| |
90
PENGERTIAN PSIKOTERAPI
Psikoterapi (psychotherapy) adalah
pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan
perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Istilah ini
mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu
dalam mengatasi gangguan emosionalnya, dengan cara memodifikasi
perilaku, pikiran, dan emosinya, sehingga individu tersebut mampu
mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.
James P.Chaplin lebih jauh membagi pengertian
psikoterapi dalam dua sudut pandang. Secara khusus, psikoterapi
diartikan sebagai penerapan teknik khusus pada penyembuhan penyakit
mental atau pada kesulitankesulitan penyesuaian diri setiap hari.
Secara luas, psikoterapi mencakup penyembuhan lewat keyakinan agama
melalui pembicaraan informal atau diskusi personal dengan guru atau
teman. Pada pengertian di atas, psikoterapi selain digunakan untuk
penyembuhan penyakit mental, juga dapat digunakan untuk membantu,
mempertahankan dan mengembangkan integritas jiwa, agar ia tetap
tumbuh secara sehat dan memiliki kemampuan penyesuaian diri lebih
efektif terhadap lingkungannya. Tugas utama psikiater adalah memberi
pemahaman dan wawasan yang utuh mengenai diri pasien serta
memodifikasi atau bahkan mengubah tingkah laku yang dianggap
menyimpang. Oleh karena itu, boleh jadi psikiater yang dimaksudkan
di sini adalah para guru, orang tua, saudara dan teman dekat yang
biasa digunakan sebagai tempat curahan hati serta memberi
nasihat-nasihat kehidupan yang baik.
Menurut Carl Gustav Jung, psikoterapi telah
melampaui asal-usul medisnya dan tidak lagi merupakan suatu metode
perawatan orang sakit. Psikoterapi kini digunakan untuk orang yang
sehat atau pada mereka yang mempunyai hak atas kesehatan psikis yang
penderitaannya menyiksa kita semua. Berdasarkan pendapat Jung ini,
bangunan psikoterapi selain digunakan untuk fungsi
kuratif (penyembuhan),
juga berfungsi
preventif (pencegahan), dan
konstruktif (pemeliharaan dan pengembangan jiwa yang sehat).
Ketiga fungsi tersebut mengisyaratkan bahwa usaha-usaha untuk
berkonsultasi pada psikiater tidak hanya ketika psikis seseorang
dalam kondisi sakit. Alangkah lebih baik jika dilakukan sebelum
datangnya gejala atau penyakit mental, karena hal itu dapat
membangun kepribadian yang sempurna.
Pengetahuan tentang psikoterapi sangat berguna
untuk (1) membantu penderita dalam memahami dirinya, mengetahui
sumber-sumber psikopatologi dan kesulitan penyesuaian diri, serta
memberikan perspektif masa depan yang lebih cerah dalam kehidupan
jiwanya; (2) membantu penderita dalam mendiagnosis bentuk-bentuk
psikopatologi; dan (3) membantu penderita dalam menentukan
langkah-langkah praktis dan pelaksanaan terapinya. Diakui atau tidak,
banyak seseorang yang sebenarnya telah mengidap penyakit jiwa, namun
ia tidak sadar akan sakitnya, bahkan ia tidak mengerti dan memahami
bagaimana seharusnya yang diperbuat untuk menghilangkan penyakitnya.
Karenanya dibutuhkan pengetahuan tentang psikoterapi.
BENTUK-BENTUK DAN TEKNIK PSIKOTERAPI
Setelah mempelajari teks-teks Al-Qur’an,
Muhammad Abd Al-Aziz Al-Khalidi membagi obat (syifa) dengan
dua bagian :
Pertama, obat hissi, yaitu obat yang dapat menyembuhkan
penyakit fisik, seperti berobat dengan air, madu, buah-buahan yang
disebutkan dalam Al-Qur’an; kedua, obat
ma’nawi, yaitu obat yang
dapat menyembuhkan penyakit ruh dan kalbu manusia, seperti do’a-do’a
dan isi kandungan dalam Al-Qur’an.
Pembagian dua kategori obat tersebut
didasarkan atas asumsi bahwa dalam diri manusia terdapat dua
substansi yang bergabung menjadi satu, yaitu jasmani dan ruhani.
Masing-masing substansi ini memiliki sunnah (hukum) tersendiri yang
berbeda satu dengan yang lain. Kelainan (penyakit) yang terjadi pada
aspek jasmani harus ditempuh melalui sunnah pengobatan
hissin, bukan
dengan sunnah pengobatan ma’nawi seperti berdoa. Tanpa
menempuh sunnahnya maka kelainan itu tidak akan sembuh. Permasalahan
tersebut menjadi lain apabila yang mendapat kelainan itu kepribadian
(tingkah laku) manusia91.
Kepribadian merupakan produk
fitrah nafsani
(jasmani-ruhani). Aspek ruhani
menjadi esensi kepribadian manusia, sedang aspek jasmani menjadi
alat aktualisasi. Oleh karena kedudukan seperti ini maka kelainan
kepribadian manusia tidak akan dapat disembuhkan dengan sunnah
pengobatan hissi, melainkan dengan sunnah pengobatan
ma’nawi. Demikian
juga, kelainan jasmani seringkali disebabkan oleh kelainan ruhani
dan cara pengobatannya pun harus dengan sunnah pengobatan ma’nawi
pula.
Dokter sekaligus filosof Muslim yang pertama
kali memfungsikan pengetahuan jiwa untuk pengobatan medis adalah Abu
Bakar Muhammad Zakaria Al-Razi (864-925). Menurut Al-Razi, tugas
seorang dokter di samping mengetahui kesehatan jasmani
(al-thibb al-jasmani)
dituntut juga mengetahui kesehatan jiwa
(al-thibb al-ruhani).
Hal ini untuk menjaga keseimbangan
jiwa dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya, supaya tidak terjadi
keadaan yang minus atau berlebihan. Oleh karena konsep ini maka Al-Razi
menyusun dua buku yang terkenal, yaitu
althibb al-Manshuriyah
(kesehatan al-Manshur) yang menjelaskan
pengobatan jasmani, dan al-Thibb al-Ruhani
(kesehatan mental) yang menerangkan
pengobatan jiwa
Kutipan di atas menunjukkan urgensinya suatu
pengetahuan tentang psikis. Pengetahuan psikis ini tidak sekadar
berfungsi untuk memahami kepribadian manusia, tetapi juga untuk
pengobatan penyakit jasmaniah dan ruhaniah. Banyak di antara
penyakit jasmani seperti kelainan fungsi pernapasan, usus perut, dan
sebagainya justru diakibatkan oleh kelainan jiwa manusia. Penyakit
jiwa seperti stres, was-was, dengki, iri-hati, nifak, dan sebagainya
seringkali menjadi penyebab utama penyakit jasmani. Ketika penyakit
jiwa itu kambuh maka kondisi emosi seseorang labil dan tak
terkendali. Kelabilan jiwa ini mempengaruhi syaraf dan fungsi
organik, sehingga terjadi penyempitan di saluran pernapasan, atau
penyempitan usus perut yang mengakibatkan penyakit jasmani.
Diskursus Kesehatan Mental (Mental Health)
kontemporer telah menemukan suatu jenis penyakit yang disebut
dengan psikosomatik (psychosomatic disorders). Penyakit ini
ditandai dengan keluhan-keluhan dan kelainan-kelainan pada alat
tubuh, misalnya jantung, alat pernapasan, saluran perut, kelamin dan
sebagainya. Kelainan ini disebabkan oleh faktor emosional melalui
syaraf-syaraf autonom. Kelainan emosional ini akan
menimbulkan perubahan-perubahan struktur anatomik yang tidak dapat
pulih kembali. Tanda-tAnda dari penyakit ini adalah jantung
dirasakan berdebar-debar
(palpitasi), denyut jantung tidak teratur
(arrhythmia),
pendek napas
(shortnes of breath),
kelesuhan yang amat hebat (fatique), pingsan
(faiting), sukar tidur
(insomnia),
tidak bernafsu makan (anoxia nervosa), impotensi dan
frigiditas pada alat kelamin. Diduga keras bahwa penyebab utama
penyakit ini adalah perasaan resah dan kecemasan
(anxiety).
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam “Ighatsah al-Lahfan”
lebih spesifik membagi psikoterapi dalam dua kategori,yaitu
tabi’iyyah dan
syar’iyyah. Psikoterapi
tabi’iyyah adalah pengobatan secara psikologis terhadap penyakityang
gejalanya dapat diamati dan dirasakan oleh penderitanya dalam
kondisi tertentu, seperti perasaankecemasan, kegelisahan, kesedihan,
dan amarah. Penyembuhannya dengan cara menghilangkan sebabsebabnya.
Psikoterapi syar’iyyah adalah pengobatan secara psikologis terhadap
penyakit yang gejalanya tidak dapat diamati dan tidak dapat
dirasakan oleh penderitanya dalam kondisi tertentu, tetapi ia
benar-benar penyakit yang berbahaya, sebab dapat merusak kalbu
seseorang, seperti penyakit yang ditimbulkan dari kebodohan, syubhat,
keragu-raguan, dan syahwat. Pengobatannya adalah dengan penanaman
syariah yang datangnya dari Tuhan. Hal itu dipahami dari QS. Al-An’am
: 125 : “Barangsipa yang Allah
menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia
melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa
yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan
dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.
Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak
beriman”.
Muhammad Mahmud Mahmud, seorang psikolog
muslim ternama, membagi psikoterapi Islam dalam dua kategori;
Pertama, bersifat
duniawi, berupa pendekatan dan
teknik-teknik pengobatan setelah memahami psikopatologi dalam
kehidupan nyata; Kedua,
bersifat ukhrawi, berupa
bimbingan mengenai nilai-nilai moral, spiritual, dan agama.
Model psikoterapi yang pertama lebih banyak
digunakan untuk penyembuhan dan pengobatan psikopatologi yang biasa
menimpa pada sistem kehidupan duniawi manusia, seperti neurasthenia,
hysteria, psychasthenia, schizophrenia92,
Manic depressive psychosis, kelainan seks, paranoia, psychosomatik,
dan sebagainya.
note
|
90.
NUANSA-NUANSA PSIKOLOGI ISLAM, Abdul Mujib, M.Ag & Jusuf
Mudzakir, M. Si, Divisi Buku Perguruan Tinggi PT Raja Grafindo
Persada
91. Kelainan
kepribadian (personality disorder) adalah seperti : (1)
paranoid, yaitu tidak dapat mengendalikan perasaan,
seperti cemburu, dengki, iri-hati, curiga, sikap bermusuhan;
(2) schizoid, yaitu kepribadian menarik diri dari dunia
ramai, mengurung diri, dan sulit mengekspresikan impulsive
agresifnya; (3) eksploisif, yaitu kepribadian suka
meledak; (4) histerik, yaitu kepribadian yang terlalu
sedih yang ditandai dengan isakan tangis, atau terlalu gembira
yang ditAndai dengan tawa terbahak-bahak; (5) kepribadian anti
sosial.
92.
Sebuah lantai tampak penuh coretan rumus matematika rumit.
Seorang pria dengan wajah tertunduk, terpaku pada rumus-rumus
itu. Berkat kejeniusannya, William Parcher seorang agen
penting pemerintah AS mempercayakan Jhon Nash untuk memecahkan
kode-kode rahasia yang berkaitan dengan intelijen negara.
Langkah ini membuat Nash terlibat dalam konspirasi dan
propaganda perang dingin antara Amerika Serikat (AS) melawan
Uni Soviet (Rusia). Alhasil, Jhon Nash, pengajar di
Massachuset Institut of Technology sibuk berkutat dengan
teori-teori sambil mengurung diri di kamarnya yang penuh
dengan coretan-coretan.
Belakangan diketahui bahwa pekerjaan
Nash untuk kegiatan intelijen ternyata ilusi belaka. Dia
menderita skizofrenia. Meski akhirnya bisa kembali ke rumah
dan berkumpul bersama keluarganya, Nash tidak pernah sembuh
total. Namun dukungan istri dan teman-temannya membuat dia
behasil melawan ilusi-ilusi agen-agen intelijen. Nash terus
berusaha mengendalikan diri dan berdamai dengan ilusinya.
Kemudian, kejeniusannya mengantarkan hadiah nobel yang
diterima pada tahun 1994. perjuangan Nash dituangkan dalam
film A Beautiful Mind.
Di dunia ini banyak Nash-Nash lain yang
terus berjuang keluar dari kungkungan penyakit kejiwaan
skizofrenia. Jumlahnya diperkirakan sekitar 1 % dari seluruh
penduduk dunia. Sedangkan di Indonesia, sekitar 1 %hingga 2 %
dari total jumlah penduduk. Mungkin tidak terlalu besar, namun
jumlah penderita skizofrenia di dunia terus bertambah.
Masalahnya banyak keluarga yang belum mengerti benar apa itu
skizofrenia. Ketidakmengertian itu melahirkan jalan pintas.
Rata-rata memasukkan kerabatnya ke rumah sakit jiwa. Padahal
penyakit ini bisa dikendalikan. Dengan kemauan diri yang keras
dan dukungan keluarga, penderitanya bisa hidup normal. Sumber:
Internet
Pada awal tahun 1950-an, dua orang
dokter Kanada, Abram Hoffer dan Humphrey Osmond, mengobati
penderita skkizofrenia denganmenggunakan niasin (vitamin B-3 -dari
penyusun) dalam dosis tinggi. Pada tahun 1962 mereka
melaporkan bahwa suatu eksperimen terkendali jangka panjang
terhadap 82 penderita menunjukkan bahwa ”megadosis” niasin
telah berhasil menghilangkan gejala-gejala skizofrenia. Dengan
demikian mulailah terapi ”megavitamin” terhadap kelainan
mental. Sumber : Ilmu Pengetahuan Populer jilid 8 (Grolier
International, Inc) – tambahan dari penyusun
|
|
|
|