countreg.com
ISLAMIC MEDIA
[ http://islamic.xtgem.com ]


Program Komprehensif Internasional untuk menanggulangi

Masalah Penyalahgunaan Narkoba, HIV/AIDS, dan Psikopatologi


 

 

Islam Therapy Merupakan suatu ajakan kepada Para Penyalahguna Narkoba, ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), para Pengidap gangguan Psikologis (gelisah, frustasi, cemas, bersedih hati, emosi tidak stabil, putus asa, hidup tanpa tujuan, gangguan kepribadian, dsb) dan Segenap umat Nabi Muhammad SAW, untuk menjadikan Islam sebagai Modalitas Terapi. Ajaran Islam yang umum seperti Sholat, Sholat Berjamaah, Puasa,

 

Wudhu, Bersiwak, memakai wewangian, membaca Al-qur’an, dzikir, Sholat Tahajud, dan sebagainya telah dilakukan banyak riset oleh para pakar kesehatan di berbagai negara termasuk Indonesia. Hasilnya, segala yang diperintahkan dalam agama Islam berkaitan erat dengan kesehatan fisik dan mental serta kesehatan lingkungan hidup sedangkan segala yang dilarang adalah karena dapat merusak tubuh, jiwa, Sistem Imun, sistem Sensor, akal, dan sebagainya.

 

Selain itu, ada juga ilmu kedokteran Islam, Thibbun Nabawi, yaitu ilmu kedokteran yang diajarkan oleh Nabi seperti Bekam (Cupping Metodh), Ruqyah, Madu, Habbatussauda (Black Cumin), dan lain-lain yang juga telah dilakukan penelitian ilmiah baik di Amerika, Jepang, Mesir, Jerman, Perancis, dan lain-lain dengan hasil yang sangat menakjubkan!

 

Dr. Moh Sholeh Menulis dalam bukunya yang berjudul “Terapi Salat Tahajud Menyembuhkan Berbagai Penyakit” : “Menurut Paradigma lama, Agama dinilai sebagai sesuatu yang harus diterima secara Dogmatis, terpisah dari Sains, dan mustahil bisa dibuktikan secara ilmiah. Implikasinya adalah bahwa dakwah sering dilakukan hanya dengan pendekatan yang bersifat normative, ancaman, dan siksaan, bukan atas dasar bahwa ibadah itu suatu kebutuhan dan memiliki implikasi langsung bagi kesehatan dan kesempurnaan lahir-batin”.

 

Dr. R. H. Su’dan M.D., S.K.M. dalam kata pengantar bukunya yang berjudul “Al-Qur’an & Panduan Kesehatan Masyarakat” menulis : menurut pendapat kami, juru dakwah yang baik harus tahu ilmu kesehatan masyarakat, sebaliknya juru kesehatan yang baik juga harus tahu dasar-dasar ajaran Islam. Pendidikan kesehatan harus dimasukkan secara integral ke dalam kurikulum pesantren. Sebaliknya pendidikan Islam harus pula dimasukkan ke dalam kurikulum kedokteran. Al-Qur’an, Al-Hadis, ilmu kesehatan serta kedokteran harus dibahas secara terpadu. Dapat dimulai dengan mengemukakan dahulu ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadis serta Fiqh dan kita buktikan bahwa ajaran Islam sesuai dengan kesehatan”

 

Agama Islam adalah Agama yang lengkap dan sempurna. Dalam agama Islam diajarkan Kecerdasan Qalbiah, Entrepreneurship, Ilmu dakwah (penyuluhan), mencari dan menyebarluaskan informasi, Ilmu ekonomi,Ilmu pendidikan, Psikologi, Iptek, Politik, Ilmu komunikasi, Management, Mnemonik, Konseling, memberdayakan SDM, Sosiologi, Leadership, dll.
 

Kecerdasan Qalbiah

 

Kecerdasan Qalbiah adalah kecerdasan Intelektual , Emosional, Moral, Spiritual, dan Agama. Sosok yang telah mencapai kecerdasan Qalbiah yang sempurna adalah Nabi Muhammad SAW. Secara fisik, beliau pernah dibedah kalbunya sebanyak empat kali oleh malaikat Jibril dan disucikan dengan air Zam-zam. Salah satu pembedahannya adalah ketika beliau akan melakukan perjalanan isra’ dan mi’raj. Dalam satu sisi, Nabi Muhammad SAW. dikatakan sebagai sosok yang ummi, dalam arti tidak bisa membaca dan menulis, padahal membaca dan menulis dianggap sebagai dasar-dasar kecerdasan intelektual-rasional. Hal itu tidak berarti bahwa beliau tidak memiliki kecerdasan sama sekali. Boleh jadi secara intelektual (rasional) beliau tidak memiliki kecerdasan, tetapi secara intelektual (intuitif), emosional, moral, spiritual, dan beragama beliau dianggap orang yang paling tinggi memiliki kecerdasan. Dampak buruk dari pendidikan yang hanya mengejar nilai akademis dengan tidak mempedulikan kecerdasan emosi, moral, spiritual, dan agama, adalah kehancuran.

 

Daniel Goleman Ph.D menulis dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelligence : Tipe murni IQ-tinggi (artinya mengesampingkan kecerdasan emosional) hampir merupakan karikatur kaum intelektual, terampil di dunia pemikiran tetapi canggung di dunia pribadi. Profil-profilnya sedikit berbeda untuk kaum pria dan kaum wanita. Pria ber-IQ tinggi dicirikan- tak mengherankan- dengan serangkaian luas kemampuan dan minat intelektual. Penuh ambisi dan produktif, dapat diramalkan dan tekun, dan tidak dirisaukan oleh urusan-urusan tentang dirinya sendiri. Cenderung bersikap kritis dan meremehkan, pilih-pilih dan malu-malu, kurang menikmati seksualitas dan pengalaman sensual, kurang ekspresif dan menjaga jarak, dan secara emosional membosankan dan dingin. Sebaliknya kaum pria yang tinggi kecerdasan emosionalnya, secara sosial mantap, mudah bergaul dan jenaka, tidak mudah takut atau gelisah. Mereka berkemampuan besar untuk melibatkan diri dengan orang-orang atau permasalahan, untuk memikul tanggung jawab, dan mempunyai pandangan moral; mereka simpatik dan hangat dalam hubungan-hubungan mereka. Kehidupan emosional mereka kaya, tetapi wajar; mereka merasa nyaman dengan dirinya sendiri, dengan orang lain, dan dunia pergaulan lingkungannya. Kaum wanita yang semata-mata ber-IQ tinggi mempunyai keyakinan intelektual yang tinggi, lancar mengungkapkan gagasan, menghargai masalah-masalah intelektual, dan mempunyai minat intelektual dan estetika yang amat luas. Mereka juga cenderung mawas diri, mudah cemas, gelisah, dan merasa bersalah, dan ragu-ragu untuk mengungkapkan kemarahan secara terbuka (meskipun melakukannya secara tidak langsung). Sebaliknya, kaum wanita yang cerdas secara emosional cenderung bersikap tegas dan mengungkapkan perasaan mereka secara langsung, dan memandang dirinya sendiri secara positif; kehidupan bagi mereka memberi makna. Sebagaimana kaum pria, mereka mudah bergaul dan ramah, serta mengungkapkan perasaan mereka dengan takaran yang wajar (misalnya, bukan dengan meledak-ledak yang nanti akan disesalinya); mereka mampu menyesuaikan diri dengan beban stres. Kemantapan pergaulan mereka membut mereka mudah menerima orang-orang baru; mereka cukup nyaman dengan dirinya sendiri sehingga selalu ceria, spontan, dan terbuka terhadap pengalaman sensual. Berbeda dengan kaum wanita yang semata-mata ber-IQ tinggi, mereka jarang merasa cemas atau bersalah atau tenggelam dalam kemurungan. Tentu saja gambaran ini merupakan gambaran ekstrem- kita semua memiliki campuran kecerdasan IQ dan kecerdasan emosional dengan kadar yang berbeda-beda. Tetapi, gambaran ini menyajikan suatu pandangan instruktif tentang apa yang ditambahkan secara terpisah oleh masing-masing dimensi ini terhadap ciri seseorang. Sejauh seseorang sekaligus mempunyai kecerdasan kognitif maupun emosional, gambaran-gambaran ini berbaur. Namun, di antara keduanya, kecerdasan emosional menambahkan jauh lebih banyak sifat-sifat yang membuat kita menjadi lebih manusiawi.

 

Entrepreneurship

 

Entrepreneurship merupakan karakter yang dimiliki oleh seseorang yang dapat menghasilkan sesuatu yang sumber asalnya berada atau tersebar di berbagai pihak. Ia menjadikannya suatu hal yang baru yang bermanfaat melalui suatu proses inovasi. Ia juga menjadi bagian praktek atau perilaku baru dalam masyarakat yang dibicarakan. Individu yang melakukan hal tersebut dinamakan entrepreneur. Jadi kata kuncinya adalah inovasi. Dan inovasi tersebut hasilnya diterima oleh masyarakat. Kata masyarakat inilah yang berkaitan dengan istilah civic. Karena itu, inovasi tersebut harus memberikan keuntungan bagi seluruh masyarakat, bukan hanya memberikan keuntungan bagi sang inovator atau seorang entrepreneur saja. Karena itu seorang entrepreneur sejak awal harus memiliki jiwa atau semangat kemasyarakatan. Seorang civic entrepreneur dapat berasal dari LSM, dunia usaha, pemerintah atau kalangan lainnya yang memiliki motivasi untuk mengembangkan inovasi demi kepentingan umum. Metoda atau teknik untuk mencapai hal tersebut serta skalanya bermacam-macam tergantung masalah yang dihadapi dan tujuan yang ingin dicapai.

 

Karena dasarnya adalah inovasi, artinya memperbesar ruang alternatif. Maka hal tersebut menuntutditemukannya hal-hal baru. Misalnya, cara baru bagaimana membangkitkan kesadaran dan kepentinganbersama, cara baru memobilisir sumber daya yang tersedia pada seluruh partisipan, bagaimana menghasilkanteknologi baru, bagaimana membangun sistem insentif yang baru dan lain-lain. Nabi Muhammad adalahseorang entrepreneur yang sukses dengan multiinovasinya. Beliau sukses di jalur Agama, wirausaha, politik,sosial, Pendidikan, dan lain-lain yang jika kita mau mengikuti cara Nabi, Insya Allah, kita pun akan meraihkesuksesan di berbagai bidang baik keduniawian maupun Ukhrawi.

 

A. Khoerussalim Ikhs, dalam bukunya yang berjudul To Be Moslem Entrepreneur mengabarkan kepada kita bahwa Nabi Muhammad adalah seorang entrepreneur bermodal dengkul, tidak bisa baca tulis, yatim piatu tapi bisa Sukses!. bagi Entrepreneur yang takut dengan persaingan, dalam buku tersebut mengingatkan bahwa kita adalah pemenang dari 200 juta sel sperma dalam kompetisi memperebutkan sel telur dengan taruhan yang sangat mengerikan; jika menjadi pemenang Anda hidup, jika tidak Anda mati. Dari 200 juta sel sperma, Andalah yang menang sedangkan yang lain mati. melawan ratusan juta saingan saja kita berani, apalagi hanya ribuan? Ketika memperebutkan sel telur, semua target terfokus pada satu sasaran. Sedangkan dalam persaingan saat ini, tampaknya saja satu sasaran, namun belum tentu dalam perjuangannya semuanya fokus pada target. Karena Ada yang berkompetisi sambil memikirkan problem rumah tangga, ada yang kekurangan modal, ada yang memikirkan rencana liburan, dan lain sebagainya. dan jangan lupa, 200 juta sel sperma dalam persaingannya tidak saling menjegal, bermusuhan, apalagi saling membunuh. Silahkan baca juga buku Rahasia Bisnis Rasulullah ’12 Rahasia Besar kepemimpinan Rasulullah dalam membangun Megabisnis yang selalu untung sepanjang sejarah’ karya Prof. Laode kamaluddin, Ph.D.

 

Saya pun ingin menambahkan bahwa Nabi Muhammad adalah Motivator ulung. Ketika para sahabatnya disiksa oleh kaum kafir karena keislamannya, Nabi Muhamad tampil sebagai motivator sehingga para sahabat yang disiksa mampu bersabar padahal siksaan yang dialaminya sangat biadab. Cara Nabi memotivasi sahabatnya yang sedang disiksa, jika kita terapkan pada orang yang tidak dalam siksaan, mungkin lebih berhasil. Nabi memotivasi para sahabatnya dengan cara menceritakan kenikmatan surga, kebahagiaan abadi, penderitaan di dunia hanya sebentar, dan sebagainya. Para motivator ketika memotivasi dengan cara menceritakan kesuksesan, kebahagiaan, kekayaan, penderitaan dalam perjuangan menggapai cita-cita hanya sebentar, dan sebagainya agar para pendengar termotivasi, mungkin tidak menyadari bahwa mereka sedang mengamalkan sunnah Nabi.

 

Hal yang tak kalah menarik yang harus kita perhatikan adalah kerja keras Nabi dalam Mempresentasikan “produk” (agama). Beliau tidak malu, tidak takut gagal, tak putus asa, teguh pendirian, sabar meskipun diludahi dan dilempari dengan batu dan kotoran unta oleh prospek. Ketika kita mempresentasikan produk, kita pun akan menemui orang yang seperti Abu Bakar (ditawari langsung membeli), Abu Jahal (sama sekali tidak tertarik bahkan menghalang-halangi gerakan bisnis kita walaupun telah ditawari berkali-kali), dan seperti seorang paman Nabi yang mendukung namun tidak membeli.

 

Sayling Wen menulis dalam bukunya yang berjudul LEADERSHIP Kepemimpinan-Sebuah Resep dari Sun Zi : Sering dikatakan bahwa dari semua orang di muka bumi ini, bangsa Cina-lah yang paling suka jadi tuan bagi diri sendiri, mendirikan perusahaan, dan jadi bos bagi diri sendiri. Pernyataan ini sangat indah dan mentalitas mereka tercermin dalam ungkapan Cina ”Lebih baik jadi kepala ayam daripada jadi ekor lembu”. Saya sering mendengar orang-orang muda Cina mendiskusikan aspirasi dan rencana mereka. Mereka akan membicarakan bagaimana mereka akan memulai usaha ini atau itu.

 


 
 

konversi html, navigasi & kompilasi chm oleh:
 
www.pakdenono.com

Best site builder
Create wapsite