| |
|

Terapi Iman
Allah SWT berfirman ,
“Ingatlah, Hanya
dengan mengingati Allah-lah hati Orang yang beriman Menjadi Tentram”
(QS. Ar-Ra’d : 28)
Dale
Carnigie, seorang penulis besar
tentang iImu-ilmu kejiwaan, dengan jelas dan tegas mengatakan
tentang pengaruh iman dalam mencegah Ketegangan : “para dokter
kejiwaan sepakat bahwa keimanan yang kokoh dan berpegang pada Agama
dapat menghilangkan ketegangan syaraf dan dapat menyembuhkan
berbagai penyakit”. Seorang Ilmuwan bernama Budley, mengatakan
tentang pengaruh iman kepada Allah, “Saya sama sekali tidak pernah
mengalami ketegangan padahal saya hidup di gurun pasir. Bahkan saya
hidup di surga Allah karena saya mendapatkan ketenangan, sikap
Qana’ah (menerima apa adanya), dan sikap Ridha (Rela). Banyak orang
yang menertawakan sifat “pasrah kepada Tuhan” yang telah diyakini
oleh orang-orang Muslim Arab. Tapi siapa yang tahu; justru
orang-orang Muslim inilah yang benar dan telah menemukan hakikat
kebenaran. Dengan cara yang aku dapatkan dari orang-orang Arab ini,
aku lebih dapat menenangkan syarafku daripada ribuan obatobat
Penenang”
Ibnu Al-Qayyim menulis dalam buku “Thibb An Nabawi” : “kalau
hati sudah terikat dengan Rabb dari sekalian makhluk, pencipta dari
segala obat dan penyakit, pengatur yang mengurus segala sesuatu
sesuai kehendak-NYA sendiri, pasti hati tersebut memilki berbagai
macam obat yang tidak dimiliki oleh hati yang jauh dan berpaling
dari Allah. Kalau Ruhani kuat, maka tabiat dan jiwa manusianya juga
menjadi kuat. Tabiat dan jiwa seseorang akan saling mendukung dalam
mengusir dan mengatasi penyakit. Tidak mungkin dipungkiri bahwa obat
yang paling mujarab itu dimiliki oleh orang yang tabiat dan jiwanya
kuat, yang selalu merasa senang dan tentram karena menjadi dekat
dengan penciptanya, merasa suka dan nikmat berdzikir kepada Allah,
seluruh kekuatan tertuju hanya kepada Allah, selalu memohon
pertolongan dan bertawakal kepada Allah. Kekuatan yang ada pada
dirinya dapat menghilangkan rasa sakit secara menyeluruh”
DR. Aidh al-Qarni menulis dalam bukunya yang berjudul LA
TAHZAN (JANGAN BERSEDIH!) : Para penulis Barat yang terkenal seperti
Kersey Merson, Alexis Carlyle, dan Dale Carnegie mengakui bahwa yang
bisa menyelamatkan Barat yang materialis yang kini telah ambruk itu
adalah keimanan kepada Allah. Mereka menyebutkan bahwa penyebab
utama dan rahasia terbesar dari terjadinya tindakan bunuh diri yang
kini menjadi fenomena di Barat adalah kekafiran dan keberpalingan
orang-orang Barat dari Allah Rabb semesta alam.
Dr. Moh.Soleh : Kontribusi Iman terhadap korteks amigdala
terjadi ketika melakukan transaksi atau memberikan sinyal berupa
muatan nilai yang dapat dijadikan dasar pijakan bagi neo korteks
dalam mengendalikan amigdala-hipokampus. Ini dilakukan agar amigdala
memberikan respons terhadap tiap rangsangan (stimulus) dengan
respons normal, positif, bukan respon darurat dan negatif. Misalnya
peristiwa seorang ibu ketika menghadapi kematian anaknya karena
suatu kecelakaan. Rangsangan yang berupa peristiwa kematian ini
berjalan dari retina mata dan atau telinga ke batang otak, menuju
thalamus. Di thalamus, rangsangan itu diformat sesuai bahasa otak.
Sebagian kecil rangsangan itu ditransmisikan ke amigdala dan
hipokampus dan sekitarnya, lalu sebagian besar dikirim ke neo
korteks. Di neo korteks inilah rangsangan dianalisis dan dipahami.
Hipokampus adalah tempat bagi ingatan dan penyimpanan berbagai pesan
– termasuk pesan keagamaan, seperti pesan harus sabar bila tertimpa
musibah; segala sesuatu itu tidak lepas dari kehendak Allah;
kehendak Allah SWT. Adalah keputusan terbaik. Maka hipokampus,
sesuai dengan fungsinya, memberikan makna dari rangsangan kematian
itu dengan makna yang normal dan positif. Jika hipokampus tidak
pernah menyimpan pesan keagamaan, bisa jadi rangsangan kematian itu
oleh hipokampus diberi makna cemas, depresi, atau stress dan
sejumlah momen-momen darurat lainnya. Sementara itu, neokorteks
prefrontal kiri mengendalikan prefrontal kanan – di mana perasaan
cemas, depresi, dan agresif bersarang - agar menerima rangsangan
kematian itu dengan analisis respons kesabaran, positif dan normal.
Jika kedua neokorteks kiri-kanan sepakat bulat bahwa rangsangan itu
diterima sebagai suatu kesabaran, kepastian keputusan itu dikirim ke
hipokampus untuk dicocokkan apakah pesan kesabaran ketika menerima
musibah itu pernah tersimpan dalam memori hipokampus. Jika ragu-ragu,
rangsangan itu berpindah-pindah dari amigdala, hipokampus, dan
korteks sampai akhirnya mencapai kepastian. Jika ya, rangsangan itu
dikirim ke amigdala yang mempunyai serangkaian tonjolan dengan
reporter yang disiagakan untuk berbagai macam neurotransmitter,
mengirim ke wilayah sentralnya, menghidupkan hipotalamus, batang
otak, dan system syaraf otonom.
Terapi Sholat
DR. Aidh al-Qarni menulis dalam bukunya yang berjudul
LA TAHZAN (JANGAN BERSEDIH!) : “Wahai orang-orang yang beriman,
mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.
Sesungguhnya Allah
beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153). Jika
Rasulullah ditimpa sebuah ketakutan, maka dia akan segera
melakukan shalat. Pernah dia berkata kepada Bilal, “Wahai
Bilal, tentramkan (hati) kita dengan shalat! Pada kali lain
beliau bersabda, “Ketenanganku ada pada shalat”. Jika hati
terasa menyesak, masalah yang dihadapi terasa sangat rumit,
dan tipu muslihat sangat banyak, maka bersegeralah datang ke
tempat shalat, dan shalatlah. Jika hari-hari menjadi gelap
gulita, malam-malam mencekam, dan kawan-kawan berpaling, maka
lakukanlah shalat.
Dr. Alexis Carel, seorang Pemenang hadiah nobel dalam bidang
kedokteran, dan Direktur riset Rockfeller Foundation Amerika,
memberikan pernyataan sebagai berikut: “Sholat memunculkan Aktifitas
pada perangkat
tubuh dan anggota tubuh. Bahkan sebagai sumber aktifitas terbesar
yang dikenal sampai saat ini. Sebagai seorang dokter, saya melihat
banyak pasien yang gagal dalam pengobatan, dan dokter tidak mampu
mengobatinya. Lalu, ketika pasien-pasien membiasakan Sholat, justru
penyakit mereka hilang. Sesungguhnya Sholat bagaikan tambang Radium
yang menyalurkan sinar dan melahirkan kekuatan diri. Sholat
menciptakan fenomena yang mencengangkan, mendatangkan Mukjizat”.
Semua gerakan, sikap dan prilaku dalam Sholat dapat melemaskan otot
yang kaku, mengendorkan tegangan system syaraf, menata dan
mengkonstruksi persendian tubuh, sehingga mampu mengurangi (atau
bahkan menghilangkan) stress, kekejangan, rheumatik, pegal-linu,
encok, dan semua penyakit syaraf dan persendian lainnya. Sholat juga
merupakan terapi psikis yang bersifat kuratif, preventif, dan
konstruktif sekaligus. Kebersihan dalam sholat merupakan proses
untuk mencapai kesehatan, sedangkan kesehatan merupakan hasil dari
kebersihan. Karena itu, sholat merupakan terapi bagi penyakit
manusia, baik penyakit fisik maupun psikis.
Joe H. Slate, Ph.D (psikolog berlisensi, profesor, dan
pendiri Parapsychology Research Foundation), dalam bukunya yang
berjudul Energi Aura ”memanfaatkan energi aura untuk menjaga
kesehatan dan meraih keberhasilan karier”, menulis : Tahap
intervensi menyeluruh merupakan strategi pemberdayaan diri yang
terstruktur yang memanfaatkan relaksasi fisik, pembayangan mental,
dan ucapan-ucapan positif untuk menyuntik aura dengan energi yang
dahsyat. Untuk tujuan perbandingan, tahapan tersebut mencakup
melihat aura ”sebelum dan sesudahnya”. Tahapan itu memperkenalkan
teknik-teknik khusus yang dirancang untuk menciptakan kondisi
mental, fisik, dan spiritual yang sepenuhnya yang, pada gilirannya,
memberi tenaga padaaura. Tahapan puncak adalah memberi peneguhan
yang kuat mengenai kesejahteraan. Tahapan dapat dilengakpi dengan
teknik-teknik yang berkaitan dengan sasaran-sasaran terntentu,
seperti membuang kebiasaan yang tidak dikehendaki, mengatasi
stres, atau meraih sukses dalam tugas tertentu.
H.M Taufik Djafri dalam bukunya yang berjudul ”Menikmati
Keindahan Allah melalui logika dan tandatanda”, menulis : Baiklah,
karena kita belum punya sebutan lain kecuali cahaya, maka katakanlah
shalat yang diperintahkan oleh Allah sebagai kewajiban kaum muslimin
tersebut, didapat dengan melalui kendaraan cahaya Allah. Karena
perintah shalat terkait erat dengan cahaya sebagai kendaraan rasul
ketika menuju Sidratul Muntaha, maka orang yang melakukan shalat
dengan khusyu’ di mana yang menghadap Allah bukan sekedar jasmaninya
saja, tetapi pada saat ia mengucapkan takbiratul ihram, pada saat
itu juga ruhnya melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi menemui
Allah rabbul ’alamin, maka jika ia melakukan shalat yang demikian
itu pasti ia akan ”mencahaya”. Mukanya menjadi bercahaya,
pandangannya bercahaya, tutur katanya bercahaya, perbuatannya
bercahaya, dan hatinya juga bercahaya. Ia selalu ramah pada orang
lain karena hatinya tawadhu’ akan kebesaran Allah, hidupnya penuh
dengan kedamaian, tak pernah dengki dan hasut terhadap orang lain.
Kata Allah dalam al-Qur’an surat al-An kabut: 45, artinya,
”Sesungguhnya shalat (yang khusyu’) itu mencegah dari perbuatan keji
dan munkar”. Cahaya adalah sesuatu ciptaan Allah yang mempunyai
kecepatan tertinggi dalam dunia ini. Orang yang ahli shalat, di
dalam dirinya berkumpul cahaya demi cahaya (di sekitar tubuhnya, di
wajahnya, dalam perkataannya, dalam pendengarannya, dalam
pandangannya, dan dalam hatinya). Mengapa hal ini bisa terjadi?
Salah satu alasan yang mungkin rasional adalah karena adanya
gerakan-gerakan shalat seperti yang dicontohkan rasulullah SAW. (mari
kita lihat gerakan orang shalat). Semua gerakan shalat dibarengi
dengan kalimat Allahu Akbar (Allah Maha Besar), kecuali gerakan
i’tidal (bangun dari rukuk) dan gerakan penutup shalat yaitu dengan
ucapan Salam. Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa do’a itu adalah
kekuatan dan do’a itu adalah energi. Padahal, setiap ucapan dalam
shalat kita adalah do’a. Sehingga, sangat gampang dimengerti bahwa
orang yang sedang melakukan shalat dengan khusyuk, seperti halnya ia
membangun dan membentuk kekuatan/energi dalam tubuhnya (terlebih
lagi dalam qalbunya)
Dalam kata pengantar pada bukunya yang berjudul ‘Mukjizat gerakan
Sholat untuk pencegahan dan pengobatan penyakit’, Dr. Sagiran M. Kes
menulis: “Apabila doa (ucapan, pikiran) saja sudah mempunyai efek
penyembuhan yang begitu nyata, bagaimana dengan sholatnya orang
muslim, yang memadukan antara kebersihan fisik / mental (Wudhu),
bacaan Sholat (do’a-do’a dan konsentrasi pikiran) dan gerakan
anggota badan yang unik dan khas? ibarat perincian resep, bukankah
ini bisa menjadi suatu formula yang holistik, komprehensif, terpilih,
jelas manfaatnya, bebas efek samping, terjangkau, praktis, dan
sebagainya. Mengapa orang keberatan mengkaji Sholat secara ilmiah?
Tentang pengaruh sholat dalam menenangkan ketegangan syaraf akibat
insomnia, Dr. Thomas Heslubb menyatakan : “Faktor terpenting untuk
bisa tidur, yang saya ketahui melalui pengalaman dan eksperimen
selama beberapa tahun adalah dengan cara melakukan “Sholat”. Saya
katakan hal ini dalam kapasitas saya sebagai dokter. Sholat adalah
cara paling baik untuk mendapatkan ketenangan jiwa dan menenangkan
syaraf, sepanjang yang saya ketahui sampai saat ini. Sholat memiliki
pengaruh pada perangkat syaraf manusia. Karena menghilangkan
ketegangan dan menenangkan pergolakan syaraf sehingga sholat
dianggap sebagai pengobatan yang manjur pada penyakit insomnia”.
Menurut penelitian, ada pembuluh darah yang hanya bisa diisi kembali
dengan gerakan sujud! ketika bersujud, kita menekan titik pijat
untuk otak pada ujung ibu jari kaki sehingga aliran darah di otak
kita mengalir dengan lancar dan pikiran kita pun terang. Ketika
sujud, kita pun menekan titik anti tegang/gelisah yang terletak di
pangkal telapak tangan. Selain itu, sholat telah mencakup Yoga,
Hydrotherapy (Wudhu), Meditasi, Relaxation Therapy, Aroma Therapy,
Dzikir, Do’a, Olah raga, Koex system, dan lain-lain.
Menurut analisis ilmiah tentang waktu-waktu sholat yang dilakukan
oleh Dr. Zahir Qarami, memberikan sesuatu yang sangat berharga
kepada kita, berupa hasil analisis medis seputar sholat ashar.
Beliau menyatakan bahwa sholat ashar dapat menghindarkan seseorang
dari beberapa penyakit jiwa dan fisik. Dr. Zahir Qarami yang
merupakan salah seorang peneliti dalam bidang kemu’jizatan medis Al-Qur’an
dan As- Sunnah, menegaskan bahwa sholat Ashar menurunkan Hormon
Adrenaline yang memuncak produksinya pada batas antara jam 3 sampai
jam 4, yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Dalam
penelitiannya, beliau menemukan kenyataan bahwa ketika manusia
menghadapi kesulitan, dan tidak melakukan gerakan dan reaksi fisik,
maka hal itu dapat menimbulkan penyakit jiwa dan fisik karena
pengaruh meningkatnya Hormon Adrenaline secara terus menerus. Masih
menurut Qarami, sesungguhnya meninggalkan Sholat Ashar pada waktunya
dapat menimbulkan beberapa penyakit jiwa dan fisik seperti; tekanan
darah, syaraf jantung, kegemukan, lemah syahwat, keguguran, kelenjar
thyroid, kesulitan datang bulan, migren, katarak, dan sebagainya.
Lebih lanjut Qarami yang kelahiran Tunis, juga menyatakan dalam
studinya, “Dari studi yang saya lakukan menunjukkan bahwa, Sholat
Ashar dapat menyembuhkan berbagai penyakit modern”
“Shalat itu menuntun kita menuju kebenaran, karena kebenaran itu
sangat indah dan menakjubkan” (Armis, 2003) * Prof. dr. H. Armis,
Sp. B, Sp. OT, FICS, adalah Dokter Spesialis Bedah Orthopedi Guru
Besar Ilmu Kedokteran pada Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta.
|
|
|