat yang dilarang oleh Allah, maka semakin jauh ia
dari-NYA. Sebaliknya semakin sering seseorang melakukan
“perjalanan” kepada-NYA dengan khusyu dan semakin sering ia
melakukan amal perbuatan yang diperintahkan-NYA, maka semakin
dekat ia kepada Dzat yang dicintanya tersebut, dan setan pun tidak
akan berani mengganggunya, Insya Allah..
Manusia yang kalah dalam peperangan melawan musuh bebuyutannya ini,
ia akan terjerumus dalam lembah yang gelap, yang menyesatkan,
inilah yang harus diwaspadai oleh setiap hamba Allah yang selalu
menginginkan hidupnya bahagia.