|
Terapi Menjalani Islam Secara Kaffah baik
Sukarela maupun terpaksa demi kesehatan dan kesuksesan
Larangan-larangan agama bila dijauhi dan
dihindari oleh manusia, niscaya ia akan selamat dan terhindar dari
kecelakaan serta kerugian. Perintah-perintah Agama merupakan obat
penyembuhan. Sedangkan larangan larangan agama merupakan pencegahan
dari penyakit. Firman Allah SWT. : katakanlah, “Hai Manusia,
sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu (Al-qur’an) dari
Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka
sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan
barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatan itu mencelakakan
dirinya sendiri”.
Iman dan Amal Sholih adalah gaya hidup sehat
terbaik, dan hanya ini satu-satunya jalan selamat. Semakin rusak
sistem kekebalan tubuh kita, semakin butuh Iman dan Amal sholih
terutama di jaman yang kini penuh dengan ancaman bagi kesehatan.
Menomor satukan pendidikan Iman dan amal sholih kepada anak kita,
berarti kita membekali anak kita dengan bekal yang akan menjaganya
di masa depan, masa yang lebih parah dari sekarang. Hanya petunjuk
Allah dan Rosulnya yang dapat kita yakini kebenarannya 100 % dan
kita tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada Al-qur’an dan
Hadist.
Allah SWT berfirman : Katakanlah: "Hai
hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari kasih sayang Allah. Sesungguhnya
Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu,
dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu
kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik
apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab
kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya”.
Mari kita saling mengingatkan untuk
melanjutkan hidup dengan Iman dan Amal Sholih selagi masih dapat
ditolong sebelum menderita penyakit yang lebih parah, sebelum
Narkoba menghancurkan segalanya, sebelum terkena infeksi
Oportunistik, sebelum Musibah yang lebih dahsyat melanda, sebelum
ajal tiba.
M.Y.T menulis : Dalam hukum Islam, orang yang
mencuri dipotong tangannya. Rasa iba yang bersumber dari bisikan
setanlah yang merasa bahwa itu merupakan hukuman yang tidak
manusiawi. Akhirnya kasus pencurian ada di mana-mana dan orang yang
tidak menyetujui hukuman potong tangan tersebut pun hidup dalam
ketakutan ketika di sekelilingnya tidak ada lagi ketentraman.
Terlebih ketika hartanya dicuri orang, dia lapor Polisi agar si
pencuri dihukum seberat mungkin yang jika dibandingkan, lebih berat
dari hukuman potong tangan; bahkan senang mendengar si pencuri
dibakar massa atau mati ditembak polisi.
Begitu pula anak gadis harus segera dinikahkan.
Orang-orang yang tidak mengerti memandangnya sebagai hal yang tidak
baik sampai-sampai mereka mempropagandakan pandangan keliru mereka
melalui lagu dan sinetron Pernikahan dini. Akhirnya ketika anak
gadisnya hamil di luar nikah, para orang tua tertunduk malu dan
menangis sedih membayangkan kehancuran masa depan anaknya.
Johanes Lim, Ph.D menulis dalam No Pain No
Gain ‘Metode Sukses Pribadi dalam studi, karier, dan bisnis’ :
Paling bagus adalah jika hukum mau menindak pelaku kejahatan dengan
hukuman berat agar mereka kapok, dan itu bisa mencegah niat orang
untuk berbuat jahat. Sebab jika hukumannya ringan - apalagi jika
bebas dengan sogokan uang - akan memicu orang untuk berbuat
kejahatan lagi!”.
Sementara itu Daniel Goleman Ph.D dalam
bukunya yang berjudul Emotional Intelligence, mengomentari masalah
ini. Beliau menulis : Selama sepuluh tahun terakhir, orang telah
memaklumkan ”perang” secara bergiliran: perang terhadap kehamilan
remaja, perang terhadap putus sekolah, perang terhadap narkotika,
dan yang paling akhir perang melawan tindak kekerasan. Namun,
kesulitannya adalah perang itu datangnya terlambat, setelah mewabah
dan berakar kuat dalam kehidupan anak muda. Perang itu cuma campur
tangan darurat, sama saja dengan menyelesaikan masalah mengirim
ambulans untuk menyelamatkan, bukannya lebih dulu memberi vaksinasi
yang dapat mengusir penyakit. Daripada memaklumkan lebih banyak ”perang”
semacam itu, yang sekarang kita butuhkan adalah mengikuti logika
pencegahan, dengan memberikan anak kita keterampilan menghadapi
kehidupan sehingga meningkatkan peluang mereka menjauhi setiap dan
semua takdir kehidupan ini”.
Terapi Melihat Kepada Orang yang berada di
Bawah
Rasulullah SAW. Bersabda : “Lihatlah orang
yang berada di bawah kalian, jangan melihat orang yang berada di
atas kalian, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak
meremehkan nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kalian” (HR.Bukhari
dan Muslim). Jika seorang hamba memfokuskan pandangannya pada hal
ini, niscaya dia akan melihat bahwa dirinya mengungguli orang lain
dalam banyak hal, seperti kesehatan, rizki dan yang lainnya.
bagaimanapun keadaan dirinya, Maka akan hilanglah kegelisahan, duka
cita, dan Kesedihan, serta akan bertambah kegembiraan dan suka cita
atas nikmat-nikmat Allah yang dia lebih unggul dari orang lain yang
berada di bawahnya.
Terapi Menyebarkan Salam
Sesungguhnya salam itu merupakan sunnah
terdahulu sejak zaman Nabi Adam ‘alaihi salam hingga hari kiamat,
dan salam merupakan ucapannya para penghuni surga, Dan ucapan mereka
di dalamnya adalah salam. Salam merupakan sunnahnya para Nabi,
tabiatnya orang-orang yang bertakwa dan semboyannya orang-orang yang
suci. Namun, dewasa ini, sungguh telah terjadi kekejian yang nyata
dan perpecahan yang terang di tengah-tengah kaum muslimin! jikalau
engkau melihat mereka, ada saudaranya semuslim yang melintasinya,
mereka tidak mengucapkan salam padanya. Sebagian lagi hanya
mengucapkan salam hanya pada orang yang dikenalnya saja, bahkan
mereka merasa aneh ketika ada orang yang tak dikenalnya menyalaminya,
mereka mengingkarinya dengan sembari menyatakan “Apakah anda
mengenal saya?”.
Padahal yang demikian ini merupakan
penyelisihan terhadap perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
sallam, sehingga menyebabkan semakin menjauhnya hati-hati mereka,
semakin merebaknya perangai-perangai kasar dan semakin bertambahnya
perpecahan. Bersabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah
kalian akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian
dikatakan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku
tunjukkan kepada sesuatu yang jika kalian mengamalkannya niscaya
kalian akan saling mencintai, yaitu tebarkan salam di antara
kalian.” (HR Muslim).
Dalam hadits Muttafaq ‘alaihi, ada seorang
lelaki bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam,
“Islam bagaimanakah yang baik?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab, “Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang
yang kau kenal maupun yang tak kaukenal.” (Muttafaq ‘alaihi). Maka
yang demikian ini merupakan suatu anjuran untuk menyebarkan salam di
tengah-tengah kaum muslimin, dan bahwasanya salam itu tidaklah
terbatas pada orang yang engkau kenal dan sahabat-sahabatmu saja,
namun untuk keseluruhan kaum muslimin.
Adalah Abdullah Ibnu 'Umar Radhiallahu ‘anhu
pergi ke pasar pada pagi hari dan berkata : “Sesungguhnya kami pergi
bertolak pada pagi hari adalah untuk menyebarkan salam, maka kami
mengucapkan salam kepada siapa saja yang kami jumpai.”
Salam itu menunjukkan ketawadhu’an seorang
muslim, ia juga menunjukkan kecintaan kepada saudaranya yang lain.
Salam menggambarkan akan kebersihan hatinya dari dengki, dendam,
kebencian, kesombongan dan rasa memandang rendah orang lain. Salam
merupakan hak kaum muslimin antara satu dengan lainnya, ia merupakan
sebab dicapainya rasa saling mengenal, bertautnya hati dan
bertambahnya rasa kasih sayang serta kecintaan. Ia juga merupakan
sebab diperolehnya kebaikan dan sebab seseorang masuk surga.
Menyebarkan salam adalah salah satu bentuk menghidupkan sunnah
Mustofa Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Terapi Mengakui Kelemahan
Manusia adalah makhluk yang memiliki banyak
kelemahan dan harus selalu terus-menerus berusaha untuk mengatasi
kelemahan tersebut. Adanya penyakit yang diderita manusia adalah
gambaran paling jelas tentang kelemahan tersebut. Oleh karenanya,
ketika seseorang atau sahabatnya jatuh sakit, ia hendaknya berpikir
tentang makna yang terkandung dari musibah ini. Ketika sedang
berpikir, ia memahami bahwa flu yang dianggap sebagai penyakit yang
biasa pun memiliki pelajaran-pelajaran yang darinya manusia dapat
mengambil hikmah ataupun peringatan. Ketika terjangkiti penyakit
tersebut, ia memikirkan hal-hal seperti: pertama, penyebab utama flu
adalah virus yang teramat kecil untuk dilihat dengan mata telanjang.
Akan tetapi, makhluk yang kecil ini sudah cukup untuk membuat
manusia yang bobotnya 60-70 kg menjadi kehilangan kekuatan,
membuatnya sedemikian lemah sehingga tak mampu berjalan ataupun
berbicara sekalipun. Seringkali obat atau makanan yang ia makan
tidak membantu meringankan penderitaannya. Satu-satunya yang dapat
ia lakukan adalah beristirahat dan menunggu. Dalam tubuhnya,
berlangsung sebuah peperangan yang ia tak pernah mampu untuk campur
tangan, dengan kata lain ia dibuat lumpuh tak berdaya melawan
organisme yang sangat kecil. Dalam keadaan yang demikian, ia
hendaknya mengingat ayat Allah:
"(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang
menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum
kepadaku,
dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan
mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang
amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat".
(Ibrahim berdo'a): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan
masukkanlah aku ke dalam golongan orangorang yang saleh". (QS.
Asy-Syu'araa, 26: 78-83)
Seseorang yang terjangkiti penyakit apapun
hendaknya membandingkan sikapnya ketika sehat dan setelah pulih dari
sakit, kemudian berpikir tentang hal tersebut. Seharusnya ia
menyadari keadaanya yang lemah ketika sakit, perasaan ketergantungan
kepada Allah yang sangat. Hal ini tercermin, misalnya, dalam
keikhlasan dan kekhusu'annya ketika berdoa kepada Allah menjelang
dioperasi.
Sebaliknya, ketika mengetahui orang lain
sedang menderita sakit, ia hendaknya segera bersyukur kepada Allah
sambil berpikir tentang keadaannya yang sehat. Manakala melihat
orang yang cacat kaki, misalnya, orang beriman memikirkan bahwa
kakinya adalah nikmat yang sangat besar dan penting bagi dirinya. Ia
memahami bahwa kemampuannya untuk berjalan atau berlari ke manapun
serta melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain sejak bangun
tidur di pagi hari adalah nikmat dari Allah. Dengan membuat
perbandingan seperti ini, ia akan lebih memahami besarnya nikmat
yang telah didapatkannya.
Terapi Meminta Maaf, Memaafkan, dan Saling
Memaafkan
Siapapun akan mengakui bahwa Meminta Maaf,
Memaafkan, dan Saling memaafkan dapat menjadi suatu terapi yang
sangat mendasar. Dalam Islam Therapy, orang yang tidak bisa
melaksanakan Terapi mendasar ini berarti tergolong menderita
psikopatologi yang sangat parah, keras hati, gelisah, durhaka,
sombong, indikator kerusakan organ tubuh; sumber mencuatnya banyak
masalah baik pada diri sendiri maupun orang lain. Meminta maaf dapat
menenangkan jiwa, membuat orang lain merasa dihargai, dan lain
sebagainya.
Memaafkan diri sendiri dapat meredam ingatan
terhadap kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi, sedang terjadi dan
akan terjadi yang rentan akan timbulnya berbagai bentuk
psikopatologi. Memaafkan orang lain dapat menghilangkan
psikopatologi dalam diri seperti menginginkan orang lain harus
berlaku sesuai dengan keinginan kita, menuntut kesempurnaan pada
orang lain, angkuh dan kekeraskepalaan, dan lain sebagainya.
Sedangkan saling memaafkan dapat menyelesaikan semua masalah antara
seseorang dengan orang lain, dapat menyatukan kembali hati yang
saling membenci, menghapus kesalahan, mewujudkan dunia yang damai
dan penuh cinta, semakin mempererat rasa persatuan, ketentraman hati
bagi kedua belah pihak, menghancurkan berbagai bentuk psikopatologi,
dan lain sebagainya.
Meminta maaflah, maafkanlah, dan saling
memaafkanlah karena Saya, Anda, kita, Mereka, Orang tua kita,
Teman-teman kita, Presiden, Wakil Rakyat, Pejabat, TNI, Aparat
kepolisian, Ulama, Pecandu Narkoba, dan lainlain walau bagaimanapun
hanya manusia biasa yang tak bisa luput dari kesalahan, kekurangan,
ketidakmampuan, memiliki keterbatasan, mempunyai emosi, mempunyai
pendapat dan keinginan pribadi, mustahil bisa berbuat sesuai
keinginan semua orang, mustahil bisa membahagiakan semua orang,
mustahil mengetahui segala hal, mustahil memiliki segalanya,
mustahil mempelajari semuanya, akan selalu ada yang kita kecewakan,
masing-masing memiliki masalah yang harus diselesaikan dan terkadang
dengan terpaksa menyakiti orang lain, dan lain sebagainya. Apabila
di sekitar Anda ada yang berperilaku buruk, pertimbangkanlah tentang
adanya psikopatologi dan kelainan fungsi organ pada orang tersebut.
Bantulah orang tersebut baik secara moril maupun materil sampai
pulih dan jika tidak bisa, maka bantulah dengan tidak menghinanya,
membicarakannya, mendo’akan keburukan untuknya, apalagi mengutuknya
karena cara-cara seperti ini akan membantu setan membinasakan orang
tersebut.
Richard Carlson, Ph.D menulis dalam
bukunya yang berjudul Don’t Sweat The Small Stuff at Work (jangan
memusingkan masalah kecil di tempat kerja) “Cara Mudah Mengurangi
Stres dan Konflik Sekaligus meningkatkan prestasi diri dalam
pekerjaan” : Kita manusia, dan menjadi manusia berarti dapat berbuat
salah, paling tidak sesekali. Dalam hidup ini Anda akan melakukan
banyak kekeliruan, membuat kacau, kehilangan arah, melupakan sesuatu,
naik pitam, mengatakan yang tidak pantas, dan masih banyak lagi.
Saya tidak pernah mengerti mengapa kenyataan sederhana dalam hidup
ini-kecenderungan untuk berbuat keliru-dianggap sangat mengagetkan
atau mengecewakan oleh banyak orang. Saya jelas tidak mengerti
mengapa itu dijadikan masalah besar. Bagi saya, salah satu
kekeliruan yang paling menyedihkan adalah tidak adanya maaf,
terutama bagi diri sendiri. Kita terus mengingat-ingat kegagalan dan
kekeliruan kita di masa lampau. Kita mengantisipasi
kesalahan-kesalahan di masa mendatang. Kita sangat kritis kepada
diri sendiri, sering merasa kecewa, dan tidak berperasaan ketika
harus menghakimi diri sendiri. Kita mengutuk dan menyalahkan diri
sendiri, juga sering menjadikannya musuh yang paling jahat. Saya
merasa bahwa tidak bersedia memaafkan diri sendiri adalah perbuatan
tolol dan konyol. Hidup tidaklah hadir lengkap dengan buku petunjuk
yang langsung terbukti kebenarannya. Kebanyakan di antara kita
mengusahakan yang terbaik semampu kita - sungguh. Akan tetapi kita
tidak sempurna. Sesungguhnya, kita semua berusaha. Kita belajar dari
kesalahan-kesalahan dan dari kegagalan-kegagalan.
|