Nafsu yang tidak terkendali menyebabkan
penyakit yang mengacaukan system syaraf karena dapat mengalahkan
pertimbangan rasional. Menyalurkan nafsu syahwat sembarangan dapat
mendatangkan penyakit. Perasaan berdosa pun akan mengacaukan system
syaraf. Makin besar dosa, diyakini akan menyebabkan kerusakan yang
makin hebat. Jadi, dosa akan menyebabkan kerusakan organ tubuh kita
walau secara tidak langsung. Dosa yang tidak terampuni mengakibatkan
kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Kalau ditelusuri makin dalam,
ujung-ujungnya, semua penyakit mulanya diakibatkan oleh dosa. Dosa
menjadikan jiwa seorang hamba liar dan bingung, tidak menjadikan
tentram pada dirinya dan masyarakat di mana dia hidup. Keliaran jiwa
yang diakibatkan oleh maksiat menjadikan seseorang asing dengan
keluarganya. Manakala kemaksiatan bertambah, maka akan mempengaruhi
jiwa manusia, lalu ia merasa asing pada jiwanya sendiri, sebab jiwa
diciptakan sesuai dengan fitrah. Fitrah merasa tentram bila menempuh
hidup yang sehat dan lurus. Barangsiapa yang mengikuti hawa nafsu,
maka ia akan menodai dan merusak fitrahnya. Sementara menentang dan
mengendalikan nafsu merupakan solusi dan obat penenang jiwa. Nafsu
diciptakan dalam keadaan bodoh dan gelap. Karena kebodohan, nafsu
mengira bahwa kunci kebahagiaan adalah mengikuti hawa nafsu, padahal
mengikuti hawa nafsu adalah sumber kerusakan jiwa. Mengikuti hawa
nafsu akan menyebabkan penyesalan. Setiap penyesalan adalah kedukaan
dan kesedihan. Dosa adalah penyakit (Psikopatologi), sedang obat (psikoterapi)
nya adalah taubat .
M.Y.T menulis: “Agar Dia menjadikan apa yang
dimasukkan oleh setan itu sebagai cobaan (kegelisahan, penderitaan,
keputusasaan, kemarahan, kehinaan, kebingungan, rasa malu, dsb) bagi
orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar
hatinya” (QS. Al-Hajj : 53) ”Setan telah menguasai mereka, lalu
menjadikan mereka lupa mengingat Allah. Mereka itulah golongan setan.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah yang merugi.”
(QS. Al-Mujadilah : 19) ”Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras
seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu
itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan
diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari
padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena
takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa
yang kamu kerjakan (Al-Qur’an). ”Dan barangsiapa yang berpaling dari
peringatan-KU, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”
(QS. Thaha : 124) ”Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang
membuatnya payah” (QS. Al-Muddatstsir : 17)
Pada akhirnya kita akan sadar, mengikuti setan
membuat hati kita hampa, gersang, gelisah, muak, dan sebagainya.
Jika kita tidak kembali ke agama, perasaan ini akan dijadikan alasan
oleh setan agar kita bunuh diri. Dari sini kita tahu, pada
hakikatnya setan turut mengajak manusia agar kembali ke agama dengan
caranya. Bahwa jika manusia ingin sukses, bahagia, selamat dari
siksaan setan, tentram, dan sebagainya, kembalilah ke Agama. Setan
pun turut menghinakan orang-orang yang kafir dengan sebenar-benarnya
penghinaan. Mungkin setan merasa terkutuk, padahal -menurut saya-
mereka sama mulianya dengan malaikat. Hanya saja malaikat
menggunakan jalur kanan (kebaikan, kedamaian, kasih sayang, dsb)
sedangkan setan jalur kiri (keburukan, kekacauan, kebencian, dsb)
dengan tujuan yang sama; mengarahkan manusia kembali ke agama.
Andaikan setan tidak dalam keadaan mabuk, mungkin mereka akan
menangis terharu mengetahui hal ini. Namun bisa jadi setelah
mengetahui hal ini, mereka akan jauh lebih menyengsarakan orang
kafir sebagai cara mereka beribadah kepada Allah.
Akhirnya kita sadar, bahwa Allah menggerakan
semua makhluk untuk melayani manusia dan manusia diciptakan untuk
beribadah kepada Allah. Manusia dihormati karena betapa lemahnya
mereka. Jika Allah tidak memerintahkan semua makhluk untuk
menghormati manusia, tentu dari dulu kita sudah punah. Semut yang
kita injak tanpa sedikit pun rasa bersalah akan membalas dendam dan
kita pasti ketakutan. Burung-burung yang kita tembak akan memanggil
seluruh teman-temannya untuk melakukan pembalasan. Tikus-tikus putih
yang disiksa dan dijadikan korban eksperimen, akan marah dan
memanggil ratusan juta tikus untuk membunuh kita. Membayangkannya
saja sudah cukup membuat nyali kita menciut!. Penting diingat,
berapa jumlah unggas yang kita bakar hidup-hidup terkait wabah Flu
burung? Betapa manusia itu makhluk yang sangat biadab! Tentunya jika
tidak ada perintah menghormati manusia, mahkluk Tuhan yang lain akan
membantai kita.
M.Y.T pun menjelaskan bahwa Tipudaya dan
perangkap setan untuk menghancurkan hidup manusia ada di mana-mana
namun tipudaya dan perangkap mereka hanya bisa menjerat orang yang
tidak mengikuti petunjuk
Allah dan menjauhi larangan-NYA. orang yang baik, taat beribadah,
dan beriman tidak ada yang suka masuk diskotik, tidak suka musik,
Pub, dan tempat maksiat lainnya yang penuh dengan tipu daya dan
perangkap agar
hidup kita hancur. Orang yang patuh terhadap ajaran agama Islam akan
selamat dari tipu daya apapun; bahkan saya berpendapat bahwa dunia
ini-terutama abad sekarang- adalah neraka bagi orang-orang yang
tidak beriman dan surga bagi orang beriman. Orang yang beriman hidup
tentram, fisik & psikis sehat- jika sakit pun merupakan penggugur
dosa, dan sebagainya sedangkan sabar dan syukur merupakan cara yang
tepat untuk dijadikan solusi . Orang kafir hidup resah, fisik &
psikis error, penuh dengan ketakutan, penderitaan, takut miskin,
tidak sabar, tidak pernah merasa puas, takut mati, diliputi oleh
tipudaya; bahkan tidak dapat menikmati makanannya karena setan
membuat pikirannya melayang-layang kesana-kemari- ingat ini ingat
itu-, tergesagesa ketika sedang makan dan sebagainya. Mengeluh,
putus asa, marah, menjadikan penderitaannya semakin berlipat ganda.
Kebanyakan orang-orang memahami bahwa setan
hanya menghancurkan kesuksesan akhirat manusia padahal-menurut
pendapat saya- segala yang bisa menjadikan manusia sukses, sehat,
bahagia, tentram, berprestasi, dan lain sebagainya baik di dunia
maupun di akhirat akan setan hancurkan sekali pun menggapai
kesuksesan dan kebahagiaan di jalan yang tidak diridhai Tuhan.
Contohnya seorang musisi yang telah bersusah payah membangun karir
selama 30 tahun reputasinya hancur dan dipenjara akibat mengkonsumsi
narkoba. Atau, banyak sekali group musik yang bubar karena
perselisihan antar anggota; bahkan tidak sedikit yang bunuh diri.
”Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.
Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia” (QS.
Al-Isra : 53). Perlu kita ingat bahwa keributan lebih sering terjadi
di tempat maksiat antar pelaku maksiat, bukan di tempat ibadah.
Wallahu a’lam. Dalam bukunya yang berjudul “Ilmu Jiwa Agama”, Prof.
DR. Zakiah Daradjat, menulis: “Rupanya orangorang yang gelisah, yang
di dalam dirinya bertarung berbagai macam persoalan, yang
kadang-kadang dia merasa tidak berdaya menghadapi persoalan atau
problema itu mudah mengalami konversi Agama.
Di antara ketegangan batin yang dirasakan
orang, ialah tidak mampunya ia mematuhi nilai-nilai moral dan Agama
dalam hidupnya. Ia tahu bahwa yang salah itu salah, akan tetapi ia
tidak mampu menghindarkan dirinya dari berbuat salah itu, dan ia
tahu mana yang benar, akan tetapi tidak mampu berbuat benar. Itulah
sebabnya maka kadang-kadang kita mendengar seorang penjahat besar,
pencuri, perampok dan pelanggar susila, memberi nasihat, seolah-olah
ia orang yang betul-betul baik. Dan tidak jarang pula kita melihat
Pemain-pemain Judi dan wanita pelanggar hukum, yang dengan segala
dalih dan alasan menentang ajaran Agama, mengejek Pemimpin-pemimpin,
bahkan berusaha mencelakakan mereka. orang-orang itu kadang-kadang
sadar bahwa dalam dirinya sedang berkecamuk aneka persoalan yang tak
dapat dihadapinya, tapi banyak juga yang tidak sadar, bahwa dalam
dirinya ada konflik yang terpendam di alam ketidaksadarannya.
Sesungguhnya dalam literature barat pun, kita
menemukan adanya konversi Agama yang mendalam, seperti yang
dikemukakan oleh William James, dalam bukunya “The Varietes of
Religious Experience” beberapa contoh seperti kasus Stephen H.
Brodhy, Joseph Aline dan lain-lainnya, yang berubah dari acuh tak
acuh terhadap Agama, menjadi Penganjur yang ulet. Di samping itu
sering pula terasa ketegangan batin, yang memukul jiwa, merasa tidak
tentram, gelisah, yang kadang-kadang terasa ada sebabnya dan
kadang-kadang tidak diketahui.
Belakangan ini tidak sedikit orang yang merasa
gelisah dan sangat cemas oleh kegoncangan suasana keluarga, hubungan
suami dan istri menjadi retak dan pecah, karena salah satunya tidak
setia dan ada yang disebabkan karena putus asa dalam mendidik anak,
serta banyak lagi kekecewaan-kekecewaan yang menyebabkan jiwa
tertekan dan kadang-kadang menjadi kebingungan tidak tentu apa yang
akan dilakukan. Dalam kepanikan atau kegoncangan jiwa itulah
kadang-kadang orang terangsang melihat orang sembahyang, atau
kebetulan mendengar uraian Agama yang seolah-olah tepat menjadi
penyelesai dari problema yang dihadapinya. Dalam bingung haus akan
ketentraman batin terdengar adzan shubuh mengalun di udara, hatinya
merasa tertarik, ingin merasa tentram, merasa diampuni dan dirangkul
oleh kasih sayang Allah SWT”.
Ibnul Qayyim : ” Bisa jadi pengetahuan
manusia tentang ilmu telah sempurna. Tetapi tidak cukup hanya dengan
ilmu pengetahuan saja. Ada syarat lainnya; yaitu hati harus bersih
sehingga siap menerima kebenaran. Keadaan hati manusia, apabila
banyak berbuat dosa dan maksiat, hatinya menjadi kotor. Setiap
melakukan perbuatan maksiat, hatinya akan ternoda dengan noda hitam.
Bila ia berbuat maksiat lagi, maka akan bertambah lagi noda hitamnya
tersebut, dan begitu seterusnya, sehingga hatinya menjadi pekat,
sehingga ia tidak lagi bisa membedakan antara kebenaran dan
kebathilan. Karena hati yang kotor akan senantiasa menuruti syahwat
dan hawa nafsunya. Oleh karena itu hati harus senantiasa dibersihkan
dengan banyak istighfar, meninggalkan maksiat, beramal shalih,
sehingga hati kita menjadi bersih dan lapang dalam menerima
kebenaran”.
Siapa saja yang membaca, menghayati, dan
mendalami sejarah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. dengan seksama
dan menyeluruh, maka ia akan mengetahui bahwa beliau diturunkan ke
dunia ini untuk menghancurkan kebatilan, mengusir kesuntukan,
kegelisahan, kesedihan dan kecemasan, serta membebaskan jiwa dari
tekanan keragu-raguan, kebingungan, kegundahan dan keguncangan.
Bersamaan dengan itu, beliau juga diutus untuk menyelamatkan jiwa
manusia dari segala bentuk hawa nafsu yang membinasakan. Maka
begitulah, betapa banyaknya karunia Allah yang telah dianugerahkan
kepada manusia.